Renungan

Buat kamu yang setengah bangga setengah kecewa

Apa yang telah kamu goreskan pada lembar blog ini memang benar adanya. Sedari dulu, mungkin jauh sebelum kamu menjejakkan kaki di jalan madang ini, bau “manipulasi” itu su-dah tercium, yang menjadi semakin sengak ketika “Yang berwenang” untuk melakukan pem-benahan tidak bertindak, atau justru ikut bermain. Kecurigaan kalau mereka (yang memiliki wewenang itu) turut berselancar di wilayah “hitam” itu bukan tanpa alasan. Saya tak perlu memaparjelaskan (meski sebetulnya saya ingin sekali) peristiwa bagaimana mereka yang “tidak lulus ujian kompetensi” itu bisa bisa terdaftar resmi sebagai mahasiswa efka. Yang perlu kamu endapkan di dalam hati (tentu bukan untuk diproses menjadi dendam, melainkan sekadar diingat untuk kemudian –jika perlu— digunakan sebagai partikel penguat kereligius-an kamu.

Istilah “anak dalam” yang kamu torehkan dengan semangat kejengkelan sesungguh-nya juga dirasakan oleh teman sejawat kamu (baik yang seangkatan maupun sedikit di bawah kamu). Tetapi kamu jangan pernah menyamaratakan kalau seluruh dosen berperilaku demi-kian. Tidak sedikit sejawat (saya) dosen yang kebetulan memiliki anak kuliah di institusi ini justru tidak berkenan jika saya membuka percakapan bertajuk anak-anak mereka. Kebetulan, memang, anak-anak mereka pintar; sehingga saya justru kewalahan meladeni pertanyaan mereka di kelas (atau di “emperan”, tempat yang tak pernah dijejaki oleh kebanyakan dosen).

Masalahnya, apakah seseorang (bukan hanya dosen) mau bersepakat berbuat “tidak mulia” seperti yang kamu telah guratkan, ialah moral. Sebagian “perselingkuhan” (bukan hanya di wilayah seksual; tetapi telah merambah dunia sosial, dan bahkan kini pendidikan) itu berproses karena moral yang bersangkutan. Saya tak berani memastikan apakah nilai mo-ral mereka itu baik atau tidak baik (jelek?); atau lebih tragis lagi: jeblok. Yang pasti, sese-orang belum bisa dikatakan baik sebelum dia (mereka) teruji. Anak (kamu pasti sudah tahu itu) adalah salah satu soal ujian hidup. Kecintaan yang berlebihan kepada anak justru me-ngantar para “orang tua” ke tubir kehancuran (jika tidak boleh dibilangi neraka).

Namun bagaimanapun, sejarah efka tempat kamu pernah menimba ilmu ini tidak seluruhnya kelam. Hingga peringatan usianya yang ketiga-puluh, petinggi efka (tentu saja kini telah mantan, dan beberapa telah almarhum) telah menandatangani tidak sedikit kasus-kasus drop-out (DO). Namun, demikian, tidak berarti kalau mereka yang di-DO itu goblog. Seorang mantan mahasiswa angkatan sebelum tahun tujuh-puluhan, sekadar mengambil contoh, yang pernah di-DO kemudian langsung putar haluan masuk AKABRI. Kini ia telah purnawirawan mayor jenderal. Ada lagi, mahasiswa angkatan sebelum (saya lupa tahun berapa) tahun delapan-puluhan, yang kebetulan putra seorang ahli bedah ortopedi di RSMH (dulu RSUP), yang juga di-DO, yang kemudian mendaftar dan diterima kuliah di ITB, yang kini telah bergelah PhD, dan menjadi konsultan ahli di berbagai institusi (saya tak banyak memperoleh data tentang tokoh yang satu ini).

Bukan hanya itu saja: masih banyak lagi mahasiswa yang di-DO pada periode seper-ti telah saya tulis di atas. Semua adalah anak “pejabat”. Di akhir tahun 1976, ada keponakan (namanya tidak usah ditulis di sini) seorang ahli bedah (dulu ahli bedah sangat langka) yang juga direktur RSUP. Ada seorang anak guru besar Bagian Anak dan Kepala Bagian Psikiatri. Ada putra Pembantu Rektor 1, dan putri seorang Gubernur (sang putri kini sukses di bidang bisnis). Terakhir (yang saya ingat) ialah putra mantan Dekan, dan adik mantan Dekan efka ini.

Keberanian para pendahulu kita itu patut diacungi jempol, karena men-DO-kan mahasiswa yang kebetulan “anak pejabat” bukan tanpa “ancaman” risiko. Tetapi, apa boleh buat, keputusan ini mesti diambil demi bukan hanya status fakultas sebagai lembaga pendi-dikan, tetapi juga menjaga “keselamatan” serta harga diri si mahasiswa kelak di kemudian hari (termasuk hari kemudian).

Dan kini, keberanian seperti itu sepertinya lindap, berganti dengan “keberanian” me-luluskan dengan “nilai tinggi”. Tragis memang: nilai tinggi ternyata tidak lulus kompetensi. Orang boleh saja berargumen, kalau ketidaklulusan itu semata karena yang bersangkutan se-dang apes. Boleh saja mereka bilang begitu, namun mereka juga mesti menganalisis mengapa begitu banyak mereka yang “bernasib jelek”?

Dengan kelas “konvensional”, yang menurut saya (setidaknya hingga kini) masih lebih bagus ketimbang kelas “baru” (baca: KBK), angka ketidaklulusan ujian kompetensi cukup tinggi. Bagaimana kelak nasib mahasiswa pengikut program KBK, yang (sekali lagi menurut pengamatan saya, dan sebagian sejawat saya yang masih suka mengamati) diajar dengan sistem yang “tidak jelas” ini (simak juga tulisan ”Kelam yang tersisa seusai Blok 11”).

Standar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s