Renungan

Perempuan di sudut musholla

Perempuan itu duduk bersila di sudut mushola pada suatu hari Rabu siang menjelang sholat zohor. Di sekitarnya bertaburan kertas putih fotokopian yang sebagian bergambar jantung dan pembuluh darah, sehingga dengan mudah tertebak kalau perempuan ini ialah mahasiswa efka yang tengah menghafal materi kuliah kardiovaskuler. Dengan bergaya demikian, bisa pula diperkirakan bahwa dia sedang menjejalkan seluruh materi tentang jantung dan pembuluh darah itu ke dalam ingatannya.

Saya tak berani mengajaknya berbicara, apalagi bercakap, kecuali sekadar mengucap ‘assalamu’alaikum’; meskipun keinginan saya untuk melafazkan pertanyaan “mengapa kamu sibuk sekali belajar, sekarang kan libur semester?” begitu mendesak. Dari caranya merespons salam, saya berkepastian kalau dia termasuk salah satu peserta ujian remedial. Ujian remedial berbagai blok memang tengah diberlangsungkan hari itu.

Mestinya saya bertanya “mengapa kamu ikut remedial?”, namun itu tidak saya lakukan oleh kekhawatiran mengusik konsentrasinya, atau membongkar kekecewaannya (mungkin) karena kegagalan dalam ujian tempo hari.

Namun demikian, saya tak habis pikir mengapa mahasiwa seperti dia harus ikut ujian remedial. Ujian remedial diperuntukkan bagi mereka yang tidak lulus, yang terpecundang: sosok yang kalah dalam pertarungan (baca: ujian), tetapi, tentu saja, pertarungan yang adil. Fairness (keadilan) dalam ujian jelas tergambar mulai dari persiapan materi kuliah, soal ujian hingga penentuan passing grade nilai kelulusan. Sayang sekali, keadilan itu masih tersembunyi entah di mana, sehingga baunya pun belum pernah tercium oleh, setidaknya, saya pribadi.

Dan perempuan itu, kekeliruan apa yang telah dia buat sehingga nasib buruk merendamnya dalam lumpur kegagalan. Dia, serta beberapa temannya yang bernasib serupa, tampak “aneh” ketika digerombolkan ke dalam lebih dari seratus peserta remedial itu. Betapa tidak, dia (juga sebagian dari teman-temannya yang senasib) tergolong sebagai mahasiswa “berkelas”: mereka smart mulai dari gen hingga usaha. Secara genetis, dia terlahir dari orang tua berkwalifikasi PhD (bukan singkatan dari “paling hobi duit”, atau paling hobi duluan”: dengan menulis ini saya tidak sedang menyanjung pemegang gelas PhD, atau menyepelekan gelar di bawahnya; namun, paling tidak, orang bodoh tak akan berhasil meraih gelar itu, di samping, tentu saja, kesempatan). Gen yang bagus tentu saja tidak serta merta menjanjikan prestasi gemilang, namun perempuan ini telah menampakkan kegigihan belajar yang begitu tinggi. Ketekunannya melahap kopi “power point” materi kuliah BLOK (menurut sebagian besar peserta didik, soal-soal ujian mcq di-copy-paste dari tulisan dalam “power point” itu), serta kegigihannya menelurkan gagasan melalui pertanyaan dan pernyataan dalam berbagai diskusi tutorial yang kebetulan saya “tutori”, begitu menggebu bagai kucing jantan yang tengah birahi mengejar betinanya.

Tampak “aneh”, memang: puluhan mahasiswa berkelas “very good” (sebutan sekenanya, karena saya belum berani menempelkan predikat “excellent”) terlempar ke dalam limbah remedial. Ada apa dengan KBK? Sebagian “pendidik” yang “by-accident” berpapasan dengan saya di depan pintu peturasan sembari menunggu giliran berkemih, dengan enteng menanggapi: “… Banyak faktor selain hanya pintar yang menentukan kelulusan seseorang. Kamu juga telah tahu itu”. Betul. “sejawat saya itu berkata benar: “ … akan tetapi faktor apa yang begitu tega dan kuat menggerus prestasi para peserta didik sehingga nilai mereka tak berhasil melampaui bahkan hanya sekadar bilangan ‘passing grade’?” Atau nilai kelulusan itu dipatok terlampau tinggi? No body know, but men from UPEP!

Saya tak bermaksud membela perempuan ini. Saya sekadar membahasakan kekecewaaan saya, bukan dirinya, meskipun saya hakulyakin kalau perempuan itu jauh lebih kecewa (bahkan mungkin murka) ketimbang saya, terhadap prosedur yang amat kasat mata telah (dan, jika tidak seorang pun berminat memperbaikinya, akan terus) merugikan banyak orang.

Sesungguhnya parameter apa sih yang membuat seorang diluluskan, sementara yang lainnya mesti mengulang? Ketika saya (dan banyak lagi sejawat yang lain) “dikuliahi” tentang materi KBK (oleh para muda yang mengaku sebagai pembaharu pendidikan itu, yang di-back-up oleh sebagian “lansia” kurang wibawa, yang juga mengklaim diri sebagai penulis skenario terbaik karena banyak dipilih mahasiswa ketika ujian soca: padahal mahasiswa terpaksa memilih itu lantaran terjebak sistem undian) ….. bersambung!

Standar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s