Tulisan Ilmiah

MERAWAT SERIBU HARI EMAS: mengemas gaya hidup Sehat (Dibacakan dalam pertemuan “Early Life Nutrition”, 2 November 2013)

Seselesai pembuahan, hitungan mundur seribu hari pun dimulai. Pada titik ini, langkah emas seribu hari itu terbebankan pada wanita hamil, tempat para janin menumpang hidup. Tugas wanita menjadi “lebih berat” ketimbang sebelumnya: mereka mesti berperilaku sehat agar janin bisa tumbuh sempurna hingga kemudian meneruskan kehidupan baru sebagai bayi yang, tentu saja, diharapkan terus berlanjut sampai usia dua tahun. Dua fase kehidupan ini dipahami sebagai masa kritis untuk menumbuhkan peyakit degeneratif, pada periode kehidupan berikutnya. Gangguan perkembangan semasa janin akibat gizi salah ibu akan berakibat sebagai perubahan metabolik menetap, yang membuahkan serangkaian penyakit degeneratif di usia dewasa.

            Seribu hari kehidupan menjadi penting karena dalam rentang waktu inilah upaya pencegahan (kemungkinan) penyakit degeneratif memperoleh ruang dan waktu. Keberhasilan menyeimbangkan asupan zat gizi terbaca pada pola pertambahan berat badan ibu, masing-masing pada trimester pertama, kedua, dan ketiga; dengan catatan si ibu secara teratur menjalani ante natal care (ANC). Pertambahan berat yang tergambar tidak mengikuti pola normal (berkelebihan atau berkekurangan), menyiratkan berat janin yang juga berkelebihan atau berkekurangan: yang satu akan terlahir dengan berat badan rendah, sementara satunya lagi akan hadir di dunia boleh jadi sebagai “giant baby”.

Narasi singkat ini saya sempitkan menjadi “hanya” membahas sekelumit perilaku manusia yang, tidak salah, jika ditafsirkan sebagai penambah jumlah penderita penyakit degeneratif, setelah sekian lama menjalani hidup dengan skala fisik obes.

Paling sedikit ada tiga celah dalam lingkar kehidupan yang kemudian mengantar mereka menjadi obes. Pertama, pemilihan cara caesar sebagai jalan lahir. Kedua, keterpaksaan memilih susu formula; dan ketiga, kekeliruan dalam penentuan makanan sapihan.

 

Kelahiran caesar atau vaginal?

Idealnya, wanita yang berkeinginan hamil harus terlebih dahulu menormalkan diri. Dalam bahasa nutrisi, yang bersangkutan hendaknya berstatus gizi baik; di samping fisik telah selesai bertumbuh-kembang. Kongkritnya, si wanita telah melewati usia ginekologik, yaitu rentang waktu sepanjang 5 tahun setelah haid pertama (menarche): selama 5 tahun inilah pertumbuhan fisik tersempurnakan dan, setelah itu, wanita dinilai sudah siap menjalankan tugas reproduksi.

            Dengan kesempurnaan fisik ini, manakala seorang wanita memilih jalan lahir alami, maka tubuhnya akan menghasilkan hormon yang penting dalam proses pembentukan dan pengeluaran ASI (oxytocin dan prolactin). Sayang sekali, tanpa indikasi medis, makin banyak wanita hamil memutuskan untuk tidak melahirkan janin per vaginam. Persalinan secara caesar dipilih sekadar untuk “tampil beda”: semisal keinginan melahirkan bayi pada hari (besar) tertentu; satu keputusan yang jelas-jelas tidak memiliki penjelasan ilmiah.

            Kelahiran secara caesar jelas merugikan baik janin maupun sang ibu yang keliru memilih keputusan. Operasi caesar terbukti menyebab stress fisik dan psikis pada si ibu dan (terutama) bayi. Luka operasi membangkitkan stress, sehingga kehadiran ASI makin jauh dari harapan; di samping (juga) mustahil untuk menyegerakan “pemberian ASI” begitu janin berubah status menjadi bayi.

 

Asi atau susu formula?

Barangkali sudah tidak ada lagi manusia yang belum tahu (meski belum tentu paham) “keajaiban” asi, walauipun  faktanya tidak sedikit wanita yang mestinya tampak sibuk memberikan asi, namun terlihat santai menyelipkan dot botol susu ke dalam mulut bayi. Sebagian dari mereka yang menggunakan susu formula itu ternyata memang tidak menghasilkan asi. Inilah dampak negatif dari operasi caesar.

Tindakan operasi ini  bagaikan “upaya paksa” mengeluarkan janin melalui jalan yang bukan seharusnya, sehingga kenduri perpisahan tak sempat terselenggara di lorong vagina. Dampak negatifnya banyak, dan yang paling jelas ialah gangguan makan: susah diberi makan, atau bahkan (dalam skala kecil) makan berlebihan.

Ketiadaan ASI, apa boleh buat, memaksa orang tua memilih susu formula. Kekeliruan lanjutan muncul ketika mereka “dipaksa” untuk memilih produk apa? Informasi produk diperoleh dari iklan di media masa, atau langsung dari pabrik, atau meminjam tangan orang-orang yang dekat dengan kamar bersalin.  Dari siapa pun penjelasan diperoleh, susu formula, jelas sudah, dalam hal apa pun tidak mungkin menandingi ASI.

Puluhan keutamaan ASI sudah tertulis dalam puluhan buku teks, namun untuk  kali ini, cukup dikedepankan tiga saja. Pertama, “bayi formula” tidak memiliki kendali diri atas makanan. Penyebabnya sudah benderang: untuk memperoleh ASI, bayi dipaksa mengisap (bayi caesar tidak memiliki refleks isap); dan ia akan berhenti setelah merasa kenyang. Inilah contoh kongkrit pengendalian itu: “makan sebelum lapar, dan berhenti sebelum kenyang”. Kedua, tidak ada yang perlu “dicurigai” pada ASI, karena sudah pasti tidak mengandung materi GMO (genetically modified organism). Ketiga, tidak ada kontak fisik dan psikis antara ibu dan anak; namun dengan ASI pun tidak lagi menjamin kontak psikis itu selalu ada, karena semakin banyak para ibu memberi ASI sembari meng-update status di media sosial.

 

Penyapihan

Sejalan dengan pertambahan usia, kebutuhan akan zat gizi tak bisa lagi ditumpukan pada ASI saja (bagi peminum ASI), atau susu formula saja. Selanjutnya, bayi membutuhkan makanan yang lebih padat hingga usia satu tahun. Sumber makanan sapihan selayaknya diambil dari makanan yang biasa disantap oleh keluarga, bukan mengenalkan makanan instan, karena kebanyakan makanan fabrikan terlalu banyak mengandung lemak, gula dan garam.

Menyukai makanan yang mengandung ketiga komponen itu sudah merupakan sifat dasar manusia. Maka, tidak heran jika makanan buatan pabrik lebih cepat disukai anak ketimbang santapan “tradisional”.

Kesibukan para ibu di luar rumah menyebabkan pengasuhan anak dipercayakan pada orang lain. Perawat bayi biasanya tidak begitu peduli dengan pola asuh (termasuk pola makan) bayi: yang penting bayi tidak rewel. Maka, segala kegiatan dilangsungkan di tempat yang disukai anak. Faktanya, lokasi yang paling diminati ialah bagian muka layar televisi. Inilah muasal percontohan kegiatan sedentary sambil menyantap camilan dan belajar menikmati iklan “junk food”: setangkup kegiatan yang berpotensi mengubah (seribu hari) emas menjadi loyang.

Standar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s