Analisis Masalah

UPEP

Unit Pengembangan dan Evaluasi Pendidikan, begitulah kepanjangan dari UPEP. Ia telah lahir jauh sebelum sistem KBK “dipasarkan”. Tugas UPEP di masa lalu, yang saya sedikit ketahui, ialah mengembangkan dan mengevalusi pendidikan yang tengah berjalan. Agar mengerti apa yang akan dikembangkan, personil yang ada dalam unit ini berkepentingan memantau proses pendidikan yang tengah belangsung. Target yang harus dipantau tentu saja bukan hanya pendidikan dokter umum, tetapi juga segenap Program Studi yang ternaung di bawah bendera Fakultas Kedokteran.

Bagaimana dengan tugas UPEP kini, ketika sistem pendidikan yang diterapkan berubah menjadi sistem KBK, saya belum mengetahui jelas, meskipun saya pernah duduk di kepengurusan UPEP. Namun menurut hemat saya, tugas UPEP tidak berubah, kecuali beban kerjanya menjadi lebih berat karena di efka kini tengah berjalan dua sistem perkuliahan: sistem lama dan KBK. Divisi yang menanggung pekerjaan lebih banyak tentu saja monitoring dan evalusi. Divisi ini, sekali lagi menurut saya, bukan hanya memantau dan menilai sistem KBK, tetapi juga sistem pembelajaran konvensional yang kini masih ada.

Dan lebih krusial lagi ialah kelas peralihan, yaitu kelas terakhir yang melakoni sistem perkuliahan konvensional (semester IV). Perlakuan apa yang harus diterapkan kepada mereka jika satu (atau lebih) mata kuliah tidak lulus? Lazimnya, mereka akan mengulang kuliah tersebut pada semester yang sama tahun berikut, sementara kini mereka tidak lagi memiliki “tahun berikut” itu. Rombongan KBK kini telah duduk di kursi semester III, dan tidak lama lagi akan menempati “ruang belajar” semester IV.

Tapi, sudahlah, saya bahasakan dahulu persoalan KBK ini.

Setidaknya ada dua hal pokok yang perlu dipantau dan dinilai demi keberlangsungan proses pembelajaran secara benar. Pertama materi ajar, yang betul-betul mesti dipersiapkan dengan benar. Kedua, tentu saja pemilihan dosen yang akan menguliahkan materi dimaksud. Kedua hal itu jelas mesti diserahkan kepada ahlinya. Seorang dosen (apalagi tutor) terpilih sebagai pengajar (atau penutor) hendaknya didasarkan pada kompetensi, atau keahlian, yang telah ia miliki. Keahlian itu terbaca dari ijazah, atau sertifikat. Jika sertifikat tidak dipunyai, keahlian dapat juga dinilai dari keaktifan calon dosen itu dalam bidang yang akan dia kuliahkan. Seandainya seorang akan dipilih menjadi dosen mata kuliah komunikasi, sekedar mengambil contoh, sementara brevet keahlian ilmu komunikasinya tidak ada, dia mesti membuktikan kalau dirinya meminati dan telah menggeluti ilmu komunikasi. Konkritnya, dia wajib mempunyai tulisan ilmiah yang pernah diterbitkan di media, atau jurnal, (tentu saja yang terakreditasi) keilmuan dimaksud.

Azas kompetensi ini agaknya tidak pernah dijadikan dasar pijakan dalam pemilihan sebagian dosen pemberi kuliah, tutor, pembimbing skill-lab, atau penguji soca. Saya pernah, pada satu rapat koordinasi Blok 1 angkatan pertama KBK, mengusulkan basis kompetensi ini, namun tak pernak digubris. Waktu itu, pada rapat mingguan sehabis sholat jum’at, ketika tutorial (juga pembimbing skill-lab) hendak diselenggarakan minggu depannya dan dosen yang menjadi tutor baru segera dipilih, SDK (orang UPEP) mengusulkan nama saya pada urutan pertama (dia menyebut nama saya pertama kali); namun saya cepat-cepat beraksi: “Tidak bisa demikian. Kita jangan tergesa-gesa memilih sebelum terlebih dahulu menentukan kriteria tutor”, tanggap saya.

“Kriterianya sudah ada, yaitu sudah mengikuti perlatihan tutor. Itu saja”, jawab SDK.

“Itu salah satu kriteria. Kriteria ini pun belum bisa dipedomani karena seselesai mengikuti perlatihan tidak diadakan semacam ujian apakah seseorang dapat dinyatakan lulus dan berhak menjadi tutor …”.

“Begini saja. Kalau begitu pemilihan tutor kita serahkan pada ketua Blok, bagaimana?”

“Terserah, asal jangan lupa menyusun kriteria”.

Tak berani bersu’uzon, saya merasa segala sesuatu seolah telah jernih, selesai. Dosen tutor, tak usah dikhawatirkan lagi, pasti (sang ketua Blok, YON, menyebutnya Insya Allah) terpilih yang kompeten dan bermartabat.

Idealnya begitu, tetapi faktualnya bertolak-belakang. Mereka yang terpilih, tercetak hitam putih pada lembar SK Dekan, banyak yang tidak memiliki kompetensi di bidang komunikasi. Saya masih ingat setidaknya dua nama, yang di-SK-kan Dekan sebagai pembimbing skill-lab, namun saya tahu betul mereka tidak mumpuni. Sebagai contoh, NS yang menyatakan dirinya tidak terampil menggunakan komputer (tapi terbilang in-group dengan personil UPEP), tidak mampu membuat materi presentasi dengan power point, dan kerap menghadapi banyak kendala ketika mengakses internet, terpilih sebagai salah satu dosen pembimbing skill-lab. Begitu pula ST, yang selalu tampil dengan power point bagus, yang diklaimnya sebagai buatan sendiri, dapat saya buktikan: dia mengupah orang lain untuk membuat atau mengunduh power point yang kebetulan telah siap di internet. Skill-lab pada Blok 1 berupa praktikum menggunakan komputer: mengakses internet untuk menemukan jurnal ilmiah kedokteran (membiasakan penggunaan searching engine, yang berarti perlatihan memformulasikan kata kunci), dan membuat presentasi dengan power point.

Ketika hal ini saya keluhkan pada salah satu personil UPEP, dia cuma bergumam: “Namamu kan juga dicantumkan.” Padahal yang saya maksudkan bukan apakah nama saya dicantumkan atau tidak, melainkan pemilihan berbasis kompetensi itu. Ketika saya mengeritik lebih jauh, si Pejabat UPEP menjawab begini: “Ini kan baru Blok satu. Namanya saja baru mulai, masih belajar, tetapi tidak usah khawatir ke depan pasti akan lebih baik.” Ini ucapan penghibur, penumbuh semangat, atau sekadar upaya agar saya tidak berkelanjutan mengeritik.

Saya sepakat dengan niat untuk terus memperbaiki diri, yang tersurat sebagai ‘ke depan pasti lebih baik’. Sayang sekali (mestinya dibaca: celakanya) tidak pernah terlihat tindakan untuk menerjemahkan niat itu menjadi kenyataan. Pada Blok yang pernah saya ikuti saja (sebagai tutor dan penguji soca) tidak terkelebat kegiatan yang mengarah ke jurusan yang lebih baik. Pemilihan dosen pemberi materi (kecuali mata kuliah berbasis Bagian), atau tutor, terbukti tidak berbasis kompetensi. Pilihan terkesan hanya berdasarkan hubungan pertemanan. Lihat saja dosen pengajar Blok 3 (metodologi), orang yang terpilih untuk mengajar teknik penulisan proposal terbukti tidak mampu menulis proposal dengan benar (terbaca dari proposal tesis, dan tesisnya). Belum lagi mereka yang tidak mengerti metodologi diangkat sebagai pengajar metodologi.

Saya pernah mengeluhkan itu ke UPEP, tetapi apa jawabnya? “Sejawat yang memang mempunyai brevet metodologi memang tidak ada. Tetapi bagaimanapun, mereka yang ditugasi mengajar kan telah lulus pasca sarjana. Itu berarti, bahwa mereka juga belajar metodologi, dan lulus. Lulus kan berarti menguasai”.

Saya cuma bergumam dalam hati: “Siapa bilang tidak ada dosen di sini yang memiliki brevet metodologi? Siapa bilang kalau lulus bab metodologi ketika mengambil pasca sarjana telah berarti memiliki kwalifikasi di bidang metodologi?” Jika materi yang digunakan dalam penelitian untuk pembubatan tesisnya, ya, boleh dibilang mungkin. Akan tetapi itu kan hanya salah satu bentuk metodologi dari sekian banyak metodologi penelitian. Belum lagi saya bicara tentang keterampilan menulis proposal, yang dipercayakan pada seseorang yang saya kenal betul tidak kompeten di bidang penulisan. Saya sudah membaca tesisnya: dari metodologi hingga pola penulisan proposal (tergambar dari Bab I tesis itu) sebagian besar keliru.

Saya pernah suatu kali berkata pada LEG dan YON (di tempat terpisah), dua personil yang dulu pernah menjadi mahasiswa saya, yang kebetulan duduk di jajaran monitoring dan evaluasi, yang saya anggap cukup religius, yang tutur sapanya santun, yang jidatnya tampak bundaran coklat pertanda (kata orang-orang) rajin sujud di atas sajadah (mudah-mudahan usia religiusnya melangkahi usia fisik), bahwa mereka harus menyerahkan segala pekerjaan kepada ahlinya. Jika tidak, tunggulah saat kehancuran bagi mereka. Mereka pasti telah hafal kalimat pernyataan ini, bukan rekaan saya, melainkan sabda Rasullullah.

Jika pendapat ini ditolak, UPEP ganti nama saja dengan UPEK.

Standar

4 thoughts on “UPEP

  1. Alumni berkata:

    Sekarang ada sekitar 400 mhs/i di FK ini dengan program KBK, artinya dibutuhkan 40 orang utk tutorial.Tahun depan, kalau masuk mhs/i baru 200 orang lagi dalam arti 600 orang dan butuh dosen lebih banyak lagi. Belum lagi ngurusi Jambi yang tahun ini juga KBK dengan mahasiswa/i kurang lebih 100 orang (Ndak tahu dengan Muhammadyah, apakah uda merima mhs/i tahun depan ?). Buat adik-adik program lama atau program studi lain siap-siap lah tahun depan tidak ada lagi dosen yang akan mengajar anda sekalian. Apalagi UPEP yang notabene katanya pada saat lustrum kemarin hanya pelaksana bukan pemegang keputusan. Jadi. adik-adik program lama harus bertindak cepat, kalau tidak jangan-jangan anda tidak pernah akan jadi dokter Untuk temen-temen di UPEP, para alumni diluar memonitor sepak terjang anda. Jangan kecewakan kami diluar, karena saya agak tahu jumlah guru-guru saya di FK ini yang kebanyakan udah mau pensiun semua.

  2. just so u know berkata:

    UPEP??

    YON???

    saiia mw tanya..

    kemana janji yg Anda berikan untuk menampilkan secara tertulis smua nilai mentah kami para mahasiswa KBK??

    agar kami bs sedikit lebih mengerti bagaimana kalian menilai smua yg telah kami kerjakan???

    Bahkan banyak dari kami yg mulai curiga ttg adanya CAMPUR TANGAN pihak atas dalam management nilai…

    Kok bisa??

    Karena km tdk tw bagaimana kalian para dosen menilai kemampuan kami dlm menyelesaikan smua ujian??

    tau2 nilai keluar..
    Lulus ato remedial..
    A/B/C/D/E..

    padahal sdh lama Anda menjanjikan hal tsb..
    tdk bisakah kita mulai memegang perkataan kita sendiri???

    Dan lagi ttg OSCE blok 8 kmrn..
    knpa kami tdk diberitahu bahwa soalnya dlm bentuk skenario???
    Apakah itu tdk penting??

    Sama seperti menjalankan tutorial dan SOCA..pola yg dipakai sama..
    menggunakan 7 step..de el el..

    Begitu pula pikiran kami thd OSCE blok 8..
    yaitu sama seperti Lab Skill..
    Lakukan smua pemeriksaan step by step..
    Bukan berupa skenario..

    Apakah KBK masih dijadikan alasan kami tdk diberitahu ttg hal tsb?

    Atau mungkin menurut kalian itu memang tidak penting bagi kami…

  3. Wong Waras berkata:

    Untuk budak bukit….
    lolo nian awak ni panggilan Bung sangatlah bernilai bila diucapkan terhadap seseorang…
    Dan panggilan ANDA adalah sapaan yang sangat baik menurut tatabahasa(Inggris…) sebagai kata ganti orang kedua tunggal….
    Kalu nak mdipanggil dengan sebutan Bapak… Tuan…. inilah siso-siso penjajahan Belanda??? Dasar buyan nian…

  4. guahiraku berkata:

    sekedar renungan
    Masuk sekolah favorit bagi mereka hanya jadi impian. ”Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sebelum dia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia rusakkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia menafkahkannya, serta tentang ilmu yang dia amalkan.” (HR At-Tirmidzi)

    Maka, bisa disimpulkan bahwa pendidikan itu sangat penting dan menjadi hak setiap orang. Jangan lagi mengimpit orang miskin karena mahalnya biaya sekolah untuk anak-anak mereka. Angka-angka pengangguran sebagian di antaranya disebabkan oleh minimnya bekal pendidikan mereka. Bahkan, bagi sebagian rakyat kecil, mencari makan saja susah, apalagi membiayai anak sekolah. Subhanallah. Di luar sana, masih banyak anak putus sekolah. Maka, tidak ada salahnya jika kita menyisakan sebagian dari rezeki kita untuk berinfaq kepada anak yatim dan orang miskin.

    ”Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ’Berilah kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah. Niscaya, Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ’Berdirilah kamu’, maka berdirilah. Niscaya, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujaadilah: 11). prasetyo_pirates@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s