Renungan

KOMPETENSI

Sepuluh orang, dari 49 fresh-graduated dokter dinyatakan tidak lulus ujian kompetensi di minggu terakhir bulan ini. Hampir 3 bulan sebelumnya (terlapor bulan April), jumlah ketidaklulusan juga terpacak pada angka 10, namun dengan peserta sebanyak 79 orang; sementara pada ujian kompetensi sebelumnya (angkatan pertama), semua peserta dinyatakan lulus.

Lebih dari dua bulan yang lalu (5 Mei 2008), Pembantu Dekan I mengumpulkan seluruh (wakil-wakil) Bagian di lingkungan institusi ini (meski undangan yang hadir tidak sampai separuh) untuk memperkenalkan format soal ujian kompetensi. Format ini wajib disosialisasikan ke seluruh dosen karena, menurut tokoh ini, format inilah yang menjadi biang ketidaklulusan kesepuluh fresh-graduated itu.

Lho, kok begitu?

Iya, memang begitu.

Format pilihan ganda pada ujian kompetensi berbeda jauh sekali dengan format uji mcq yang lazim ditemui oleh para fresh-graduated itu semasa mereka masih berkuliah mengejar gelas S.Ked. Format pilihan ganda konvensional hanya berupa statement yang kemudian dilanjutkan dengan soal pilihan yang dibariskan ke bawah di belakang huruf A hingga E (sampai D pada ujian sistem KBK). Sementara pada ujian kompetensi, pernyataan dirupakan sebagai vignette, atau skenario: sebuah narasi pendek bak ceritera mini; yang singkat, padat, dan kaya akan informasi. Vignette ini boleh disetarakan dengan kasus di masa lalu. “Ketidaklulusan mereka boleh jadi dilatarbelakangi oleh bukan hanya format ini, tetapi juga oleh ketidakbiasaan mengerjakan soal-soal mcq”, begitu pungkas sang PD I.

Pernyataan Bapak yang sejatinya bertanggung-jawab atas keberlangsungan (tentu saja termasuk kebehasilan) pedidikan itu jelas terkesan “asal bunyi”. Teralu naif, memang, menghakimi “format baru” sebagai biang kegagalan para fresh-graduated; terlebih ketika pembenaran itu dicoba dihubungkan dengan telah menguapnya kepiawaian para dokter baru dalam pengerjaan soal-soal berbasis pilihan ganda. Atas dasar ini, sang Pembantu Dekan berwacana untuk kembali memberlakukan ujian mcq bagi setiap mahasiswa sebelum meninggalkan bagian; meskipun dia segera bergumam “… tapi apa mungkin, ya?” beberapa detik setelah wacana itu terlafazkan.

Sayang sekali, pak PD I ini tidak membuka peluang diskusi untuk mengulas ketidaklulusan ini. “Acara hari ini ialah sosialisasi soal ujian kompensasi, bukan mendiskusikan masalah ketidakberhasilan dokter pengikut ujian kompensasi”, ujarnya menutup topik berita “sedih” itu untuk kemudian segera menayangkan frame demi frame penjelas topik uji kompetensi itu.

Komunitas INSTITUSI ini mestinya menitikkan air mata, bukan sekadar menangisi angka 10 yang telah dua kali menetas itu, tetapi karena ada dua peserta yang telah dua kali mengikuti ujian pada kenyataannya tetap dinyatakan tidak berhasil (sebuah kata yang santun untuk mengucapkan “tidak lulus”). Tangisan itu sudah sepantasnya disertai rataan pilu karena kedua pecundang itu lulus dengan indeks prestasi akademik (IPA) di atas angka 3 (telah beredar pula rumor kalau salah satunya dinyata lulus dokter dengan predikat cumlaude).

Kenapa bisa begitu? Mengapa angka keberhasilan turun begitu cepat, sementara bilangan penanda kegagalan terbang bagai debu disapu tornado?

Kepuluh dokter fresh-graduated itu adalah produk dari sebuah Perusahaan (jasa) berlogo fakultas kedokteran. Mereka cuma produk akhir. Kegagalan mereka adalah cermin ketidakberhasilan Institusi ini dalam mengendalikan rantai produksi. Sebuah produk yang (dinyatakan) gagal mestinya dikembalikan ke pabrik, untuk kemudian dibongkar habis dan dirakit kembali menjadi produk yang layak guna, yang tentu saja mesti melalu sebuah proses bernama uji kendali mutu. Tetapi, kesepuluh dokter itu adalah manusia, yang tentu saja termakan usia, jelas tidak mungkin di kembalikan ke pabriknya (fakultas kedokteran itu) untuk didaur-ulang. Namun demikian, masih untung, mereka masih disediakan sebuah ruang bernama “program bimbingan” berbasis modul (dan tentu saja disertakan pula tutor): sebuah program yang nyaris analog dengan semester pendek dengan kuota SKS berkaliber brontosaurus. Sebagai alat bantu peningkat status, program ini tentu saja bagus adanya, karena menyediakan peluang mengembalikan harga diri yang tergelincir untuk tegak dan sekaligus membuktikan pada “dunia” kalau mereka memang pantas menjadi dokter beneran.

Namun demikian, kita tidak perlu malu menilai ulang “rantai produksi” dokter yang diberlakukan di institusi ini. Dengan prosentase kegagalan senilai 20,4% (meningkat dari 12,6% hanya dalam dua periode berurutan) itu, tidak usah dipertanyakan lagi kalau ada yang keliru (jika tidak bisa dibilang salah) pada rantai produksi, yang jika ditelusuri (tidak perlu) dengan seksama pasti bermuara pada setidaknya 4 macam faktor, yaitu: pola rekrutmen mahasiswa, kinerja dosen mata kuliah, fasilitas pendukung, dan sistem penilaian peserta didik.

Hingga saat ini diberlakukan dua macam pola perekrutan calon mahasiswa berdasarkan pada “bangku kuliah” yang hendak dituju: reguler atau nonreguler? Produsen makanan jadi dari rumpun etnis seperti pempek candy hingga produsen makanan bertaraf internasional sekaliber KFC amat concern dengan mutu produk. Bahan baku berkwalitas ialah jenjang pertama (dan utama) penentu mutu itu: calon mahasiswa berkwalitas ialah salah satu mata rantai penentu kwalitas para fresh-graduated itu. Saya tak tahu persis bagaimana benar mutu para “pecundang” itu ketika ditetapkan sebagai calon mahasiswa yang lulus seleksi. Yang pasti, jika mereka yang lulus dokter dengan IPK melampaui angka 3, dan kalah bertarung di arena uji kompetensi, berarti ada yang salah pada sistem pendidikan di institusi ini.

Koordinat kesalahan itu bisa dengan tepat ditentukan (bukan ditebak) seandainya pola pembelajaran mahasiswa telah terstruktur jelas. Susungguhnya struktur itu telah tercetak lengkap di dalam kurikulum inti pendidikan dokter indonesia (kabarnya KIPDI telah memasuki edisi III). Sayang sekali, memang, saya sendiri tidak memiliki buku KIPDI edisi tersebut.

Saya juga tidak berani menilai kinerja dosen yang pernah bersentuhan dengan kelompok fresh-graduated yang terpecundangi itu. Dengan pola pembelajaran “konvensional” (maksudnya nonKBK), seluruh pengajar berasal dari Bagian dan berarti sudah sesuai dengan keahlian masing-masing. Hanya Bagian itu yang berwenang menilai kinerja mereka. Namun demikian, bukan berarti para “outsider” tidak bisa membubuhkan angka nilai. Dengan membaca materi kuliah tertulis yang mereka buat (tentu saja disertakan pula tujuan pembelajaran), gradasi nilai itu akan dengan mudah ditorehkan. Tapi, berapa persen pengajar yang memiliki “writing material” (bukan sekadar power point, dan bukan pula buku) itu?

Sistem penilaian mestinya tidak hanya tertumpu pada hanya satu kali ujian saja. Penilaian hendaknya dirancang terstruktur bahkan mencakup nilai ketika, misalkan saja, seorang dosen terlibat pembicaraan informal tentang suatu topik (tentu saja yang terkait dengan tema kuliah yang telah terdaftar dalam kartu KHS) dengan mahasiswa. Tidak adil, memang, jika penetapan (angka) kelulusan mahasiswa semata didasarkan pada ujian akhir semester dan paruh semester. Selain itu, azaz keadilan juga wajib ditegakkan selama persiapan materi ujian tulis: lembar kertas ujian itu mesti diperlakukan sebagai “rahasia negara”. Artinya, setiap kemungkinan kebocoran mesti diantisipasi. Artinya, penggandaan soal itu mesti dijaga ketat oleh seorang yang kejujuran dan keberaniannya telah teruji. Dengan demikian, kemungkinan untuk lulus atau tidak lulus bagi peserta ujian sama.

[Lihat tulisan “Khianat di Hari Jum’at”: penggandaan soal ujian mcq Blok 6 sistem KBK tidak dikawal; dan sayangnya perilaku tidak bertanggung-jawab itu keterusan hingga kini: penggandaan soal mcq KBK Blok 13 tidak dijaga oleh orang-orang MONEV. Lihat juga tulisan berjudul “Yang Kesebelas”].

Standar

One thought on “KOMPETENSI

  1. Wong Efka berkata:

    Saya bertanya-tanya, siapa ya ? yang berpredikat cum-laud (suatu predikat yang hampir mustahil dicapai saat zaman saya kuliah dulu) bisa tidak lulus ujian kompetensi berkali-kali. Sama seperti keledai ya ?!!. Saya terkejut…. ada kabar dari temen saya di Jakarta Katanya fresh graduate itu anak pejabat tinggi di efka … Katanya dia BODOH… tapi karena usaha tak kenal lelah dari sang bapak..dia dapat predikat cumlaude. Malah-malah… walau belum lulus uji kompetensi dia sudah berhak (dinyatakan) lulus sebagai salah satu residen…yaa di FK ….lagi. Itu berkat usaha sang bapak plus sang ibu…. Sekarang katanya.. sang bapak pengen jadi orang nomor satu di efka … ini… padahal, jadi nomor 2 atau nomor 3 saja, FK …. yang kucinta ini sudah hancur lebur dibuatnya. Predikat akreditasi A yang mereka bangga-banggakan itu katanya palsu… ya itu berkat usaha sang culas tersebut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s