Renungan

Avatar si Penebar Fitnah

Seseorang dengan nama sandi Avatar.dum.dum membongkar “masalah internal” bagian Gizi, yang semestinya milik “orang-orang bagian” itu sendiri, ke Blog ini; menurut saya bukan tanpa tujuan. Orang ini tahu persis apa yang tengah terjadi. Orang ini tahu persis kalau Arisman telah mengirim surat protes ke Dekan (PD I) tentang “pencabutan illegal” dirinya dari keanggotaam Blok 6. Orang ini, sesungguhnya amat mudah ditebak siapa, tampak dengan jelas membela Keputusan Kepala Bagian Gizi (selanjutnya disingkat Kabagiz), namun sekaligus menebar fitnah tentang “kebrutalan” arisman. Agar pembaca tidak susah mencari naskah sang pembela itu, berikut saya “kopikan” tulisannya (di bawah Topik “TENTANG SAYA”): …

By: Avatar.dum.dum on Mei 18, 2008 at 1:23 am

Yanti penanggap terakhir blog ini, sekali lagi adalah Arisman yang narsis dengan nama ARS. Internet FK mogok selama berbulan-bulan, maka Arisman kehilangan pekerjaan. Blog ini pun hilang dari peredaran. Arisman datang ke FK jam 7 pagi, lalu nongkrong di sudut-sudut FK. Jam 8 atau jam 9 dia menghilang. Lalu jam 2 sampai jam 5 ada lagi di FK, mondar-mondar, wara wiri, ngobrol sana ngobrol sini.

Man…man…sudahlah Man!!! Cari gawe yang bermanfaat bae. Mbikin blog boleh-boleh saja, tapi bukan untuk mencaci maki orang lain.

Awak jangan sembarang nuduh. Tuduhan awak sama sekali ngawur!!! Dr Syarif tak pernah satu kata pun nulis di blog ini. Dr Syarif membaca, lalu tertawa, dan introspeksi. Tap, untuk nulid, Dr Syarif tak tergerak sedikit pun.

Omongan seperti yang ditulis “Yanti” ini sudah sering awak omong kan, di depan Anatomi, di pos SATPAM, dan di dapur FK, tempat dimano awak menghabiskan jam-jam kerja sepanjang hari. Dan khalayak mencatat omongan ini. Jadi, kalau awak menuliskannya dengan nama Yanti, maka awak sedikit banyak mendeskriditkan Yuk Yanti Biokimia, seorang dosen yang selalu tenang, tak pernah emosi, baik hari dan pintar. Dan khalayak tetap akan tahu bahwa tulisan itu adalah tulisannya Arisman….

Dr Nazly juga tak ada waktu untuk nulis di blog ini. Dr Nazly tetap baik hati. Beliau tetap berusaha membela Arisman, meski Arisman sering ngomong ngelantur dan menyakiti hati….

Awak Man, ngirim surat ke Dekan, berkecil hati karena awak dicoret dari Blok 6. Awak MAn, tak perlu berkecil hati karena dicoret di blok 6, seharusnya awak introspeksi. Ngapo awak dicoret. Karena di setiap blok dimano awak bergabung, maka disana akan terjadi “kerusuhan”. Assignment nak diborog dewek (karena ada honornya…?), SOCA ngenjuk nilai 0, berteriak-teriak skenario jelek, mengintimidasi pegawai-pegawai UPEP, dak galak ngenjuk soal dll. Itu sebagian kenakalan Dr ARisman di dalam blog, yang tentu saja memperkeruh suasana kerja di dalam blog. Wajar saja kalau Dr Nazly “mengistirahatkan” awak dari blog 6. Awak nulis surat ke Dekan, kecewa, mundur. Semua orang bertepuk tangan. Ini kesempatan untuk mengeliminir Dr Arisman dari kegiatan mengajar di FK. Tapi, Dr Nazly tetap berusaha membela Anda, beliau tetap berencana menempatkan Anda di blog-blog berikutnya.

Tak seharusnya Anda mencela Dr Nazly dan Dr Syarif terus menerus. Beliau berdua tetap berniat baik untuk kebaikan Anda dan kebaikan semua.

Man, tayangkan tulisan ini ya….

Biar khalayak ramai membacanya, termasuk mahasiswa yang sekarang semakin intensif meniru Anda, dengan ke kampus memakai sandal dan berkaos oblong.

Sekali lagi, Dr Syarif dan Dr Nazly tidak ada “hard-feeling” dengan awak Man. Beliau berdua baik baik saja. Dan semua orang salut dengan sikap mereka.

DR. Enaldi bukan Sukarno, bukan Hatta, bukan Syahrir. DR Enaldi ya DR Enaldi, yang cerdas dan berwibawa. Semasa hidupnya dia pernah berkata supaya dipanggil “Pak” atau “Dok” saja, tak usah di panggil “Prof”. Dan, beliau juga pernah menyatakan keberatan dipanggil Bung oleh mahasiswa.

“Apa saya ini sama dengan Bung Mamat, yang jual obat di bawah Ampera itu?” begitu kata Dr Enaldi.

TANNGAPAN:
Orang ini jelas dekat dengan Nazly dan Syarif, jika tidak bisa dikatakan memang kedua orang itulah sang Avatar. Simak saja tulisannya: dia menyapa arisman dengan sebutan awak, yang berarti kalau dia itu berusia lebih tua (atau paling tidak sebaya) dengan arisman. Namun demikian, dia masih berusaha menyarukan identitasnya dengan jalan menyebut “Yanti” (yang diposisikannya sebagai dokter Yanti di Bagian Biokimia) dengan sapaan “ayuk”. Dengan menulis seperti ini dia berharap kalau orang (pembaca) akan menebak dia berasal dari kalangan muda di UPEP. Sayang sekali, dia tidak pandai mengendalikan tulisannya. Inilah dampak buruk dari ketidakpandaian membahasakan pikiran (hebatnya orang ini, dan juga komunitasnya yang berbahasa tidak lebih baik dari dirinya, selalu mengklaim diri amat pandari menulis skenario: baca SEKENARIO, alias skenario sekenanya).

Lalu, nama dokter Ernaldi selalu dimunculkan, meski yang bersangkutan telah mangkat sepuluh tahun silam (Agustus 1998). Yang tahu, atau mengenal dekat almarhum, selain keluarganya, jelas orang-orang yang kini telah berusia 45 tahun ke atas. Singkatnya, rombongan yang memanggil dokter Yanti dengan sapaan “YUK” tidak terbilang dalam kasus ini.

Pembelaan terhadap dokter Nazly dan Syarif Husin sih boleh-boleh saja. Tetapi jangan lantas memasukkan fitnahan terhadap arisman. Arisman tidak pernah memborong pembuatan assigment. Penunjukkan dirinya sebagai pembuat assigment diputuskan dalam rapat blog. Jika Avatar mengatakan arisman telah memborong pembuatan assigment, berarti dia hebat, dong.

Bahwa assigment itu kemudian dibayar, semua orang telah tahu. Namun demikian, saudara arisman tidak pernah menerima bayaran atas assigment yang dia buat. Di blog 6, dia juga membuat assigment (Nyonya Dang Susah), tapi tidak pernah menerima bayaran. Hebatnya lagi, dia juga tidak pernah memeriksa assigment yang hasil kerjaan mahasiswa (namun nilai nya sudah keluar). Di blok 11, arisman juga membuat assigment (juga hasil keputusan rapat blok). Namun demikian, hingga tulisan ini dihitamputihkan, hasil kerja mahasiswa atas assigment itu tidak juga sampai ke tangan arisman. Jadi, siapa yang sebetulnya kemarup duit?

Soal arisman yang memberi nilai ujian SOCA nol, coba tunjukkan di sini arsipnya. Setahu saya, justru arisman yang banyak menolong mahasiswa pada ujian soca, karena naskah skenario (sebetulnya SEKENARIO) yang berkwalifikasi rombengan sehingga tidak dimengerti mahasiswa. Lagi pula, mana mungkin menilai nol, karena jika mahasiswa mampu mengucap salam dan berpakaian pantas saja nilai sudah 20.

Jika mau bukti, para mahasiswa yang membaca Blog ini segera datangi Sadakata Sinulingga, Yuwono, Legiran (semua pejabat tinggi di UPEP): salah satu pertolongan arisman atas mahasiswa tertulis dengan jelas pada ujian blok 3 mahasiswa KBK angkatan pertama. Saya tak perlu menulis nama mahasiswa itu. Yang jelas, dia bukan satu-satunya kasus, melainkan salah satu.

Lalu ada skenario buatan yuwono yang berjudul insulin (lihat contoh SEKENARIO benar), pada ujian blok 5 yang membuat banyak mahasiswa mengangis. Waktu itu arisman berpasangan dengan dokter Kadir Syarkowi. Mereka berdua yang telah menolong mahasiswa yang kebetulan ujian SOCA dengan mereka. Ketika dikonfirmasikan dengan yuwono, agar sekenario itu dicabut, dia malah menganjurkan agar kami penguji mengarahkan mahasiswa ke arah apa yang tercantum dalam “check list”. Gila kan? Penguji soca kan tidak diperkenankan berbicara.

Kembali ke topik utama: tuduhan kalau setiap ada nama arisman pada suatu blok, kerusuhan pasti terjadi. Coba terakan di sini kerusuhan macam apa yang telah diledakkan oleh arisman itu? Yang ada ialah kezaliman orang UPEP. Contohnya, soal MCQ yang mestinya berjumlah 180, di tangan al ustadz dokter Yuwono MBiomed menciut menjadi 135. Sayang sekali mahasiswa diam saja menerima “perlecehan”.

Kalimat “Dr Syarif membaca, lalu tertawa, dan introspeksi.” justru (hampir) menyuratkan kalau Avatar sangat dekat dengan Pembantu Dekan III itu. Dia pasti selalu melekat pada diri dokter Syarif Pohan MS, SpGK. Lha, kalau tidak dekat sekali, bagaimana mungkin Avatar tahu kalau Syarif membaca, lalu tertawa, dan introspeksi. Ini satu lagi petunjuk, bahwa Avatar tidak memiliki kemampuan membahasakan isi pikiran (celakanya, orang-orang seperti ini merasa paling ahli menulis skenario, karena telah dikursuskan fakultas: jika menulis isi pikiran sendiri saja keteteran, bagaimana mungkin menulis skenario dengan bagus?). Ketahuan kalau Avatar adalah “penjaga” yang melekat di bahu kiri (setan) atau di bahu kanan (malaikat) sang ahli gizi. Saya tak berani cepat-cepat menulis kalau penjaga itu ialah setan. Namun demikian, dari kalimat yang berisi fitnahan di atas, saya hampir pasti bahwa memang setan itulah adanya.

Kabagiz tidak usah berbaik hati terhadap arisman. Jika anda memang beranggapan (mestinya pakai data, dong; jangan hanya sakwasangka, yang berbuah fitnah) si arisman memang biang keributan (atau memang tidak kompeten), ya, tidak usah lagi disuruh mengajar. Namun demikian alangkah zalimnya jika anggapan itu hanya pembenaran atas kekeliruan anda, atau wujud ketidaksukaan terhadap arisman. Penetapanh SHP menggantikan arisman di blok 6 justru membuktikan kalau anda telah salah. SHP sudah amat sebuk sebagai PD III, ketua UPKK, pengampu FK Jambi, Muhamadiah, Stikes Charitas, dan membimbing puluhan residen dan mahasiswa PBR (jadi koordinator PBR pula), mengajar di berbagai Program Studi, mengajar mahasiswa PPDS dan Biomedik, membimbing penulisan skripsi mahasisa PSKG; telah terbukti keteteran memberi kuliah baik di blok 6 maupun 12 (beberapa residen malah mengeluh karena bimbingan beliau sering “menyimpang”, sehingga sang residen terbantai dalam seminar, sementara sang pembimbing tidak berusaha membantu sebagai mana layaknya seorang pembimbing tesis).

Selain itu, penunjukkan DIM, yang sudah hampir setahun pensiun (meski sekarang masih dikontrak), jelas menabrak prosedur: penunjukkan “purnawirawan” ketika masih ada “perwira aktif” tentu saja menyalahi prosedur. Apalagi beliau yang ditunjuk ini belum pernah menunjukkan “karya” selama belum pensiun (di Blok 6 setahun lalu dia tidak membuat soal, meskipun yang di-diskreditkan kemudian adalah ARS. Jika keputusan ini menurut ibu kabag memang yang terbaik, ya, sudah, yang menanggung akibat (mungkin di akhirat bernama dosa) adalah dia dan kroninya.

Saya sesungguhnya ingin menerangjelaskan siapa Avara sesungguhnya. Dari perkataan “hard-feeling” itu saja sudah ada beberapa sejawat yang dapat memastikan siapa Avatar. Jika Avatar sekadar makhluk yang dekat dengan “mereka berdua”, bagaimana mungkin dia mengerti kalau mereka berdua itu tidak memiliki “hard-feeling” terhadap arisman?

Saya ingin mengingatkan (bukan memperingatkan) Kabagiz kalau menugaskan orang jangan berbekal belas kasihan. Anda kan Ketua, adillah terhadap mahasiswa. Jangan mereka dikorbankan karena ketidaksukaan terhadap seseorang. (baca juga: “Mengapa arisman mundur dari jabatan sekretaris bagian” dan “surat protes atas ketidakterlibatan pada blok 6”.

Terakhir, saya ingin menasihati Avatar agar tidak lagi membawa-bawa dokter Ernaldi: tidak baik mengungkit nama orang yang telah almarhum. Saya menaruh hormat pada bung Ernaldi, namun saya juga menyimpan sifat negatifnya yang juga terjejak di benak saya. Jadi, sekali lagi, jangan membawa nama almarhum hanya sekadar ingin membunuh karakter arisman saja. Salah-salah karakter anda yang tercoreng, dan nama almarhum yang lumayan harum ikut tercoreng pula gara-gara anda.

Tanpa anda suruh menayangkan fitnah ini, tulisan ini akan secara ototmatis tertayang. Tulisan kalian “Biar khalayak ramai membacanya, termasuk mahasiswa yang sekarang semakin intensif meniru Anda, dengan ke kampus memakai sandal dan berkaos oblong.”, sesungguhnya sekaligus melecehkan diri kalian sendiri. Sebab, tulisan (makanya belajarlah menulis secara baik dan benar) itu menyiratkan kalau arisman lebih karismatik ketimbang kalian. Jika kalian ingin dituruti mahasiswa, berarti kalian mesti berkarisma lebih tinimbang arisman.

(Baca juga “Surat-surat yang tercecer”).

Standar

2 thoughts on “Avatar si Penebar Fitnah

  1. idopathic doom berkata:

    Saya tau ada kezaliman di tubuh FK, para dokter boleh saja bersiteru.. Tapi tolong…, tolong perhatikan kami….
    Mau dikemanakan kami ini?
    Dimana kah posisi kami?

    Apakah memang nantinya kami benar2 menjadi pengganti kalian, generasi penerus para dokter..
    Jujur, telah muncul pesimisme dari sebagian kami. Sistem yang ‘kacau’ yang diterapkan pada kami, menjadikan kami miskin ilmu dasar, miskin keahlian, ditambah pula dengan pihak ‘pentransfer ilmu’ yang malah sibuk berhelat sendiri…..

    Satu hal, coba evaluasi apakah sistem yang dinamakan ‘KBK’ ini sudah menuai indikator yang lebih baik dari kurikulum sebelumnya? Bapak ibu boleh bersiteru, tapi yang merasakan hasilnya nanti tetap kami. Gagal atau berhasil, kami yang lebih dominan menanggungnya nanti…..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s