Renungan

Suatu ketika bersama ibu MITA

Perempuan yang duduk di sudut itu, yang berkacamata minus 10, yang mengenakan celana panjang dengan blus berlengan hingga ke pergelangan, yang memakai tutup kepala (tapi bukan jilbab) ialah Mita; bukan nama sebenarnya, memang. Nama Mita saya sematkan semata karena kemiripan wajahnya (tentu saja dengan berbagai modifikasi) dengan menteri urusan wanita Mutia Hatta, putri bung Hatta, sang proklamator RI. Pada suatu pagi yang sejuk cerah sehabis diguyur hujan sepanjang malam, saya berselisih pendapat dengan tuan SS tentang perlunya penghapusan sistem undian dalam pemilihan soal ujian soca.

Kala itu, pelaksaan ujian soca blok 3 (KBK angkatan pertama: dua tahun silam) tinggal menunggu waktu: kami tiba di Inderalaya pukul delapan seperempat, sementara ujian terjadwal dimulai pukul sembilan tepat. Sembari duduk menunggu para pekerja administratif merapikan lembar soal di atas meja, saya memaksakan diri mengutarakan gagasan agar mahasiswa tidak dipaksa mengikuti “program undian” dalam pemilihan soal ujian. Sistem yang diberlakukan kini, menurut saya, jelas merugikan peserta ujian, karena mutu soal ujian yang berjumlah enam itu tidak setara: baik dalam hal isi (materi) maupun keterbacaan. Sebagai analogi, satu soal begitu bagusnya sehingga dapatlah disetarakan dengan sebuah kendaraan berharga ratusan juta, sementara soal-soal lain hanya senilai motor butut. Penerapan sistem undian pada kondisi ini jelas tidak fair.

Pada mulanya, saya menyampaikan gagasan ini dengan kesantunan yang amat tinggi, sehingga tersuarakan begitu lemah-lembut. Pada awalnya, tuan SS (kalau tidak salah bertindak sebagai korlap: koordinator lapangan) juga merespons dengan santun, meskipun ketidaksetujuannya terbahasakan dengan jelas.

“Nggak bisa begitu, dong”, sambut tuan SS antusias, “Kita tidak bisa mengubah sistem begitu saja tanpa terlebih dahulu dirapatkan”.
“Saya sudah melontarkan gagasan ini, tetapi tidak ada respons”.
“Artinya gagasan anda belum bisa diterima, setidaknya saat ini belum bisa diterapkan”.
“Saya mengusulkan agar lembaran soal dibuka, dan mahasiswa peserta ujian diperbolehkan memilih salah satu soal yang mereka minati”.
“Enak betul mahasiswa. Mereka pasti memilih soal yang menurut mereka mudah….”, ti-ba-tiba ada suara lain menyela: seorang “tuan” dari MONEV.
“Tidak juga. Mereka Cuma diberi waktu setengah menit untuk memilih. …

Singkatnya, tuan SS setuju kalau soal soca tidak diundi, tetapi dipilih: setengah menit, tidak boleh lebih. Namun, sayang sekali, belum satu jam ujian berlangsung (berarti belum sepertiga mahasiswa menikmati program “dadakan” itu), sistem penetapan soal kembali beralih ke tata cara sebelumnya: diundi. Saya baru tahu itu ketika secara tidak sengaja keluar ruangan selagi jeda sembari menanti mahasiswa menyiapkan lembar ujian soca. Seorang tuan lain penguasa MONEV (dan konon lebih berkuasa tinimbang tuan yang pertama tadi) mengembalikan format ujian soca ke bentuk semula dengan alasan (ini ceritera para penjaga lembar soal itu) kalau penggantian itu tidak prosedural. Tuan yang satu ini, konon, memang tidak suka segala sesuatu yang tidak procedural: maklum, dia tokoh “religius” sejak mahasiswa (yang juga telah membahasakan keregiusannnya dalam blog ini: “….. orang tua saya, guru-guru saya baik yang di pesantren maupun … tidak pernah mengajarkan keburuksan….”…). Dengan membiarkan mahasiswa memilih soal, bukan diundi, berarti kita telah mengkondisi mahasiswa menjadi manja, rutuk (sekali lagi: kata orang-orang yang kebetulan berdiri tidak jauh dari tempat lembar soal soca dipajang) sang reliji.

Saya tidak akan menuturkan peristiwa ini sekarang (mungkin lain kali), melainkan hendak menyuratkan betapa susahnya (setidaknya bagi saya) untuk mempercayai (apalagi meyakini) perkataan orang, utamanya mereka yang berperangai “santun”. Saya menemui ibu Mita ketika pikiran tengah dikuasai amarah, bukan terhadap perempuan itu, melainkan tuan kedua penguasa MONEV itu. Inilah salah satu bentuk arogansi kekuasaan: membatalkan keputusan saya dan SS menurut saya bukan karena keputusan itu keliru, melainkan sekadar menunjukkan kalau dia lebih berkuasa ketimbang siapa pun yang ada di situ. Keangkuhan ini tidak bakal tergambar sebagai peragai yang arogan seandainya dia telah berhasil menyatukan materi “hablumminallah” dan “hablumminnannnas” yang kerap dia kuliahkan bahkan hingga di mimbar mesjid.

“Bagaimana kalau saya setop menguji sampai di sini?”
“Jangan,” tanggap ibu Mita cepat, “Kasihan mahasiswa”.
“Kenapa jangan? Bukankah pilihan saya dan SS itu benar …”
“Saya tahu benar, tetapi yang berkuasa kan bukan kamu, atau SS”.
“Apa bedanya sih? Intinya, kita terhindar dari berbuat tidak adil. Saya menguji atau tidak menguji, apa bedanya? Kan masih ada RZ”.
“Penguji soca kan mesti dua orang”.
“Kalau begitu sebarkan saja semua mahasiswa kelompok saya ke grup lain. Sedikit, kok. Masih bersisa 8 orang”.
“Jangan. Kamu mesti meneruskan tugas kamu menguji. Kamu mesti bersabar. Kamu harus belajar menahan emosi”.
“Saya tidak bisa menahan marah jika berhadapan dengan kesewenangan. Saya mengusulkan sistem ini bukan untuk menunjukkan kalau saya .. apa namanya…bijaksana, atau apalah itu namanya, melainkan membela para “user”, para mahasiswa itu. Ibu bayangkan saja, soal-soal itu tidak setara, jika dianalogikan serupa dengan mobil berharga sepuluh juta dan satu milyar. Lha, jika undian tetap diberlakukan, sial dong mereka yang kebagian mobil sepuluh juta. Jadi, melalui ujian ini kelak kita para penguji akan meluluskan mereka yang tidak pintar, dan sekaligus tidak meluluskan mereka yang benar-benar pintar. …”
“Ibu sepakat dengan kamu. Coba kamu tidak keluar UPEP waktu itu ..”
“Saya tidak pernah keluar, saya dipecat oleh dekan dengan SK baru: dekan mengganti SK kepengurusan UPEP yang ada nama saya dengan yang tidak ada nama saya. Setelah saya cek langsung, ternyata itu usulan dari UPEP …”
“Sudahlah, kita tidak usah berdebat soal itu. Kita yang berada di luar sistem memang susah mengambil keputusan. Orang seperti kamu ini mestinya masuk ke dalam sistem sehingga dapat ngomong dan berbuat apa saja dari dalam…”
“Begini saja, ibu, bagaimana kalau keanggotaan senat bulan depan dilimpahkan ke aku?”
“Ibu setuju.”
“Asal ibu tahu saja, saya perlu masuk ke dalam agar bisa membeberkan perkara ini. Supaya mahasiswa tidak lagi terzalimi, tapi ngomong-ngomong, dengan sistem ini bukan hanya terzalimi, tetapi juga terbodohi sekaligus tertipu. Coba ibu baca skenario yang satu ini … (saya mengangsurkan selembar kertas skenario dengan topik “observational study”). Berapa interpretasi yang bisa dimunculkan? Lebih dari satu kan? Nah, coba lihat lagi berapa “check list” yang disediakan: hanya satu. Jadi kalau ada peserta ujian yang menjawab berbeda dengan check list, sementara dia benar, tidak lulus. Kata apa lagi yang lebih cocok, lebih santun, dan lebih relijius untuk menggambarkan keadaan ini kecuali zalim dan rombongannya itu?”
“Saya juga tahu”
“Kenapa tidak ngomong. Anda kan senior”
Ibu Mita diam, tidak menjawab. Dia pura-pura menulis sesuatu di kertas entah apa.
“Bagaiman dengan usulan saya tadi”, saya mencoba memecah kebisuannya.
“Usulan yang mana?”
“Tentang keinginan saya menjadi anggota senat”.
“O, iya, ibu setuju sekali. Seperti yang telah saya katakana tadi, orang seperti kamu ini sebaiknya berada di dalam. Ya, aku akan berusaha”.
“Boleh tahu usaha macam apa, misalnya?”
“Begini, secara prosedural kamu tidak bisa menjadi anggota senat. Karena masih ada ibu. Tapi ibu sudah berkeputusan untuk tidak lagi menjadi anggota senat. Ibu sudah tua, sudah waktunya mengestafetkan tongkat pimpinan, dalam hal ini keanggotaan senat, ke kamu. Lagi pula, mata ibu sudah tidak kuat lagi untuk digunakan banyak membaca, apalagi berlama-lama menatap layar komputer. Untuk memperbaharui bahan kuliah saja rasanya sudah payah. Mata ibu tidak bisa digunaka lama-lama… Begini saja, ibu akan mundur dari keanggotaan senat dengan alas an kesehatan. Dengan demikian, kamu yang dimajukan ke universitas”.
“Terima kasih, saya tidak sabar menunggu”, sambutku untuk kemudian segera ke ruangan ujian soca.
Di ruangan itu, sembari mendengarkan celoteh peserta ujian, saya mencari-cari jawaban perkataan dan ucapan si peserta ujian yang cocok atau mendekati kecocokan dengan jawaban yang tersediakan pada checklist.

Di ruangan itu, sembari mendengarkan celoteh peserta ujian, saya mencari-cari jawaban perkataan dan ucapan si peserta ujian yang cocok atau mendekati kecocokan dengan jawaban yang tersediakan pada checklist. Ternyata tidak ada: si mahasiswa menguraikan interpretasinya atas skenario (bagusnya kita namai SEKENARIO) itu sebagai case-control study, sementara jawaban yang tercetak pada checklist diperuntukkan bagi cross-sectional study. Lalu, pada lembar checklist yang bernama mahasiswa itu, saya tulis: “… seluruh keterangan mahasiswa ini tidak ada yang cocok dengan kalimat-kalimat singkat yang tercetak di atas kertas ini, kecuali ucapan pembuka. Mahasiswa ini telah memamparkan dengan bagus dan rinci topik case-control. Saya telah mengonsulkan skenario ini dengan ahli metodologi di fakultas ini yang kebetulan juga tengah menguji. Dia sepakat dengan saya kalau interpretasi skenario ini bukan hanya cross-setional study, tetapi juga case control, dan cohort. Jika kalian berkeras bahwa hanya checklist inilah yang benar, berarti si mahasiswa terpaksa saya beri angka 20. Namun bila kalian sepakat dengan saya, dan teman saya tadi, angka si mahasiswa saya beri 96. Semua terserah kalin. Tetapi, asal tahu saja, jangan pernah mempermainkan nasib orang. Wassalam”.

Saya dengar tuan-tuan “pembaharu sistem pendidikan” itu meluluskan si mahasiswa dengan angka yang telah saya torehkan: 96; tetapi sayang sekali, tidak ada khabar kalau mereka juga mengevaluasi ulang (sesuatu yang mestinya wajib dilakukan oleh tuan-tuan MONEV) hasil ujian mahasiwa lain. Maka, ketik REG spasi “RAMAL” sebelum kalian mahasiswa memulai ujian soca: dengan demikian masalah yang terbetik dalam kepala anda pasti cocok dengan checklist yang tersedia (atau ketik REG spasi COCOK, dan kirim ke 081278158xx).

Nah, ibu Mita kini resmi menjadi anggota senat, sementara usahanya untuk “mundur” karena alasan kesehatan tidak terlihat, bahkan terbaui pun tidak. Dia kini malah tampak sibuk di blok: entah pengajar IT atau tutor, atau pembimbing skill-lab, atau penguji osce dan soca: jenis kegiatan sebetulnya membahayakan indera penglihatan. Namun rasa kasihan saya bukan tertumpu pada indera itu, melainkan pada ketidakamanahannya terhadap janji yang telah ia ikrarkan. Ini bukan masalah kunang-kunang, tetapi hutang.

Standar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s