Renungan

KaBeKa

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK), pada prinsipnya, mirip sekali dengan sistem kuliah terpadu (integrated lecture) yang digagas pada pertengahan tahun delapan puluhan. Kemiripan ini, tentu saja dengan penandaan plus-minus, tidak perlu diperbantahkan. Sistem ini dirancang jelas untuk memudahkan peserta didik dalam penggalian ilmu kedokteran. Sebelum era KBK (dan kuliah terpadu yang tak pernah terealisir), bidang ilmu pra-klinik dan klinik terkesan duduk berseberangan. Bagai minyak dan air, kedua fase ini seolah tidak bisa menyatu. Sistem KBK dirancang untuk melebur kedua “seteru” itu, mengaduk hingga rata, untuk selanjutnya dicetak dalam kotak-kotak sistem (dalam KBK disebut “BLOK”) pembangun tubuh manusia.

Dalam proses pembelajaran berazas KBK, mahasiswa diletakkan persis di tengah, sebagai inti (disebut student-based learning); sementara dosen sekadar perintis jalan ke arah blok yang hendak dituju; namun tidak berarti kalau dosen dimarginalkan. Dosen diibaratkan petunjuk jalan ke tujuan tertentu, tetapi sekaligus memiliki kemampuan menggambar peta. Di depan kelas, dosen cukup menceramahkan kerangka konsep sebuah, misalkan saja, materi (barangkali juga berupa sistem), untuk selanjutnya dikupas-tuntas oleh mahasiswa lewat belajar mandiri.

Sayang sekali memang, tidak banyak (kalau tidak bisa dikatakan tidak ada) dosen yang terampil menggambar “peta” itu. Kalau pun ada yang “nekad” menggambar, karena terpaksa atau dipaksa, yang tentu saja terdorong oleh gemersik lemaran duit honor, maka lukisan yang tersaji ternyata menyesatkan. 

 

Standar

5 thoughts on “KaBeKa

  1. Daramadewa berkata:

    Anda bisa menggambar peta itu? Itu yg anda lakukan ketika duduk sepanjang hari di koridor-koridor fakultas kedokteran, berganti-ganti teman berbincang, dari mahasiswa, karyawan, sopir hingga satpam?

  2. Boooom berkata:

    KBK, kurikulum berbasis kompetensi isine yo KBK gitu wae kok repot…..
    Priyayi ngomong dosen udah sombong ora mau ngomong sama orang cilik…, lha… walaaa ‘priyayi’ iki jauh lebih sombong…., ngangep orang-orang itu wong cilik…. ingeet dimata sang Hyang… ora eneng wong cilik….
    Galonyo podo wae.. cuma Iman sing bedani…

  3. Borokokok berkata:

    Priyayi…… Namanya saja sudah begini, mana dia bisa ngumpul sama wong cilik kayak ARS.
    Kalo anda tahu tukang becak (ditempat saya sudah tidak ada ya…), satpam, sopir…, adalah manusia juga yang mungkin calon penghuni surga yang belum tentu anda dapatkan. kok anda ngenyek sekali sama wong cilik….. Biasanya orang seperti ini tidaklah lebih baik dari wong cilik yang di enyeknya.. atau biasanya juga mantan wong cilik yang jadi wong Gede ( bosen hidup susah kali…………)jangan-jangan anda ini mantan pengguna kartu askeskin?…..

  4. Daramadewa …. bukan untuk membuat peta sendiri-sendiri, tapi berupa Tim tuan Daramadewa ? Ilmu itu kan sekarang makin rinci (makin spesialis bahkan sub Spesialis besok mungkin super spesialis yeee. ) sesuai bidang masing-masing secara terintegrasi, termasuk Daramadewa sebagai ketua Tim Oke..? sebagai kordinator orang-orang di koridor. Apakah masing-masing Sang dosen kita punya buku acun mata kuliah atau bab kuliah yang mereka ajarkan ? ( atau berupa coret-coretan untuk peta mata ajar hubungannya dengan mata ajar lain berikut daftar pustaka dan http://www.yang akan dikunjungi yang berhubungan dengan materi bab yang mereka ajarkan … atau bahasa tempo doeloe diktat barangkali, ini usul yee… bagai mana kalau orang-orang (dosen)yang akan di tunjuk memberikan materi di suatu blok adu materi dulu (studi kelayakan atau Fit and proper test gitu )sebagai kartu antri laah kira-kira agar jangan terkesan semau gue atau terkesan KKN (Kerupuk Kecap Nasi) gitu. Kan di KBK ini mestinya kubu yang disebut duduk bersebarangan (Klinik dan Pre Klinik)itu bisa saja tukar tempat (Change Please) kali yee.. dasar pantas tidak dosen mengajar itu kan berdasar plus minus materi sang dosen.. (sori..yeee from Koridorman)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s