Analisis Masalah

Rakus di Semester Khusus

Semester khusus ialah wujud “kecintaan” Pimpinan (boleh jadi berbentuk dosen, guru, atau sekadar PNS penyampai materi kuliah) terhadap mahasiswa. Pemberlakuan semester ini (disebut pula sebagai semester pendek, karena dijalankan hanya sekitar 4 minggu) diniatkan untuk memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengubah nasib mereka: meningkatkan nilai satu derajat, misalkan, dari poin C ke titik B. Karena pendeknya waktu yang dialokasikan (kira-kira sepertiga waktu semester reguler), jumlah SKS yang diperbolehkan diambil hanya sepertiga SKS semester reguler. Sejauh yang saya tahu, besaran SKS yang cukup dipatok sebatas angka 6 sampai 8. Namun kenyataannya PD I menetapkan bilangan 15, seperti terbaca di papan pengumuman oleh semua orang yang berkepentingan dengan SP.

Baiklah, saya anggap penetapan angka 15 itu memang telah dihitung dan dipertimbangkan dengan bijak, bukan hanya berlandaskan desakan sebagian mahasiswa yang maunya cepat lulus dengan indeks prestasi tinggi. Maksudnya, angka 15 itu muncul dari analisis multivariat sejumlah data dengan menggunakan software anova dalam notebook yang ditanami chips dual core two; meskipun saya tidak melihat jejak kalau dia memang benar-benar telah berupaya bergerak ke arah sana.

Sayang sekali, “kebaikan” itu kemudian terbukti tercederai oleh ulah “sebagian orang”: dalam praktek, selama pendaftaran dan pembayaran SP, angka 15 yang telah menjadi ketetapan itu menggelembung hingga menyentuh bilangan 32. Bandingkan dengan besaran SKS yang biasa terambil pada semester reguler (sekali lagi, semester reguler, bukan SP): belum seorang pun mahasiswa asuh saya pernah demikian rakus meraup SKS sebanyak itu.

Alasan mengapa angka 15 kemudian dengan mudah dibengkakkan menjadi 32 tak dapat saya pastikan, namun samar-samar bisa saya simpulkan. Banyak orang berargumen: “Demi membantu mahasiswa agar cepat lulus. Mereka memohon diperbolehkan mengambil SKS lebih dari 15, dan mereka menyatakan sanggup. Saya berpendapat jika mereka telah mengatakan sanggup, berarti mereka memang sanggup. Kita sebaiknya tidak meng-underestimate mahasiswa…”

“Kalau begitu, mengapa tidak diizinkan ambil 156 SKS saja, biar semester depan sudah mengantongi gelar Sarjana Kedokteran,” tukas saya.

“Wah, tidak boleh begitu, dong …”, tanggapnya.

Sayang sekali, wujud fisik “orang” itu tak bisa dipastikan dengan mudah. Mereka yang mestinya bertanggung-jawab atas penentuan itu justru sibuk saling lempar tanggung-jawab. Dokter LLT, seorang dosen senior yang telah berusia lebih dari 60 tahun, memuntahkan kemasygulannya ketika khabar tak sedap ini saya tiupkan telinganya, sembari menunggu rapat praraker KBK dimulai. “Mahasiswa memang sering menipu,” dia berkata dengan bibir manyun, “Mereka mengambil SKS sebanyak mungkin dengan harapan siapa tahu lulus. Ini namanya kan coba-coba. Sebangsa judi lah, begitu…”. Saya tidak menanggapi, karena saya sudah tahu kalau senior saya ini tidak tahu informasi. Penggelembungan itu bukan tanpa restu Pimpinan. Saya mendengar banyak sekali katabelece (memo) beterbangan ke Bagian Pendidikan.

“Mahasiswa asuh dokter LLT ada yang ikut SP?”, saya masih saja iseng bertanya.

“Ya, jelaslah, cuma bayar 20 ribu satu SKS. Murah.”

“Berapa SKS yang mereka sodorkan, dan berapa yang dokter izinkan serta tandatangani?”

“Nah …, kalau soal itu saya tidak begitu jelas. Saya percaya saja pada mereka, sehingga tidak memeriksa …”

Saya sebetulnya ingin mengatakan justru mahasiswa asuh dokter LLT yang banyak membabi buta memborong SKS. Apa dia tidak menyadari itu? Jika dia menjawab “ya”, berarti dia bukan dosen PA yang “baik”, yaitu mereka yang menjalankan apa yang diamanahkan buku panduan tugas dan kewajiban Dosen PA (bukan Patologi Anatomi, melainkan Pembimbing Akademik); dan dia jelas tidak boleh begitu saja “cuci tangan”. Tidak boleh? Bagaimana jika dia ternyata telah mulai uzur?

Tetapi sudahlah, anggap saja angka 15 ini benar adanya. Mahasiswa yang ber-SP dengan 15 SKS berarti terbebani oleh setidaknya 6 sampai 7 mata kuliah. Satu mata kuliah terdiri paling tidak dari 10-14 bab, dan itu berarti si mahasiswa harus mengikuti paling sedikit 10-14 kali kuliah tatap muka. Itu baru satu mata kuliah (satu Bagian). Bagaimana kalau si mahasiswa betul mengambil 6-7 mata kuliah? Dan itu mesti diselesaikan dalam waktu amat singkat: 1 bulan. Dengan beban 15 SKS saja mereka mesti kerja berat, (meskipun secara fisik masih tampak santai, dan berkesempatan ber-friendster-ria di dunia maya), apalagi 32?!

Seorang pekerja administratif pada suatu pagi saya lihat mondar-mandir di depan ruang Pejabat Fakultas sembari menenteng setupuk kertas putih. Kertas itu ternyata adalah fotokopi sejumlah data mahasiswa yang mengambil SP, yang ditolak oleh Puskom lantaran kelebihan SKS-nya keterlaluan. Saya tak berani bertanya banyak kepadanya, karena takut kalau nanti dia dimarahi Pimpinan jika ketahuan terlalu intens bercaka-cakap dengan saya. Namun demikian, saya tahu beberapa hal langsung dari orang Puskom.

“Dengan SKS sebanyak itu, bagaimana nanti mutu hasil lulusan dokter kelak,” celetuknya, dan kemudian mengisahkan tetangganya di suatu desa meninggal akibat kecerobohan dokter. Dokter itu ternyata lulusan Fakultas Kedokteran ini.

“Yang meninggal itu sebetulnya masih kerabatku. Dia pada suatu hari terkena pantak ikan lele di kelopak mata. Orang tuanya membawa A ke dokter B di Puskesmas X. Dokter tidak menganggap sengatan ikan lele itu sebagai masalah. Katanya, tidak apa-apa, tenang saja, tidak usah khawatir, tidak berbahaya kok. Dan si A disuruh bawa pulang. Tetapi tiga hari kemudian anak itu buta. Saya yang bukan dokter saja tahu kalau pantak lele itu mengandung bisa, dan kebutaan itu pasti ada hubungannya dengan bisa lele.”

Saya tidak bisa menghakimi si dokter B. Namun begitu, sebagai dokter yang mengepalai Puskesmas, dia mestinya tahu jika luka di kelopak mata (jaraknya dekat sekali dengan syaraf optik yang tersembunyi di belakang bola mata) tidak boleh dianggap sepele; terlebih luka akibat sengatan (pantak) lele. Namun, bagaimanapun, saya yakin kalau semasa mahasiswa dokter ini tidak mengalami inflasi SKS hingga menyentuh angka 32. Jika suasana pendidikan belum terinflasi saja dapat menghasilkan produk seperti dokter B, bagaimana dengan produk masa depan yang pernah terkontaminasi oleh program 32?

Kalau saya sih, santai saja. Biarkan saja mahasiswa mengambil bahkan kalau mungkin 156 SKS. Dengan begitu mereka tertolong karena bisa cepat lulus. Barangkali inilah saatnya bagi Pimpinan untuk berpikir membangun sebuah fakultas kedokteran terbuka. Mirip Kejar Paket A, B, dan C di sekolah dasar dan lanjutan. Gampang, kan. Gitu aja kok repot.

Standar

5 thoughts on “Rakus di Semester Khusus

  1. Kemaruk berkata:

    Ah si Booomm pasti orang jawa yang baru bisa bersepatu. Yang dimaksud rizkiadi itu, kalau seorang mahasiswa dpt 32 sks, dalam arti dia ngambil kira2 8-10 mata ajar (utk yang 3 atau 4 SKS). Satu mata ajar aja berapa bab? Apa dia mampu, sedangkan yang normal aja (20 SKS) banyak yang nombok? Nah yang ini benar-benar gendeng, dak waras, ndeso

  2. Anak Tiri berkata:

    Untuk pak Rizkiadi, gimana kalau dosennya yang rakus pak. Sebab ada dosen yang ngajar lebih dari 1 mata ajar dan sering mangkir lagi. Siapa yang mengevaluasi yang bersangkutan pak? Kita anak program lama seperti dianaktirikan semenjak KBK berlangsung. Dosennya ada tapi ngajar KBK dulu. Ini karena duit ya pak?

  3. Borokokok berkata:

    Untuk Booom……. Yang raakus itu manusia serakah yang tidak tahu diri akan kemampuannya yang terbatas!! mau cepet jadi dokter kok pake duit?…..(hitung saja berapa income sang dosen rakus yang maunya ngajar banak tapi mangkirnya juga banyak (banyak kreditan kali?…..)
    Jangan2 setelah jadi dokter malah gak bisa dan gak tahu apa-apa!
    Inget yang dihadapi nanti manusia… bukan manekin…. seperti yang direncanakaen skill lab?……

  4. Wong Kito Jugo berkata:

    dokter hewan memang dak disumpah pecak kito dokter “wong” jadi kendak-kendak dio bae…….
    wong baro melek duit…. pengen jabatan……..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s