Renungan

Yang Kesebelas

Blok sebelas disusun, hampir sama sebangun dengan blok sebelumnya, mengedepankan semangat “… dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Tidak sampai sepertiga anggota Blok yang rajin mendatangi rapat, sementara utusan UPEP mulai menggelintir. Yang berlainan dengan blok sebelumnya, di samping penetapan (dan penyusunan IT: mungkin boleh disetarakan dengan ‘mata ajar’) wacana kemandirian blok mulai dikumandangkan. Blok adalah pengejawantahan Bagian. Dengan kata lain, mengutip stratifisikasi kepanitiaan PON (Pekan Olahraga Nasional), Blok ialah organizing comitee (OC), sementara UPEP sekadar steering comitee (SC). Kongkritnya, wewenang UPEP terhadap Blok hanya sebatas konsultasi, bukan penyelenggaraan kuliah, termasuk mengumpulkan soal (apalagi hanya soal mcq) seperti yang berlaku sebelum ini. Keberlangsungan, dan keberhasilan pembelajaran satu Blok adalah wewenang dan tanggung-jawab Blok. Titik. Tidak satu pun dari peserta rapat pada waktu itu mengemukakan pendapat yang berseberangan.

Dari sini, mufakat pun dinabalkan: teman saya ARS dipercaya untuk membuat soal-soal assigment, dan editor soal-soal pilihan ganda; sementara skenario dikerjakan keroyokan (rapat yang dilangsungkan dipenghujung jadwal kuliah ini tidak dihadiri oleh wakil UPEP). Di ruang rapat itu juga, sekretaris Blok menyerahkan sebagian soal mcq kepada ARS, sementara sisanya yang sudah terlanjur dikumpul ke UPEP, akan dicoba diminta kembali. Singkatnya, soal assigment dirancang sedemikian rupa untuk konsumsi dua ratusan mahasiswa: sepuluh orang mengerjakan satu soal, bukan (jawaban) satu soal di-copy-paste oleh dua ratus lebih manusia seperti yang terjadi pada Blok 6 tempo hari. Jawaban soal dikumpul paling lambat 2 minggu seselesai ujian pilihan ganda. Namun anehnya, hingga tulisan ini di-upload, ARS mengaku kalau dia belum pernah diserahi jawaban atas assigment yang ia buat: sama persis dengan kejadian di Blok 6 hampir setahun silam. Padahal, menurut mahasiswa program studi berbasis KBK, nilai assigment itu punya kontribusi cukup tinggi terhadap nilai total blok (termasuk ponten tutorial, pleno, skill-lab, osce, dan soca). Apakah pendapat para mahasiswa itu benar, saya tidak tahu. Yang pasti, saya berpikir bagaimana jawaban assigment itu dinilai sementara pembuatnya tidak dilibatkan (boleh jadi nilainya tidak ada, atau diada-adakan)?

Soal-soal ujian mcq hingga hari senin (ujian diberlangsungkan hari selasa) telah terkumpul sebanyak 160 nomor (tengok soal-soal Blok 11 hasil suntingan teman saya ARS) dari seharusnya 200 soal. Dari sekretaris Blok ARS memperoleh kabar kalau masih ada 20 soal lagi akan diserahkan kepadanya menjelang pukul 10 pagi itu. Artinya, soal yang pasti terkumpul pagi itu berjumlah 180. ARS mengusul untuk menambahkan 20 lagi (yang akan ia susun sendiri) sebagai penggenap (karena jumlah soal ujian mcq sistem KBK memang tidak boleh kurang dari 200, begitu penjelasan para “Pakar” di UPEP di awal pemberlakuan sistem ini). Atas nama Ketua Blok, sekretaris setuju. Dan sohib saya ARS pun mulai membuka file di dalam laptop-nya.

Namun tidak dinyana, di tengah keasyikannya memencet keyboard, ketua UPEP mendatanginya dengan muka dipenuhi kerutan, pertanda kalau dia tengah dirundung stres.

“Aku mau bicara …”, kata sang Ketua.

“Boleh”, jawab tanpa memindahkan pandangannya dari depan laptop.

“Ayo ke ruangan saya”, kata sang Ketua sembari melangkah menuju ruangan UPEP.

“Di sini saja,” tanggap ARS, “Aku sedang mengedit soal.”

“Awak ngetik soal mcq untuk ujian blok?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Lha, Yuwono juga sedang ngetik soal.”

“Terserah. Aku ditugasi blok untuk mengedit soal, jadi sekarang aku edit.”

“Kenapa bisa begitu …”

“Tanya saja Ketua Blok. Aku melaksanakan tugas, bukan merebut pekerjaan.”

“Tidak biasanya begitu. Pada blok blok sebelum ini kan Yuwono yang berwenang mengerjakan tugas ini …”.

“Itu dulu. Tapi sudahlah, aku tidak punya waktu untuk berdiskusi. Pokoknya, sekali lagi aku ulangi, aku mengedit soal-soal ini atas amanah rapat blok.”

“Besok kan sudah ujian …”

“Itulah sebabnya aku ngelembur di sini dari pagi tadi.”

“Lha, jadi Yuwono ngetik apa? ..”

“Meneketehek…”, ARS menanggapi sekenanya.

Sang Ketua (yang tidak memiliki mental leadership itu) kemudian “ngelonyor” masuk ruangan, sembari menijat-mijat kuduk, untuk kemudian, tidak sampai 2 menit, keluar lagi entah kemana. Tidak sampai sejam setelah “tegur-sapa” itu ARS mengirim pesan pendek ke Ketua Blok: “Soal telah selesai. Seluruhnya 160 ditambah 10. Tapi 20 soal yang dijanjikan itu belum ada.”

“Tunggu sebentar. Kami sedang rapat dengan UPEP”, begitu tulisan yang terbaca dalam sms Ketua Blok.

Lha, rapat apa lagi, pikir ARS. Soal sudah selesai diedit, meskipun masih kurang dua puluh lagi (30 jika jumlah soal akan dibulatkan menjadi 200: lihat “Examination for Blok 11”). Rasa ingin tahu menyebabkan ARS mengirim sebuah pesan pendek lagi: “Rapat apa? Aku nunggu di luar. Jangan terlalu lama, besok kan ujian.”

Tidak ada respons selama hampir 15 menit. Namun, untung sekali, duo Ketua dan Sekretaris Blok muncul tidak sampai 10 menit setelah itu. Dan mereka segera menjelaskan perihal pertemuan itu. Mulanya kami berbicara, singkat saja, di ruangan UPEP; tetapi saya mengajak mereka berdiskusi di ruangan lain, karena tidak enak rasanya (bukan takut) membicarakan aib (menurut saya, jika sesuatu kesalahan terkait dengan harkat hidup orang banyak, tidak ada sisi negatif manusia yang bisa dikategorikan aib) oknum personil UPEP di kandangnya sendiri.

“Salah satu hal penting dibicarakan dalam pertemuan ini tentu saja pemantapan ujian besok …”, kata Ketua Blok.

“Aku sudah tahu. Jelaskan masalah yang tidak aku ketahui dan mengerti”.

“…. Begini. Kita sudah dianggap salah oleh UPEP karena telah mengedit sendiri soal-soal mcq itu …”

“Lancang, begitu?”

“Bukan. Menurut mereka …”

“Mereka siapa?”

“Ya, orang-orang UPEP itu”.

“Ya, sudah. Aku sudah tahu. Seluruh personil UPEP kecuali yang dari klinik hadir, kan?”

“Ya…”

“Dan mengeroyok kalian. Kamu berdua salah. Mengapa aku tidak diajak rembug…’, kata ARS tapi tidak melanjutkan ucapannya. Waktu sudah hampir pukul tiga, dan lagi pula untuk apa beradu urat leher dengan duo petinggi blok 11 ini, pikir ARS. Mereka tidak mengerti masalah.

“Begini. Inti pembicaraan tadi ialah agar soal-soal itu dikembalikan lagi ke UPEP. Keputusan rapat bahwa soal-soal itu diserahkan ke dokter Yuwono, karena selama ini dialah yang ditugaskan mengumpulkan, mengedit, dan memperbanyak soal. Keputusan kita, meskipun dibuat dalam rapat, dianggap UPEP telah menyalahi kebiasaan…”

“Jika kebiasaan itu salah, atau keliru, mengapa kita harus takut merobek-robeknya.”

“Ya, aku tadi juga berpikir begitu. Tapi kalau tadi kami ngotot kasihan mahasiswa ..”

“Lha, aku ini ngotot, apa kamu pikir tidak dilandasi rasa kasihan pada mahasiswa?”

“Bukan begitu. Kalau aku ngotot-ngototan, pekerjaan tidak akan selesai, dan besok tidak jadi ujian. Itu yang aku maksud sebagai kasihan itu.”

“Biar waktunya masih panjang kamu tak akan berani ngotot. Tapi sudahlah. Mana flashdisk kamu, nanti aku kopikan soal-soalnya. Tapi asal tahu saja dengan begini berarti kamu telah membiarkan dirimu dilecehkan. Keputusan rapat mestinya dibatalkan dengan rapat pula. Lagipula, apa kamu yakin kalau soal ini pasti aman?”

“Nah, soal keamanan itu juga kami bicarakan. Tidak ada yang berani menjamin keamanannya. Sadakata sendiri juga tidak berani memberi penjaminan kalau soal itu pasti aman. Aku juga telah mengatakan seluruh masalah yang kau keluhkan, terutama soal keamanan soal itu?”

“Dari sulu sudah aku katakan kalau gaya kerja begini soal pasti tidak aman. Aku tak berani mengatakan bocor, meskipun aku berwasangka demikian. Tapi, bagaimana pun juga, meskipun tenaga pekerja administratif memang betul-betul, maksudku dalam tanda petik, jujur, orang-orang mones tidak boleh meniggalkan mereka kerja sendirian. Mereka wajib nongrong di depan mesin pengganda dan tempat lembar soal dijilid. Itu kalau seluruh rantai bisa dipercayai 100 persen.”

“Ya. Hal itu juga dibicarakan”.

“Kalau cuma dibicarakan, dari dulu, dari Blok satu angkatan pertama masalah itu sudah dibicarakan. Tapi apa sudah dilaksanakan. Sudahlah, bosa pula aku membicarakan topik yang itu-itu saja ini. Kesetaraan skenario ujian soca dibahas juga?”.

“Ya, tetapi soal ini belum ditanggapi”.

“Kalau begitu aku tidak usah dilibatkan sebagai penguji soca…”.

“Jangan begitu”, celetuk sekretaris.

“Memangnya kenapa kalau aku tidak ikut? Tanpa aku ujian soca juga tetap jalan. Kau tenang saja, banyak yang mau ikutan nguji. Itu kan ada honornya.”

“Maksudku …”

“Sudahlah, tidak usah basa-basi. Pokoknya aku tidak usah dilibatkan sebagai penguji soca. Aku tidak mau menanggung dosa…”.

“Terlalu jauh sampai merembet ke masalah dosa…”.

“Bagaimana tidak, dengan skenario seperti ini, kita akan salah menilai. Kita berkemungkinan besar akan meluluskan mahasiswa yang tak seharusnya lulus, dan menidaklulusakn mereka yang semestinya lulus”.

“Aku kurang mengerti soal ini”.

“Singkat saja, ya. Setiap skenario mestinya memiliki satu pengertian. Seandainya sebuah skenario hendak menampilkan kasus tabrakan antara opelet dan motor, maka setiap pembaca mestinya menangkap masalah itu sebagai tabrakan mobil dan motor; bukan kemudian diinterpretasikan sebagai tabrakan sepeda dengan motor. Jelas?”

“Ya”.

“Untuk sampai ke sana, sebuah skenario mestinya ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar…”

“Tapi…”

“Sori, jangan dipotong dulu. Kemudian, skenario itu mesti memiliki pertanyaan, atau tugas, atau apalah namanya. Yang jelas kalimat perintah itu, yang ditulis di akhir skenario, menyuratkan ke arah mana pembaca skenario, dalam hal ini mahasiswa peserta ujian, diperintahkan. Tapi sudah beberapa skenario yang dibuat blok, kalimat perintah itu tidak ada …”

“Itu kan pernah kita bicarakan dalam rapat blok”.

“Iya, betul. Tapi apa kata Legiran waktu itu? Kau masih ingat?”

“Iya. Katanya, tanpa kalimat tanya itu ternyata mahasiswa terbukti bisa mengerjakan soal”.

“Aku waktu itu sebetulnya akan berkata: kalau begitu, mengpa tidak kita uji-cobakan mahasiswa tidak usah kuliah, dan cukup praktikum dan langsung ujian saja. Menurut saya, kalau konsep si Legiran itu akan diadopsi, ada baiknya kita membuka fakultas kedokteran swasta. Bukankan dengan sistem KBK ini mahasiswa sudah terkondisi untuk menjalani proses swadidik. Sudahlah Zul, kalau diteruskan diskusi ini tidak akan selesai satu bulan. Ini flazhdisk kamu. Sekali lagi aku ingatkan agar aku tidak usah dicantumkan sebagai penguji soca. Dan aku juga perlu sedikit mengingatkan kamu berdua untuk secara cermat memilih penguji soca ..”

“Maksudnya?”

“Kalau menilai kompetensi dalam satu hari mungkin tidak cukup waktu. Ztapi kamu coba seleksi dosen-dosen mana saja ya layak menguji di kelas berbahasa Inggris, dan mana yang tidak”

“Maksudnya?”

“Ini masalah sensitif, tapi aku mesti mengatakannya ke kamu. Ada dosen yang listening-nya jelek tapi ditempatkan sebagai penguji kelas internasional. Itu saja dulu. Aku mau jemput anak. Assalamu’alaikum.”

Standar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s