Renungan

Irfanuddin

Buat Dik Irfanuddin (Tulisan yang saya torehkan bukan dibuat untuk mencela, melainkan untuk membersihkan diri saya dari gosip-gosip tak sedap, yang tidak bisa saya hapus melalui dunia nyata. Yang mencela justru “sejawat anda”.)

Masya Allah, kamu berani sekali menempelkan nama jelas. Saya hampir menangis membaca komentar kamu. Tetapi terus terang, saya bukan bersembunyi, melainkan karena tidak mau ada orang di luar institusi kita tahu tentang ceritera ini. Kamu ingat apa yang pernah kita bicarakan tentang skill-lab itu? Kita kan sudah punya kata putus “ya”, yang berarti bahwa keputusan itu tidak akan dimentahkan lagi.

Konkritnya, tidak akan ada lagi rapat Blok tentang masalah itu. Namun, saya tidak habis pikir, tiba-tiba saya menerima surat yang dialamatkan ke Kepala Bagian Gizi (ditembuskan ke saya, dokter Dimyati, dan kalau tak salah ingat dokter Nazir) untuk segera merancang penuntun Skill-lab. Saya jelas tidak sudi (bukan keras kepala) mengikuti perubahan mendadak seperti itu. Bukankan kita yang hadir dan berkesepakatan di situ seluruhnya muslim?

[Saya sebelumnya tidak pernah menceriterakan “our secreat meeting” kepada Kepala Bagian hingga 2 minggu lalu ketika berita tentang ketiadaan soal saya pada ujian mcq Blok 6 bertiup kencang sebagai gosip tentang “kemasygulan saya soal uang”. Sementara Kepala Bagian mencap saya sebagai “tidak bertanggung-jawab” karena keanggotaan saya di Blok merupakan wakil Bagian, dan oleh karenanya wajib bertanggung-jawab memikul seluruh tugas terli dengan Blok. Konkritnya: tidak boleh lagi ‘merepotkan Bagian’ seperti pembuatan penuntun skill-lab tempo hari.

Penjelasan saya tentang keputusan kita bersama tak digubris mereka. “Orang bisa saja berubah pikiran”, kata sang Kepala: ucapan yang tentu saja tidak dipikir secara matang, yang terkesan bertujuan membela sejawat (entah siapa?) sembari memojokkan saya; terlebih setelah kalimat berikut terlontar dari mulut beliau: “…lain kali tunjukkan kinerjamu yang baik, sehingga orang-orang percaya bahwa kau bisa bekerja dengan baik..”].

[Saya tidak sedang menyatakan bahwa kinerja saya pada Blok 6 telah baik, apalagi “kinclong”. Namun jika disebut jelek (meski sekadar disiratkan), jelas tidak benar. Saya telah mengajar tepat waktu, dan membuat materi ajar sebanyak 95 halaman diketik dengan times new roman dengan besar huruf font 11. Meskipun materi ajar ini tidak dibagikan gratis, dan mahasiswa tidak diizinkan mengkopi, saya tidak pernah (setengah) memaksa (seperti yang dituduhkan arismonyet dalam ….) mahasiswa untuk membeli. Manuskrip buku itu tidak saya serahkan ke UPEP karena lembaga ini tidak bisa memastikan buku itu tidak bakal diperbanyak secara illegal. Perlu kamu ketahui, bahwa bahan kuliah saya itu terambil dari beberapa bab buku saya yang telah dan/atau tengah dalam proses penerbitan. Yang justru suka “memaksa” beli diktat ialah sejawat kamu sendiri: diktat yang dikumpulkan dari sebagian besar gambar hasil nyeken materi dari buku teks (apa bedanya dengan menjual CD/DVD bajakan?). “Pemaksaan” itu terjejak pada keharusan membuat jawaban soal di diktat itu juga, tidak boleh di kertas lain. Jawaban tak akan diperiksa (berarti tidak dinilai) jika mahasiswa ngotot menulis selain di diktat itu].

Kamu ingat tidak pada suatu hari menjelang rapat Blok 6, saya lupa tanggalnya, saya pernah berkata bahwa jika kamu benar akan saya bela (dan itu saya buktikan), tetapi jika salah akan saya labrak. Kamu barangkali (mudah-mudahan) juga tidak lupa kalau pada ujian soca Blok 5 saya pernah (dengan nada “marah”, maaf, sesungguhnya bukan marah, melainkan stres karena skenario yang kamu buat bisa menyesatkan jawaban mahasiswa, dan itu berarti saya membiarkan kamu berbuat zalim) “memaksa” kamu mencabut skenario yang kamu buat, dan kamu mau. Keputusan itu amat saya hormati, dan khabar itu juga saya sampaikan ke teman-teman.

Saya juga memaksa kamu mencabut skenario lain (kalau tak salah insulin), tetapi kamu menolak karena rongsokan itu bukan milik kamu. Kamu bilang itu buatan X (saya tak hendak menuliskan nama jelas, karena Blog ini diplototi banyak mahasiswa seantero fakultas kedokteran) dan itu juga saya hargai, karena mencabut atau merevisi bukan wewqenang kamu, melainkan divisi monev. Kamu bilang, kalau saya masih saja bernapsu mendesakkan pencabutan, datangi saya dokter X.

Ya, saya temui dokter X. Saya paparkan maksud saya kepada dia. Jawabnya: “Susahnya di mana sih. Apa yang susah? Anda arahkan saja mereka. Arahkan ke penjelasan tentang recombinan, pokoknya seperti yang tertulis dalam check-list…”. Saya segera lari sebelum sang dokter X menyelesaikan penjelasannnya lantaran khawatir kalau emosi meluap hingga terjadi persinggungan fisik. Saya tidak habis mengerti bagaimana seorang seperti dokter X bisa ngotot tidak mau mencabut skenario yang menurut bayak penguji soca (bukan hanya saya, tetapi yang berani bersuara hanya saya seorang) “salah”, dan berucap: “arahkan saja”. Dia itu kan tutor of the tutor. Bukankah penguji soca tidak boleh besuara selama ujian soca berlangsung? Apalagi mengarahkan?! Dia terkesan mengingkari apa yang telah dia ajarkan semata untuk membela skenarionya. Lantas, kalau Arisman protes, apa itu salah? Untung cuma saya. Jika mahasiswa ikut unjuk rasa, bagaimana?

Saya pernah menaruh harapan besar terhadap kamu (juga sejawat kamu yang muda-muda) ketika kamu melontarkan keinginan untuk menjadi staf pengajar. Kamu masih ingat tidak saat ketika kita duduk-duduk di depan Bagian anatomi, sembari menunggu pacar kamu (kamu belum menikah waktu itu), dan kamu mengeluhkan tentang tulisan kamu yang dialihnamakan oleh dosen kamu menjadi karya mereka. Saya hakul yakin kalau kamu ingat.

Saya waktu itu juga mengatakan bahwa menulis bukanlah hal yang mudah, meskipun sebagian dosen banyak orang mengatakan “ah, gampang, semua orang bisa nulis, apalagi kita-kita yang sudah terpelajar ini; masalahnya cuma tidak sempat saja”. Dan kamu sepakat akan hal itu.

Dan itulah yang kini tengah saya perjuangkan, dan sepertinya tidak menimbulkan gema di selasar institusi ini

Masalahnya, bukan saya ingin diperhatikan, bukan pula ingin populer. Kalau sekedar populer, maaf, saya sudah populer. Buku saya sudah dicetak-ulang tiga kali sebelum berusia terbit tiga tahun; di samping telah memperoleh penghargaan tingkat nasional dua kali (satu-satunya dari fakultas kedokteran, dan satu-satunya dari universitas ini). Pembaca buku saya bukan hanya mahasiswa kedokteran semester VI, tetapi juga guru besar. Peredaran buku saya bukan hanya di warung mahasiswa Inderalaya, tetapi jauh sampai ke Maluku (saya banyak mendapat tanggapan lewar SMS dari mereka). Di Palembang ini, memang, buku itu sepertinya “tidak berharga”, tetapi aneh beroleh reward berskala Nasional.

Jadi, keliru sekali kalau si “arismonyet” (sesungguhnya identitas si monyet ini sudah terlacak) menyangkakan saya sebagai “gagal ngetop”.

Yang saya cemaskan ialah skenario (utamanya skenario soca) yang berbahasa rancu sehingga menimbulkan interpretasi ganda (lebih dari satu). Jika itu skenario tutorial, ya, “tidak masalah” (bukan berarti tidak bermasalah, bung). Lha, kalau skenario soca? Sebab penguji (penguji tidak dibenarkan mengarahkan, begitu kan tuntunan perlatihan tutor yang pernah kalian lantunkan dulu?) hanya ditugasi menandai check list. Jika mahasiswa peserta ujian tidak menjawab sesuai check list, berarti mereka salah.

Bagaimana kalau sebuah skenario soca bisa diterjemahkan (diinterpretasikan) ke dalam dua (atau bahkan lebih) jawaban? sementara jawaban yang ada dalam check list hanya satu?

Sekali lagi, mudah-mudahan kamu masih ingat (dan Drs. Sadakata juga) sebuah skenario soca pada Blok tiga (3). Skenario yang saya maksud (sayang sekali saya tidak mengoleksi skenario itu) bisa diterjemahkan menjadi dua jawaban: cross-sectional dan cohort. Namun, sayang sekali, jawaban yang tercetak pada lembaran check list hanya “cross-sectional”, sementara sang mahasiswa menjabarkan cohort (padahal skenario itu bukan hanya bisa ditejemahkan ke dalam metodologi cross-sectional, tetapi juga cohort dan case controle. Jika saya mengacu pada check list yang dibuat itu, sang mahasiswa tidak lulus. Sayang sekali, kan. Si mahasiswi telah berpresentasi dengan nyaris sempurna, berbahahasa Inggris dengan “fluently”, apakah karena “kekeliruan” pihak penulis dalam membahasakan skenario si mahasiswi menanggung derita tidak lulus?

Mahasiswi itu mestinya mendapat nilai 100, tetapi hnya saya beri angka 96 (saya lupa tepatnya berapa?) semata karena dia mengenakan blus agak pendek, sehingga jejak umbilikusnya mengintip ketika ia mengangkat tangan untuk menjepitkan kertas di papan tulis (silahkan kamu cocokan “pengakuan” saya dengan dokter Yanti Rosita: beliau mendampingi saya ketika itu).

Soal tuduhan teman kamu “saya mau menang sendiri”, coba kamu telisik tulisan saya apakah kalimat baik tersirat maupun tersurat yang bernada mau menang sendiri?

Kamu mungkin masih ingat kejadian rapat pada Blok 1 setahun silam?. Ketika tutor hendak dipilih, dan Sadakata berucap: “…kalau begitu tutor kita tawarkan dengan Arisman dan Teodorus …”. Namun saya cepat-cepat berdiri, dan berkata, “Nanti dulu. Tentukan terlebih dahulu kriteria tutor. Nanti kalau saya yang dipilih Teo akan protes, kalau Teo dipilih saya juga protes. Jika kriteria sudah dipatok, mari kita cari siapa saja dosen yang memenuhi kriteria itu”.

Berkali-kali saya menyuarakan itu, baik di tengah rapat resmi maupun di selasar (mengutip bahasa “arismonyet” penggemar saya), tetapi sepertinya tak ada tanggapan. Sesungguhnya, bukan tanggapan itu benar yang saya perlukan, melainkan upaya yang konkrit ke arah sana. Protes saya mengalir bukan karena saya jarang ditawari menjadi tutor, melainkan karena tugas tutor tidak gampang. Ia bukan sekadar duduk, diam, dan kemudian menandatangani honor. Dia juga bukan bertindak sebagai corong pembuat tutor. Dia, jauh dari situ, harus memiliki kemampuan berkomunikasi, di samping penguasaan bahan yang akan dibahas.

Saya pernah berkali-kali mengutarakan itu pada kamu, termasuk sekali dengan Legiran (ketika pada suatu ketika dia berpapasan dengan saya di selasar dekat warung fotokopi dan musholla). Saya juga telah membahasakan kepada kamu, bahwa bukan masalah terpilih atau tidak terpilih, melainkan kriteria telah dibuat dan dilaksanakan. Saya juga pernah menegaskan pada kamu, bahwa seandainya saya tidak terpilih pun sepanjang 22 Blok tidak akan membuat saya kecil hati.

Lantas, saya (juga sahabat saya, bahkan yang berdinas di luar Instansi dan Propinsi ini) serta merta terheran-heran ketika diri saya didakwa sebagai tukang kacau (siapa lagi jika bukan sejawat kamu). Dalam hal apa saya pernah mengacau? Saya justru cenderung menutupi aib sejawat, setidaknya hingga Blog ini belum diciptakan (Sekedar informasi, ini bukan Blog milik saya, melainkan teman yang menginginkan saya tidak cuma “ngomel” di selasar). Saya memperoleh informasi kalau ada oknum dosen yang diadukan oleh mahasiswa akbid swasta ke Dekan karena telah melakukan pelecehan seksual, tetapi tidak saya beritakan kepada siapa pun. Ketika “sekelompok orang-orang kecil” mulai panas karena rekan mereka dipecat karena ulah seorang dosen, dan dosen itu tidak membela, saya bahkan berusaha “mendinginkan dan menenangkan”. Jika saya memang pengacau, sudah pasti dosen yang tidak bertanggung-jawab itu kini telah ditumbuhi belatung, atau setidaknya masih menginap di ruangan ICU. Coba tunjukkan mana titik “pembuat kekacauan” yang diributkan itu. Kamu pasti setuju kalau saya katakan kedua kasus itu adalah bara yang potensial untuk ditiup menjadi kekacauan, tinggal menuangkan beberapa tetes “bensin”, dan buuum, ledakan pun terjadi.

Kita pernah bersama-sama memeriksa kontingan PON pada tahun 2000, dan kamu menggerutukan “kesewenangan” senior kamu, dan saya berucap: “Jika kamu telah senior kelak, kamu jangan mengulangi perbuatan itu”, dan kamu mengangguk waktu itu.

Tolong sampaikan kepada sejawat kamu, bagaimana mungkin TRI mendominasi sampai 33 kali pertemuan, sementara BAB dalam Blok 5 hanya berjumlah 22; dan apa tanda-tanda yang teramati kalau si TRI ini kaya mendadak. Tolong kalian cek SK Dekan dari Blok satu (2006) hingga Blok satu lagi (2007): initial nama siapa saja yang dominant?

Saya terpaksa menuliskan TRI di sini terlepas dari hubungan kekerabatan. Dia dosen yang tengah diupayakan untuk difitnah. Soal kekayaan, coba kalian cek di Badan Pertahan. Dia telah memiliki tanah seharga 500 juta, punya kebon seharga 590 juta, punya rumah yang sekarang ditinggali, dan mobil: seluruhnya plat hitam (itu baru yang saya ketahui saja). Laptop-nya dibeli jauh sebelum Blok 5 di-launcing. Laptop saya demikian pula, dibeli dengan uang sendiri (meski ngutang), bukan bantuan kredit dari Fakultas. Dan bagaimana pula kalian menuduhkan skenario “Karyo” sebagai karya pesanan TRI kepada saya? Saya tidak mungkin menulis demikian. Bukankah saya telah mengatakan pada kalian (utamanya kamu) bahwa jika sebuah skenario hendak diberi judul, maka judul itu harus menggambarkan isi skenario. Dan “Karya” adalah judul yang salah. “Sungai Durga” adalah contoh judul yang baik, meskipun dibilang jelek oleh arismonyet (maklum dia monyet).

Tanggapan tertulis “arismonyet” ini sekaligus menguatkan argumen saya bahwa menulis bukan hal gampang, karena salah membahasakan sesuatu berakibat lain dari yang tertera dalam otak sang penulis bego. Contohnya alinea di atas. Si penulis ingin menyudutkan TRI yang kaya mendadak sebagai Ketua Blog, tetapi (karena tidak mengerti teknik penulisan) dia tidak menyadari kalau tulisan itu bisa diarahkan ke arah Pejabat yang lebih Tinggi. Jika Ketua Blog saja bisa kaya mendadak, apalagi Ketua (termasuk si arismonyet tentu saja) UPEP, Dekan, dan Pembantu Dekan. Bukankah Ketua Blok itu berada di bawah UPEP, dan segala anggaran baru bisa dicairan setelah disetujui, paling sedikit, oleh Ketua UPEP?! Jadi, wajar kalau berembus suara miring tentang sebagain dari kalian: “Belum genap setahun telah membeli/mengganti mobil baru. Dari sini, sekali lagi saya ingatkan, bahwa Bahasa Menunjukkan Siapa Kamu Sebenarnya.

Lantas, apa yang telah saya sumbangkan kepada almamater, kecuali wira-wiri di selasar fk sembari ngobrol dengan mahasiswa, satpam, hingga cleanning servive. Pernyataan ini sungguh menyakitkan, bukan terhadap diri saya, melainkan orang-orang yang kebetulan kalian lihat sering bercakap-cakap dengan saya. Maksud kalian sebetulnya, barangkali, tidak menyakiti mereka, tetapi meledek saya. Namun karena salah membahasakan pikiran, ya, jadi begini ini: mengguratkan sakit hati pada banyak orang. Memangnya dosen tidak pantas berbicara dengan mereka. Memangnya mereka itu taik, atau babi? Jika orang seperti ini kelak menjadi pimpinan, wah, susah sekali saya menerka apa yang akan terjadi pada institusi ini kelak. Saya tidak perlu menuliskan “who the hell I am”, namun sekadar kalian ketahui bahwa ayah saya perintis kemerdekaan (di SK-kan Presiden pada tahun 1977), wak saya pahlawan nasional (pernah menjadi gubernur militer, menteri pertahanan dan banyak lagi: terakhir berpangkat mayor jenderal tituler). Namun demikian, untuk apa membanggakan keturunan? Saya sendiri tak pernah tahu apa yang telah saya sumbangkan pada istitusi ini? Tetapi setidaknya banyak orang Jakarta “kagum” ketika orang yang dijuluki monyet itu berasal dari luar Jawa.

Kemampuan berbahasa dengan baik dan benar jelas bukan milik FKIP jurusan Bahasa Indonesia. Bagaimana mungkin seorang (atau beberapa orang) dosen yang telah berkualifikasi pasca sarjana, yang memberikan kuliah pasca sarjana, berbahasa sama levelnya dengan murid-murid SMP, atau SMA. Coba kamu simak tulisan dalam komentar si arismonyet “…sekadar lulusan S2 yang berakreditasi C …”.

Si arismonyet sebetulnya ingin melecehkan saya, namun karena penguasaan bahasanya jelek (saya sebetulnya ingin menuliskan kurang, tetapi sofware statistik yang saya gunakan ngotot mengeluarkan klasifikasi “jelek”) dia secara tidak sengaja (atau dalam hatinya memang demikian) melecehkan banyak orang. Tidak usah jauh-jauh, di UPEP saja paling tidak ada 2 lulusan S2 yang si arismonyet maksudkan : SSL dan HDL (sekadar menyingkat nama). Mereka berdua cermabahkan tidak lulus toefl (kamu lihat saja sendiri pendapat dari pembaca di kolom komentar). Namun demikian, tolong sampaikan pada Pimpinan anda untuk lebih terampil mengendalikan jemari anak buah untuk tidak serta merta menekan keyboard (notebook itu dibeli atas bantuan Fakultas)

Sekedar kalian ketahui, begitu lulus dokter saya tidak mengalami kesulitan untuk melanjutkan study ke jenjang ng lebih tinggi di luar negeri (kalau saya mau). Tahun 1989 saya diajak Peter Underwood dan Dennis Gray (direktur Western Australian University) kuliah nutritional epidemiology, tanpa tes (tak percaya, tanya Prof, Rusdi). Selanjutnya, ke Thailand (Prof. Sonchai, saya tak tahu siapa yang kenal nama ini: Prof Chairil barangkali), Florida State University (direkomendasi Prof. B Nam; juga tanpa tes: konfirmasikan dengan DR. dr. Surya Chandra Surapati, matan dosen FK, yang kini fungsionaris PDIP, kakak ipar Doker SHP). Sementar Jakarta, Population Study UI (di bawah Prof. Alwi Dahlan) telah 3 kali mengundang. Lantas, mengapa tidak pergi? Bego, kan? Itu urusan saya. Oya, satu lagi, Quinsland University Australia. Nah, arismonyet dkk., yang saya ketahui cuma berkutat di Indonesia.

Tudingan bahwa saya telah mematikan UDIK tentu saja sebuah fitnahan besar. Saya juga telah tahu siapa pengirimnya. Ini satu lagi contoh oknum dosen yang ngomong tanpa dibekali data. UDIK ialah sebuah unit yang tidak tercantum dalam statuta. Kenapa dia dibentuk, mendingan kamu tanya langsung ke mantan PD II dokter Syahril Aziz DAFK, Mkes. Yang jelas, saya tidak mematikan UDIK, tetapi UDIK kollaps setelah saya tinggalkan (setahun setelah menjalani jabatan) mati, sementara perangkat komputer saya kembalikan utuh ke PD II, untuk kemudian dialihfungsikan ke Unit Penelitian (UPKK) semasa masih beruangan di sebelah IKM (tanya Pak Syahril Aziz, Teodorus, dan Suryadi Cek Yan).

Saya bukan kayak arismonyet, yang memiliki laptop baru ketika menjabat sesuatu. Tahun 1997 saya telah memiliki laptop ACER, lalu dilanjutkan dengan COMPACT (kalau mau bukti, bangkainya sekarang masih ada). Dengan kepemilikan dua laptop itu, apa gunanya saya “ngompreng” Desktop dinas?. Asal tahu saja, dahulu laptop hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, belum menjamur seperti sekarang, sehingga Tukul Arwana pun punya.

Mengapa saya akhirnya terbujuk menggunakan BLOG, semata karena untuk membersihkan nama, pada mulanya. Setelah kejadian ketidakberadaan soal ujian saya pada ujian mcq Blok , beredar issu: “Arisman tidak mengumpul soal karena uang”. Isu lain “karena terlambat mengumpul”. Saya tentu tidak sepakat dikatakan terlambat, karena tidak ada kata terlambat yang keluar dari mulut saudara penguasa monev, di samping sekretaris Blok (YRS) merekomendasikan pengumpulan soal paling lambat Jum’at sore. Seandainya Sang penguasa berkata “Soalmu terlambat, dan tak dapat digunakan lagi”, dan Sekretaris Blok juga demikian, tentu saja Arisman akan mengaku salah.

Tudingan “karena uang” sungguh amat menyakitkan. Duit yang saya telah terima hanyalah honor pembuatan materi kuliah sebanyak dua kali Rp. 127.500,- Duit lain tidak ada. Honor yang dijanjikan untuk pembuatan assesment tidak pernah saya terima. Pemeriksaan assessment itu pun tidak diserahkan ke saya, padahal yang membuatnya saya (berarti yang tahu jawabannya saya, di samping materi itu memang bidang saya). Memang, saya pernah mendapat undangan dari Ketua Blok 6 untuk pemeriksaan itu, tetapi saya tak lagi bernapsu, Saya balas dengan sms: assessment itu saya yang membuat, oleh karenanya harus seluruhnya diperiksa oleh saya. Jika kalian keberatan, periksa saja sendiri: all or none law.

 

Sedikit lagi, jangan ditutup dahulu, saya sesungguhnya tidak pernah mengundurkan diri dari UPEP. Mudah-mudahan kamu masih ingat kejadian di depan dekanat efka Palembang. Kalau tidak salah, kumpul bareng staf UPEP baru berlangsung 3 kali. Saya menghadang kamu persis ketika kamu telah duduk di atas motor (setahun lalu kamu masih berkendaraan motor bebek hitam belel tahun sembilan puluhan) dan baru akan memasukkan persnelling satu. Kata saya waktu itu, “Fan, agaknya saya tidak bisa mengikuti rapat rutin pembentukan Blok. Saya pikir lebih kalian saja, saya tidak memiliki kemampuan konsepsional seperti kalian yang muda. Tetapi kalau ada sesuatu yang akan ditulis, saya bersedia. Tiap Blok kan harus dibuatkan modul. Nah, kalau waktu pembuatan modul telah sampai, tolong saya dikhabari…”. Saya tak percaya kalau kamu lupa. Namun, kalaupun lupa, inilah saat kamu mengingat.

Jika kemudian keluar SK Dekan (revised edition) berupa “reorganisasi UPEP” minus nama saya, ya, ndak tahulah. Kepada Dekan, pada suatu pertemuan saat saya mengabari beliau tentang reward yang saya terima tempo hari, saya ucapkan “….. Kakak (beliau tak suka kalau saya menyebutnya bapak) kan yang memecat saya…” dan beliau menjawab, “Bukan, bukan saya. Saya hanya meneken surat yang telah dikonsep oleh UPEP.” Hanya itu, dan tidak ada diskusi lebih lanjut, karena hari itu memang tidak sedang membicarakan topik demikian.

Jika pernyataan saya ini dibantah, ya, mudah saja, kita masing-masing bersumpah saja demi Allah.

Akhirnya, saya harus berbesar hati mengucapkan rasa takjub dan salut kepada kamu (and your colleagues), yang telah rela bekerja keras “memeriahkan” KBK tanpa diberi honorarium oleh fakultas (bahkan untuk makan siang pun, untuk sebungkus gado-gado saja harus menguras kocek pribadi), namun masih untung beroleh kesempatan mengajar di beberapa akademi swasta (saya tidak mungkin mampu berbuat seperti itu). Oleh karena itu, perkenankanlah saya mengucap nasihat agar kamu banyak berzikir melafazkan rasa syukur pada Allah, karena bukan hanya terlahir (your best destiny) dari orang tua berpunya, tetapi juga dikelilingi oleh teman-teman yang penuh perhatian. Hingga tulisan kamu masuk ke wilayah Blog ini, saya belum pernah menjumpai orang yang berhati semulia kamu.

Sekian dulu dari saya, jika kamu seperti yang kamu tulis, ya, mudah-mudahan kamu selamat di dunia dan akhirat. Maaf lahir dan bathin.

Standar

14 thoughts on “Irfanuddin

  1. padangbengkok berkata:

    “celakalah orang-orang yang menjelek-jelekkan saudara mereka sendiri. mereka itu seperti memakan bangkai saudaranya yang telah mati”

    ARS, Arisman, Rizkiadi,Arismanyet, klining service, SYT, umar bakri (apa lagi?), orangnya sama, dio galo yang nulis itu tu…
    Orangnya mudah kau temukan di dunia nyata, di halaman FK, pos satpam, atau di sebelah perpustakaan.

    Dio yang mbukak Blog ini, uji dio bukan untuk mencela, meski jelas2 apo yang dio tulis disini, semua mencela orang lain. Tujuannyo, hanya untuk mengatakan kepada dunia, bahwa dr Irfan, dr Yon, upep, tidak ada apa2nya, dibanding dio.
    Dio ngaku-ngaku yg paling hebat, who the hell I am, uji dio, ye dak…
    Anak Perintis Kemerdekaan, meski aku tak abis pikir, bagaimana Perintis Kemerdekaan bisa beranak. Perintis Kemerdekaan itu kan tergeletak antara Simpang Dolog hingga Boom Baru. Dulu, tahun 70-an namonyo “Harapan”, terusan dari “Veteran”. Setelah “Harapan” abis, muncullah “Perintis Kemerdekaan”. Nah…sekarang ternyata punyo anak…

    Ponaan Gubernur Militer, yo..embek lah Rumah Sakit Benteng. Punyo kamu nian itu…Kalu perlu sekalin BKB, nyo, embek lah. Apo nak jerambah Musi sekalian. Embek lah galo-galo….

    dr Irfan menjelaskan galo2nyo dengan gamblang, tanpa menjelekkan siapa pun, tanpa sumpah serapah, dan tanpa kesan ngambo’i. Peace Dok…,pis, pis, pis. Gagah berani memakai nama asli.
    Sikap macem ini lah yang mendapat simpati, dan kami mhs percaya, penjelasan ini lah yang benar (paling tidak mendekati kebenaran)
    Dr Irfan jugo banyak nulis, bahan kuliahnyo bagus2, tanpa gembar gembor, idak pernah MENJUAL bahan kuliah. Diundang ngajar dimano mano, diakui keahliannyo oleh media massa di Sumsel. Peace Dok, peace….pertahankan, tingkatkan terus. Rendah hati, low profile, dak usah dilayani provokator. Rugi Dok…rugi!
    Orang semacem Rizkiadi atau siapopun namonyo tu, akan selalu ado sepanjang sejarah. Tinggal bagaimana kita bersikap.

    Mahasiswa mendukung drIrfan dkk. upep sudah menunjukkan kualitas yang baek. Kelemahan2 ado bae, tapi jangan berhenti, apo lagi mundur. Mhs tau dan ngerti yang mana “anak muda” dan yang mana bandit,

    Dr Irfan, dr Yon, dr Krisna, drs Sadakata, adalah dosen-dosen yang baek, dan jadi idola banyak mahasiswa (eh…mahasiswi). Ha…ha…
    Peace Dok, pis. pis…..

  2. Funny Junkies dan Punky berkata:

    Untuk Padang Bengkok celakolah kau, semoga dilaknat Tuhan, Apakah orang yang galak ngajar dimana bae itu bukannyo sama bae dengan lonte, galak dimano bae, samo siapo bae.
    Kang ARS bukalah Lonte, karena Dia punya harga diri, bukan menjual diktat (alias diktator) tetapi menjual hal intelektualnya. Aku tu lebih dari 20 tahun tau dengan ARS, walaupun sekarang aku diluar lingkaran kekuasaan Juragan2 FK, yang lebih banyak minta sumbangan untuk skill lab, tapi dak tau duitnyo kemano?
    Untuk Irfan, Krisna, Sadakata, dan lain-2 nya yang haus akan jabatan dan kedudukan janganlah kalian jadi lonte, tapi lebih baik jadi wong miskin harto tapi kayo dengan hasil karya intelektualnyo.

  3. Borokokok berkata:

    Kehancuran akan segera datang bila para pemimpin sudah tidak mau menggunakan hati nurani lagi, melainkan nafsu.
    Ketika pemimpin tidak mau menggunakan telinga yang didasari Qalbu yang bersih, ketika mata telah dibutakan oleh kekuasaan, ketika saraf sensoriknya telah mati rasa, ketika saraf motoriknya telah salah menerjemahkan gerakan ke otot-otot lidahnya.
    Khusus untuk padangbengkok, semoga Tuhan mengampunimu, kita semua tidaklah lebih dari segumpal daging yang berasal dari cairan hina segeralah anda bertobat!!!!!!
    Sangat mungkin anda belum punya hasil karya yang patut dibanggakan almamater.
    Sebagaimana Prof.DR.Dr.Mahar mardjono SpS(K) almarhum pernah menulis dalam bukunya bahwa yang kita punya hanyalah seutas pita yang dipergunakan untuk merangkai bunga-bunga milik orang lain sehingga menjadi rangkaian bunga yang cantik, tetapi tidak semua orang mampu melakukannya.
    Begitulah yang dilakukan oleh Sdr.ARS dalam menulis bukunya yang menjadi buku acuan diluar fk unsri tercinta.
    Memang bahannya dapat kita akses semua melalui internet, tetapi apakah kita mampu untuk merangkainya menjadi sebuah buku yan cantik? itulah yang namanya kekayaan intelektual manusia…….. Jadi apa yang Sdr.ARS lakukan lebih baik dari apa yang anda pikirkan.

  4. zoldick berkata:

    hummm padang-bengkok…bengkok banget hatimu….TIDAK SEMUA MAHASISWA mendukung irfan dkk…TIDAK SEMUA MAHASISWA mengidolakan irfan dkk…
    dimana salahnya jika ARS bergaul dengan orang yang kalian bilang (maaf) “orang kecil”…
    seberapa tinggi kalian menilai diri sendiri hingga orang lain dikatakan kecil….
    yah yang punya blog juga punya hak buat menulis apa yang dia mau tanpa perlu celaan orang lain, jika kalian tidak setuju yah bikin blog sendiri dong….
    atau kalian yang mencela itu (Boom, panthek, aris____, dkk)tidak pnya kemampuan untuk menulis…sehingga tidak menghargai tulisan orang lain dan akhirnya diktat pun (kalo boleh dibilang hanya berupa gambar dari buku ataupun internet, dan bahan kuliah pun SELALU SAMA dari tahun-ke-tahun) tidak pernah berkembang….jadi dimana letak “long life edu” jika bahannya sama dari angktn sejak FK pertama kali berdiri mungkin…
    dan satu lagi kenapa para dosen selalu mengagung-agungkan KBK, sehingga sistem lama di-anaktirikan…hampir semua dosen yang masuk berkata “kalian belum belajar y, beda sama anak KBK yang sudah belajar dari sebelum-sebelumnya…”
    yaaah darimana kami belajar jika kadang bahan kuliah tidak diberikan pada anak sistem SKS, tetapi ternyata dosen yang SAMA memberikan bahan yang SAMA pada anak sistem KBK….atau jadwal kuliah yang berubah-ubah sehingga bahan yang telah kami pelajari ternyata diajarkan 2 minggu atau bahkan bulan berikutnya….dimana keadilan eh??????
    kalau memang meng-agung-agungkan sistem KBK silakan diadu antara anak sistem lama dan KBK…terutama KBK yang katanya “INTERNASIONAL” haaaaaaaaaa…..
    terakhir betapa anak KBK dipermudah dengan adanya remedy setiap akhir blok, sementara anak SKS harus memohon-mohon ke kepala bagian, staf pengajar agar diberikan HER, dan itupun tidak semua bagian mau mengadakan HER dengan alasan “itu resiko kenapa kalian tidak belajar” kenapa alasan yang sama tidak dikatakan pada anak dengan sistem KBK tersayangmu itu….
    lalu pak dekan….tolonglah bangun yang lebih prioritas saya yakin anda orang berpendidikan yang tahu….apa yang paling dibutuhkan…nantilah dulu membangun student centre yang anda gembor-gemborkan itu…perbaiki sound system (setiap dosen ngajar selalu ngadat, batre habis, dll) saya ingat dulu adik saya pernah cerita anda masuk ke kelas PDU di indralaya mengatakan agar kmi jangan berdemo lalu, anda selaku dekan mengatakan apa yang kurang??setelah kmi bilang bahwa butuh sound system yang rusak dengan entengnya anda menelpon petugas dan berkata “tolong perbaiki sound system” di depan kmi smua…tapi mana huhh lagak saja…sejak saat itu saya yakin jika diadakan voting maka paling hanya 5% saja atau bahkan kurang yang mendukung anda sebagai dekan…
    WCnya pak, kami selalu antri di WC yang cuma 1, pria wanita sama WCnya, sementara klo pake WC dekanat kadang petugas TU selalu menjelit dan berkata “itu bukan WC mahasiswa”
    setiap kuliah berebutan dan sulit meminta izin buat memakai kelas padahal dengan mudahnya “ibu-ibu pejabat FK memakai SKO untuk Arisan, atau sekedar latihan senam”…musholla yang ampun sempitnya…

    dah segitu saja, saya juga tak yakin bahwa petinggi itu akan membca, ini, karena waktu mereka habis buat menghitung uang masuk, lalu menyimpannya ke kas pribadi….

  5. Umar Bakri berkata:

    KBK artinya bagi pimpinaan disini yaitu banyak membangun (membuat ruangan), banyak membeli (AC, LCD, komputer, meja dan kursi) bahkan untuk ke jambi ada 2 mobil. Diotak mereka, berapa persen ya yang aku dapat. Nggak lebih dari itu isi otak mereka. Makanya KBK disini nggak ada modul

  6. Anak didikmu berkata:

    Saya tidak berniat mencampuri masalah yang tengah berlangsung diantara guru2 saya, karena saya rasa, semakin banyak orang luar yang turut campur, maka masalah akan semakin rumit. Orang dewasa akan bisa menyikapi masalahnya dengan pikiran yang dewasa dan bertanggung jawab. Jadi mohon kiranya pada senior2 dan teman2 yang membaca coment ini, agar kita berada di pihak yang netral, karena bagaimanapun buruknya manusia, bukan kita yang menentukan, terlebih lagi beliau2 adalah guru kita….Betapa kejam dan aniayanya kita bila mencela pahlawan2 tanpa tanda jasa tersebut. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita. Semoga kita diberi ilmu yang bermanfaat…..
    Amin ya rabbal ‘alamin…

    ya…saya salah seorang mahasiswa yang merasakan kegetiran di tengah sistem belajar yang labil ini(KBK). Mungkin karena saya bukan termasuk pelajar yang berbakat(keterbelakangan dalam berpikir) sehingga saya selalu keteteran saat ujian tiba. Saya tidak tau batasan2 pembelajaran yang harus saya kuasai. Jika saya harus kuasai semuanya, yang sedikit saja belum tentu terserap apalagi semuanya.Give up!!!

    Saya rasa, harus diadakan pertemuan antara mahasiswa dengan pihak2 yang terkait dalam sistem kbk.

    Benar kata beberapa komentator di atas, pembangunan hendaknya dimulai dari sesuatu yang kecil, sehingga pembangunan bersekala besar tidak menjadi mubazir.

    Mohon kiranya kepada guru2 dan pejabat2 yang berwenang untuk meninjau ulang sistem belajar ini, dengan mendengarkan aspirasi kami.

    Terima kasih kepada seluruh guru2Q yang tercinta…

    Semoga amal ibadah kalian dilipat gandakan oleh Allah swt.

    Wassalamu’alaikum W.W

  7. Wong Waras berkata:

    Ketika dua orang hamba Allah sedang berjalan disebuah perkampungan dengan sambil menuntun seekor keledai, namun apa yang terjadi ketika hal tsb diketahui oleh penduduk kampung :” Oi jingoklah ado duo wong buyan lagi jalan sambil menuntun seekor keledai padahal keledainyo pacak ditunggangi tapi malah dituntun bae”. Mendengar hal tersebut salah seorang (yang rupanya lebih tua… adalah sang bapak..)- menunggang keledai
    yang turut serta bersama mereka. ketika itu pula terdengar orang-orang penduduk kampung tersebut berkata :” Alang ke dak tau dirinyo wong tuo ini…. la tau anaknyo masih kecik disuruhnyo jalan kaki…. dasar !!!”. Ketika sang anak tau dengan hal tersebut, maka sang bapak pun rupanya tau diri dan segera menyuruh anaknya bergantian menunggangi keledainya, lalu kembali berjalan masuk keperkampungan lainnya. Hal serupa kembali dilakukan oleh penduduk setempat dengan umpatan dan sumpah serapahnya peduduk kampung tersebut memaki sekuat-kuatnya :
    ” Alang ke kurang ajarnyo anak ini wong tuonyo disuruh jalan kaki sedang dio lemak bae naek keledainyo..” Kemudian kedua orang tersebut berinisiatif untuk melakukan kompromi dengan menaiki keledai tersebut secara bersama-sama dan kembali memasuki sebuah perkampungan lainnya, namun apa lacur ternyata mereka mendapatkan sumpah serapah dan umpatan yang lebih hebat lagi dari penduduk kampung :” Dasar manusia tidak berprikebinatangan… la tau keledainyo kecik dinaeki beduo pulok…”.dengan sedikit rasa geram maka kedua orang tersebut kembali melakukan negosiasi yang pada akhirnya mereka (bapak dan anak) sepakat untuk mengikat keledai tersebut pada kedua ujung kaki-kakinya kemudian diikatkan pada sepotong kayu dan…lalu mereka berdua memikul keledai tersebut secara bersama-sama…….Tetapi tetap saja mereka mendapat cemoohan dari penduduk kampung yang mereka lalui:” Dasar manusia tak berakal… wong keledainyo pacak jalan dewek kok malah dipikul?……” akhirnya sang Ayah yang bernama Lukman tersebut berkata kepada sang anak :” Hai anakku itulah manusia yang perkataannya bila selalu kita ikuti selalu salah…. maka ikutilah apa yang benar yang telah Allah katakan… dan bukan pada apa yang manusia katakan…..
    Semoga bermanfaat untuk rekan-rekan, adik-adik,kakak-kakak, guru-guruku, tukang-tukang sapu, tukang-tukang parkir
    (walaupun aku kuliah naek angkot), para satpam, (OB) pesuruh-pesuruh di efka yang telah menhantarkanku menjadi dokter, yang insya Allah sampai saat ini dan masa yang akan datang masih kupegang teguh sumpah dokterku.
    Kepada saudara-saudaraku sesama muslim (termasuk anda yang bernama padangbengkok..) kembalilah kepada tuntunan agama kita, baik dalam bekerja maupun dalam besosialisasi (gaul…..), jangan memandang rendah terhadap orang-orang yang didunia dianggap kurang beruntung…padahal mereka lebih mulia dimata Sang Khalik daripada kita yang berpredikat dokter.
    Untuk ARS katakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, walau dengan risiko apapun yang anda terima….Tiada pengorbanan yang sia-sia….
    kepada Bapak-bapak petinggi efka jangan tulikan telingamu…., jangan butakan matamu…, dan janganlah kau bekukan Qalbumu…., orang yang kritis itu adalah asset tak ternilai daripada orang yang selalu memuji-mujimu sehingga Anda ternina bobokan oleh segala puji2annya.
    Akhirnya kepada sang Khalik aku berdoa semoga kebenaran segera muncul untuk menumpas kebathilan……
    Amin.

  8. booom berkata:

    Arisman, sudah berapakah nama samaran yang engkau gunakan. Tak banyak orang mau berkomentar di blog yang engkau buat. Dan dikau mengomentari sendiri (onani?)
    Semua orang mengerti, singkatan ARS dak banyak orang tahu. Hanya dirimu yang tahu bahwa ARS itu adalah Arisman Rusak Sekali. Dulu, engkau menyingkat namamu dengan AMB (Arisman Monyet Beruk) disingkat lagi Arismanyet.
    Man…Man…, semakin parah penyakit narsistik yang kau derita. Engkau menyapa dirimu sendiri dengan sebutan-sebutan mesra: Kang ARS, Om ARS, maju terus ARS, orang bodoh seperti syarif husin pun tahu bahwa yang nulis itu tu adalah dirimu sendiri
    Buku mu sudah berapa sih? Baru satu, yang lain masih belum jadi, tapi sudah kau komersilkan, dengan alasan “Copy right”, sedangkan kau me-down-load bahan2nya dari internet, kau juga melanggar kopi rait orang lain.
    Buku itu selalu kau bangga-bangga kan,…
    Dirimu yang lebih cocok menyandang nama PADANG BENGKOK.

  9. Wong Waras berkata:

    Untuk yang meraso angk 80!!! Special Warning!!
    Salah satu angkatan kito akan dilantik jadi PD III.. Namo angkatan dipertaruhkan…
    Kalu salah jalan hancur la namo angkatan Kito!!! Tolong kawan2 yang ado di Bag.Bedah(AAI),Obgin(AMR),PDL(ZAH,UMR,YDA),Mata(ELZ), Anak(MLN) cepat ditegur atawa diingetken kalu gek dionyo ngacoarut..
    Kito samo2 tahu Wong yang nak diangkat jadi PD III itu dak punyo pengalaman ngurus organisasi alias anak Mami!!! Mak mano gek Dio nak ngurusi wong banyak…lhaaa ngurus diri dio dewek dak pacak… mak mano pulo dio nak ngadepi mahasiswa yang berencana Demo (yang jelas bukan Demo masak…..)
    Dalam rang Watawwa saubihaq Watawasaubisobr
    Kalu perlu dijewer yo dijewer…. kalu perlu di tabok ya ditabok… kalu perlu dibenyukke yo dibenyukela (daripada oleh wong laen)…
    Terakhir kito doake efka tetep maju… walaupun merayap bae.. dan tolong jangan lagi galak dijadiken umpan untuk minta-minta sumbangan (memangnyo fakir miskin efka kito tu…)

  10. guahiraku berkata:

    Sampai saya pada suatu kesimpulan, bahwa semakin banyak pengetahuan dan dalam pengertian seseorang akan ilmu pengetahuan, bila disertai sikap bahwa semua adalah di bawah kekuasaan-Nya, akan semakin rendah hati dan bijaksanalah dia dalam menjalani hidup.

    Ah, Akang, andai kita bisa lebih lama bersama-sama, ingin rasanya saya menimba ilmu lebih banyak pada Akang. Sayang, kuliah kita yang telah selesai memaksa kita untuk segera berpisah. Semoga ditanah air kita masih sempat bertemu dan saling dapat bertukar pikiran.

  11. guahiraku berkata:

    Apakah kesenjangan sosial itu kita biarkan saja? Apakah mata hati kita harus tertutup melihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi? Haruskah kepekaan sosial itu sekadar angin lalu? Mudah-mudahan pada usia ke-26 ini saya tak ikut tergiur dengan perayaan-perayaan semacam itu. Sebab, di kala hati resah, ketika pikiran gundah, hanya Allah lah tempat berserah dan mencurahkan hati yang sempurna. Laa ilaha illa Anta, Subhanaka inni kuntummindzdzaalimiin..

  12. RaZ berkata:

    apapun yang kau lakukan diluar sana, entah bener atau salah dok,,,
    tenang aja dr. irfan, aku tetap akan jadi muridmu yang ngefans banget sama dokter…
    bagi kami para murid, gak peduli apa yg terjd dluar sana, yg penting dr.irfan kalaun dkelas ngajarnya oke..nyambung…gy bhsny bgs..

    please..jgn ada saling caci maki lagi, karna itu hny akan bikin mahssw gak semangat lagi ngidolain dr.irfan,
    heheehe…

    untuk pemilik blog ini, entah anda benar atau salah,
    kalau benar, semoga Allah melapangkan hatimu dan memaafkan dr.Irfann dkk
    God bless you…
    peace

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s