Renungan

Mencoba untuk tidak curang

Sebagian mereka mulai berani menyebut “kaplingan” ini sebagai animal farm. Yang namanya dosa sudah tidak dianggap ada, bukan dianggap tidak ada (karena serdos-kah: SERah-serahan DOSa). Jelas sekali Rasullullah (maaf terpaksa mengikutsertakan Rasul, karena mereka masih berjuluk ahli ibadah) menyabdakan kalau laku tidak adil setara dengan perbuatan curang. Dalam berbagai teks ceramah agama, hanya SETAN yang diperbolehkan berlaku demikian. Sebentar tadi beterbangan lagi segerombol gossip bagai robongan kelelawar yang melintasi senja menjelang maghrib: peserta didik yang bernikai C diwajibkan (bukan diberi kesempatan) mengulang dari kegiatan kuliah, praktikum, hingga ujian. Tidak jelas “kebenarannya”, namun saya jelas mendengar dengung suara mereka yang merasa dizalimi. Lepas ashar tadi, suara-suara itu diterbangkan angin sampai akhirnya menabrak tembok di bekas kamar mayat tahun tujuh-puluhan. Sumber suara itu menjauh begitu saya mencoba mengklarifikasi (ini lebih baik ketimbang “masturbasi”) . Perintah mengulang untuk mereka bernilai C bukan main-main, karena disepongangkan pula ancaman bagi yang tidak berniat mengulang: tidak akan dilantik, bro. Bayang kan dengan nilai C, orang mesti mengulang seluruh kegiatan belajar, jika tidak, ya, itu tadi, setop sebelum sarjana. Bayangkan, bro, bayangkan. Setahu saya, nilai C boleh diperbaiki dengan hanya mengikuti ujian, dan itu pun kalau yang bersangkutan berkehendak. Jika tidak, ya, lewat saja: sudah lulus kan?! (mohon diklarifikasi, mudah-mudahan saya tidak salah). Dasar mengubah sesuatu menjadi sesuatu, sekali lagi, wajib dicari referensinya. Sekadar mengambil contoh, kalau tidak salah sudah dibuat ketentuan kalau penyerahan (bahasa sehari-harinya mengumpulkan) nama peserta pelatikan ialah tanggal sekian. Jika kalian ingin mengubah (dimajukan atau dimundurkan, atau diterbangkan) menjadi tanggal sekian-sekian, jelaskan apa dasar perubahan itu. Salah-salah keputusan kalian (mudah-mudah baik niatnya) menuai fitnah; terlebih jika kalian dianggap (dianggap, gitu, lho) punya kepentingan atas keputusan itu. Katakan saja, (maaf, namanya saja gossip; namun jika kalian berkeberatan, jelaskan …) misalnya kalian mempunyai anak-anak yang kebetulan baru lulus satu atau dua hari sesudah tanggal keputusan pertama. Boleh saja, tapi berlaku adillah kepada yang bukan anak … Selalu saja ada kepentingan yang menyebabkan seseorang yang kebetulan diamanahi jabatan untuk itu cenderung semena-mena. Mengutip kata Machiavelli (maaf kalau salah nama) “kekuasaan cenderung korup dan semena-mena”, Nah, sebagai animal yang beragama, saya wajib mengkaunter pernyataan ini, sebisa mungkin, meski kemudian kelelahan…. Duh, tidak jelas lagi mau nulis apa; namun yang pasti jelas menulis untuk memperjelas … Tanda-tanda kebangkrutan semakin nyata. Ya, Allah, bukakanlah mata dan pikiran ”karmik”. Jika tidak juga mau sadar, laknatilah.
Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman: “Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia“ (QS. Al-Kahfi:46). “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghaabun:15).

Standar
Renungan

Blog ini saya aktifkan lagi. Sebagian besar tulisan lama sengaja saya biarkan terserak di beberapa halam, di samping tanggapan yang “menyudutkan” saya, bahkan telah menghancurleburkan “harga diri” saya; di samping berupaya “membunuh” karakter. Saya bermaksud agar pera penulus “mengaku dosa”, karena “kita” sudah semakin tua. Saya pikir, pulsa pahala yang tersedot ke dalam “buku amal” saya sudah cukup. Maka, jika kalian, yang telah menuliskan fitnah, mau mengaku dosa (menyatakan bahwa tulisan yang kalian tulis itu “fitnah”), berarti putuslah aliran pulsa ke “handphone” akhirat saya. Jika tidak bersedia, ya, sudah: saya bahkan bersyukur. Sebab, fitnah satu orang kemudian diyakini oleh pembaca lain untuk disebarkan kelain orang. Efeknya bak bisnis MLM. Sekian dulu, salam. Seribu hari di dunia cuma satu hari di akhirat.//

Sampingan
Tulisan Ilmiah

MERAWAT SERIBU HARI EMAS: mengemas gaya hidup Sehat (Dibacakan dalam pertemuan “Early Life Nutrition”, 2 November 2013)

Seselesai pembuahan, hitungan mundur seribu hari pun dimulai. Pada titik ini, langkah emas seribu hari itu terbebankan pada wanita hamil, tempat para janin menumpang hidup. Tugas wanita menjadi “lebih berat” ketimbang sebelumnya: mereka mesti berperilaku sehat agar janin bisa tumbuh sempurna hingga kemudian meneruskan kehidupan baru sebagai bayi yang, tentu saja, diharapkan terus berlanjut sampai usia dua tahun. Dua fase kehidupan ini dipahami sebagai masa kritis untuk menumbuhkan peyakit degeneratif, pada periode kehidupan berikutnya. Gangguan perkembangan semasa janin akibat gizi salah ibu akan berakibat sebagai perubahan metabolik menetap, yang membuahkan serangkaian penyakit degeneratif di usia dewasa.

            Seribu hari kehidupan menjadi penting karena dalam rentang waktu inilah upaya pencegahan (kemungkinan) penyakit degeneratif memperoleh ruang dan waktu. Keberhasilan menyeimbangkan asupan zat gizi terbaca pada pola pertambahan berat badan ibu, masing-masing pada trimester pertama, kedua, dan ketiga; dengan catatan si ibu secara teratur menjalani ante natal care (ANC). Pertambahan berat yang tergambar tidak mengikuti pola normal (berkelebihan atau berkekurangan), menyiratkan berat janin yang juga berkelebihan atau berkekurangan: yang satu akan terlahir dengan berat badan rendah, sementara satunya lagi akan hadir di dunia boleh jadi sebagai “giant baby”.

Narasi singkat ini saya sempitkan menjadi “hanya” membahas sekelumit perilaku manusia yang, tidak salah, jika ditafsirkan sebagai penambah jumlah penderita penyakit degeneratif, setelah sekian lama menjalani hidup dengan skala fisik obes.

Paling sedikit ada tiga celah dalam lingkar kehidupan yang kemudian mengantar mereka menjadi obes. Pertama, pemilihan cara caesar sebagai jalan lahir. Kedua, keterpaksaan memilih susu formula; dan ketiga, kekeliruan dalam penentuan makanan sapihan.

 

Kelahiran caesar atau vaginal?

Idealnya, wanita yang berkeinginan hamil harus terlebih dahulu menormalkan diri. Dalam bahasa nutrisi, yang bersangkutan hendaknya berstatus gizi baik; di samping fisik telah selesai bertumbuh-kembang. Kongkritnya, si wanita telah melewati usia ginekologik, yaitu rentang waktu sepanjang 5 tahun setelah haid pertama (menarche): selama 5 tahun inilah pertumbuhan fisik tersempurnakan dan, setelah itu, wanita dinilai sudah siap menjalankan tugas reproduksi.

            Dengan kesempurnaan fisik ini, manakala seorang wanita memilih jalan lahir alami, maka tubuhnya akan menghasilkan hormon yang penting dalam proses pembentukan dan pengeluaran ASI (oxytocin dan prolactin). Sayang sekali, tanpa indikasi medis, makin banyak wanita hamil memutuskan untuk tidak melahirkan janin per vaginam. Persalinan secara caesar dipilih sekadar untuk “tampil beda”: semisal keinginan melahirkan bayi pada hari (besar) tertentu; satu keputusan yang jelas-jelas tidak memiliki penjelasan ilmiah.

            Kelahiran secara caesar jelas merugikan baik janin maupun sang ibu yang keliru memilih keputusan. Operasi caesar terbukti menyebab stress fisik dan psikis pada si ibu dan (terutama) bayi. Luka operasi membangkitkan stress, sehingga kehadiran ASI makin jauh dari harapan; di samping (juga) mustahil untuk menyegerakan “pemberian ASI” begitu janin berubah status menjadi bayi.

 

Asi atau susu formula?

Barangkali sudah tidak ada lagi manusia yang belum tahu (meski belum tentu paham) “keajaiban” asi, walauipun  faktanya tidak sedikit wanita yang mestinya tampak sibuk memberikan asi, namun terlihat santai menyelipkan dot botol susu ke dalam mulut bayi. Sebagian dari mereka yang menggunakan susu formula itu ternyata memang tidak menghasilkan asi. Inilah dampak negatif dari operasi caesar.

Tindakan operasi ini  bagaikan “upaya paksa” mengeluarkan janin melalui jalan yang bukan seharusnya, sehingga kenduri perpisahan tak sempat terselenggara di lorong vagina. Dampak negatifnya banyak, dan yang paling jelas ialah gangguan makan: susah diberi makan, atau bahkan (dalam skala kecil) makan berlebihan.

Ketiadaan ASI, apa boleh buat, memaksa orang tua memilih susu formula. Kekeliruan lanjutan muncul ketika mereka “dipaksa” untuk memilih produk apa? Informasi produk diperoleh dari iklan di media masa, atau langsung dari pabrik, atau meminjam tangan orang-orang yang dekat dengan kamar bersalin.  Dari siapa pun penjelasan diperoleh, susu formula, jelas sudah, dalam hal apa pun tidak mungkin menandingi ASI.

Puluhan keutamaan ASI sudah tertulis dalam puluhan buku teks, namun untuk  kali ini, cukup dikedepankan tiga saja. Pertama, “bayi formula” tidak memiliki kendali diri atas makanan. Penyebabnya sudah benderang: untuk memperoleh ASI, bayi dipaksa mengisap (bayi caesar tidak memiliki refleks isap); dan ia akan berhenti setelah merasa kenyang. Inilah contoh kongkrit pengendalian itu: “makan sebelum lapar, dan berhenti sebelum kenyang”. Kedua, tidak ada yang perlu “dicurigai” pada ASI, karena sudah pasti tidak mengandung materi GMO (genetically modified organism). Ketiga, tidak ada kontak fisik dan psikis antara ibu dan anak; namun dengan ASI pun tidak lagi menjamin kontak psikis itu selalu ada, karena semakin banyak para ibu memberi ASI sembari meng-update status di media sosial.

 

Penyapihan

Sejalan dengan pertambahan usia, kebutuhan akan zat gizi tak bisa lagi ditumpukan pada ASI saja (bagi peminum ASI), atau susu formula saja. Selanjutnya, bayi membutuhkan makanan yang lebih padat hingga usia satu tahun. Sumber makanan sapihan selayaknya diambil dari makanan yang biasa disantap oleh keluarga, bukan mengenalkan makanan instan, karena kebanyakan makanan fabrikan terlalu banyak mengandung lemak, gula dan garam.

Menyukai makanan yang mengandung ketiga komponen itu sudah merupakan sifat dasar manusia. Maka, tidak heran jika makanan buatan pabrik lebih cepat disukai anak ketimbang santapan “tradisional”.

Kesibukan para ibu di luar rumah menyebabkan pengasuhan anak dipercayakan pada orang lain. Perawat bayi biasanya tidak begitu peduli dengan pola asuh (termasuk pola makan) bayi: yang penting bayi tidak rewel. Maka, segala kegiatan dilangsungkan di tempat yang disukai anak. Faktanya, lokasi yang paling diminati ialah bagian muka layar televisi. Inilah muasal percontohan kegiatan sedentary sambil menyantap camilan dan belajar menikmati iklan “junk food”: setangkup kegiatan yang berpotensi mengubah (seribu hari) emas menjadi loyang.

Standar
Tulisan Ilmiah

VIGNETTE MODEL TO UROGENITAL SYSTEM
(a real good vignette)

A 20-year-old gravida 1, para 1 female presented to the ED complaining of severe right-sided flank pain that began suddenly four hours prior to arrival. Her pain was sharp and constant, radiating to the right lower abdomen with associated nausea and one episode of vomiting. She denied fevers or chills, dysuria, hematuria, constipation or diarrhea. She was currently on her normal menstrual cycle. She denied recent trauma or any personal or family history of kidney stones. She had not previously experienced similar pain.

Physical Examination
General appearance: The patient was a well-nourished, well-hydrated female in moderate discomfort.
Vital signs
Temperature 36.6◦C, pulse 96 beats/minute, blood pressure 109/79 mmHg, respirations 20 breaths/minute, oxygen saturation 98% on room air
Heent: PERRL, EOMI, oropharynx clear with moist mucous membranes.
Neck: Supple.
Cardiovascular: Regular rate and rhythm without rubs, murmurs or gallops.
Lungs: Clear to auscultation bilaterally.
Abdomen: Soft, nontender, nondistended. No costovertebral angle tenderness.
Pelvic: No discharge or bleeding, normal-sized, nontender uterus, os closed, right adnexal mass palpable with mild tenderness.
Neurologic: Nonfocal. Noncontrast CT of the pelvis from a 20-year-old female with right flank pain.

Laboratories
A clean catch urinalysis demonstrated a large amount of blood but was otherwise normal. Her creatinine was within the normal range. A urine pregnancy test was negative.
A peripheral intravenous line was placed, blood was drawn and sent for laboratory testing.

A noncontrast CT of the abdomen and pelvis was obtained.

Emergency treatment
and morphine sulfate, ketorolac, and ZofranR were administered intravenously for pain and nausea, respectively.

Task: what is your diagnosis

Key teaching points
1. Ovarian torsion is a gynecologic emergency requiring prompt diagnosis and emergency surgical treatment.
2. Torsion is the most common complication of dermoid cysts, occurring in approximately 3.5% of cases.
3. The pain of ovarian torsion is proportional to the degree of circulatory compromise; if tor-sion is complete, the pain is acute and severe, typically accompanied by nausea and vomiting.
4. On physical examination, the most consistent finding in patients with ovarian torsion is a palpable mass.
5. Abnormal flow on color Doppler sonography increases the likelihood of identifying torsi-on, but torsion may occur with incomplete vascular obstruction; therefore, evidence of vascu- lar flow does not rule out torsion with certainty.
6. Treatment of a torsed ovary with a dermoid cyst or other abnormality requires detorsion of the ovary and removal of the cyst if the ovary is viable; a nonviable ovary requires removal.

Dicussion
The diagnosis is right ovarian (adnexal) torsion due to a 6-cm dermoid cyst. The noncontrast CT scan of the abdomen and pelvis demonstrated a 6.8 cm × 5.1 cm heterogenous mass lesion with components of soft tissue, calcium and fat in the right para-midline anterior pelvis, suggestive of a dermoid cyst. The pelvic organs appeared otherwise unremarkable. The gynecology service was consulted, and the patient was taken to the OR. During laparoscopy, a 6-cm dermoid cyst was discovered, causing torsion of the right ovary.
The ovary was detorsed and the dermoid cyst was excised from the ovary. The ovary was viable, and the ovarian bed was subsequently cauterized with excellent hemostasis. The patient recovered uneventfully. Pathology identified the cyst as a mature cystic teratoma.

Ovarian torsion resulting from a dermoid cyst
A dermoid (cystic teratoma) is a benign, cystic lesion containing tissue from all three embryonic layers: endoderm, mesoderm and ectoderm. Ovarian dermoids constitute 10–15% of ovarian tumors. They tend to occur in young women during their reproductive years, although they have been reported in prepubertal and elderly patients.1 Ovarian dermoids present with discomfort, pain or pressure symptoms, or when a complication occurs. Torsion is the most common complication of dermoid cysts, occurring in approximately 3.5% of cases.
Cases of dermoid tumors with ovarian torsion presenting as appendicitis or renal colic have been described. Less than 1% of dermoid cysts are malignant. Although ovarian dermoids can be detected by ultrasound, CT or MRI, CT is the best imaging procedure for identifying cystic teratomas of the ovary.
Torsion of the uterine adnexa is a gynecologic emergency, requiring prompt diagnosis and emergency surgical treatment. It can involve the fallopian tube, the ovary or other adnexal structures. Risk factors for ovarian torsion include ovarian enlargement, adnexal masses (including tumors), pregnancy, ovulation induction, and previous pelvic surgery. The most common risk factor associated with torsion is the presence of a dermoid cyst (32%).5 Torsion may also occur in a normal ovary. Although adnexal torsion is generally viewed as uncommon, studies suggest that adnexal torsion is the fifth most common gynecological emergency, representing 2–3% of acute surgical emergencies.
Ovarian torsion results from partial or complete rotation of the ovarian pedicle on its long axis, potentially compromising venous and lymphatic drainage. If the rotation is partial or intermittent, venous and lymphatic congestion and its associated symptoms may subside quickly.6 If rotation of the ovarian pedicle is complete and prolonged, venous and arterial thrombosis may occur, resulting in adnexal infarction.
The pain is proportional to the degree of circulatory compromise from torsion. If torsion is complete, the pain is acute and severe, typically accompanied by nausea and vomiting. However, spontaneous detorsion may occur and the pain will subside. Adnexal torsion is rarely bilateral and is more common on the right side. It is more common in young women, with the greatest incidence in the 20- to 30-year age group.
Physical findings and characteristics of pain in ovarian torsion are variable. The “classic” history of ovarian torsion is theabrupt onset of colicky pain in a lower quadrant, with radiation to the flank or groin, mimicking renal colic. However, only 44% of patients diagnosed with ovarian torsion in one study had such crampy or colicky pain. Additionally, 51% of patients in the same study had radiation of pain to the flank, back or groin. Fifty-nine percent of patients had abrupt onsetof pain, whereas 43% of patients had prior episodes of this pain. The majority of patients in this study had nausea and vomiting (70%) and lower quadrant pain (90%), but these findings mimic many other causes of abdominal pain and are
not specific to ovarian torsion.
On physical examination, the most consistent finding of ovarian torsion is a palpable mass felt 50–80% of the time during pelvic examination.5 Laboratory tests should include a urine or serum β-hCG to rule out ectopic pregnancy and a urinalysis to evaluate for infection or stone. Studies have demonstrated elevated white blood cell counts in 16–38% of cases of ovarian torsion but this finding is nonspecific.6 In cases of suspected ovarian torsion, immediate ultrasound is the investigation of choice; greater than 93% of patients with torsion
will have abnormal ultrasound findings. Ultrasonographic findings depend on the duration of torsion and the degree of ovarian ischemia; the most common finding is ovarian enlargement. In the early stages of ovarian torsion, the ovar is enlarged with prominent peripheral follicles. With prolonged and complete torsion, infarction may appear as cystic, clotted areas on the ovary. Abnormal flow on color Doppler sonography increases the likelihood of identifying torsion, but torsion may occur with incomplete vascular obstruction; therefore, evidence of vascular flow does not rule out torsion with certainty.
Treatment of a torsed ovary with a dermoid cyst or other abnormality requires detorsion of the ovary and removal of the cyst if the ovary is viable; a nonviable ovary must be removed. The procedure can be done by laparoscopy or laparotomy. In the past, oophorec-tomy was considered the standard of care because of concern that untwisting of the adnexa might precipitate pulmonary embolism from a thrombosed vein. Several studies have shown that in the absence of a grossly necrotic ovary, untwisting of the adnexa can be performed and the ovary salvaged without significant risk of thromboembolism. Conversely, hemor-rhagic infarction or a gangrenous adnexal structure requires surgical removal without attempts at detorsion.

Standar
Renungan

Avatar si Penebar Fitnah

Seseorang dengan nama sandi Avatar.dum.dum membongkar “masalah internal” bagian Gizi, yang semestinya milik “orang-orang bagian” itu sendiri, ke Blog ini; menurut saya bukan tanpa tujuan. Orang ini tahu persis apa yang tengah terjadi. Orang ini tahu persis kalau Arisman telah mengirim surat protes ke Dekan (PD I) tentang “pencabutan illegal” dirinya dari keanggotaam Blok 6. Orang ini, sesungguhnya amat mudah ditebak siapa, tampak dengan jelas membela Keputusan Kepala Bagian Gizi (selanjutnya disingkat Kabagiz), namun sekaligus menebar fitnah tentang “kebrutalan” arisman. Agar pembaca tidak susah mencari naskah sang pembela itu, berikut saya “kopikan” tulisannya (di bawah Topik “TENTANG SAYA”): …

By: Avatar.dum.dum on Mei 18, 2008 at 1:23 am

Yanti penanggap terakhir blog ini, sekali lagi adalah Arisman yang narsis dengan nama ARS. Internet FK mogok selama berbulan-bulan, maka Arisman kehilangan pekerjaan. Blog ini pun hilang dari peredaran. Arisman datang ke FK jam 7 pagi, lalu nongkrong di sudut-sudut FK. Jam 8 atau jam 9 dia menghilang. Lalu jam 2 sampai jam 5 ada lagi di FK, mondar-mondar, wara wiri, ngobrol sana ngobrol sini.

Man…man…sudahlah Man!!! Cari gawe yang bermanfaat bae. Mbikin blog boleh-boleh saja, tapi bukan untuk mencaci maki orang lain.

Awak jangan sembarang nuduh. Tuduhan awak sama sekali ngawur!!! Dr Syarif tak pernah satu kata pun nulis di blog ini. Dr Syarif membaca, lalu tertawa, dan introspeksi. Tap, untuk nulid, Dr Syarif tak tergerak sedikit pun.

Omongan seperti yang ditulis “Yanti” ini sudah sering awak omong kan, di depan Anatomi, di pos SATPAM, dan di dapur FK, tempat dimano awak menghabiskan jam-jam kerja sepanjang hari. Dan khalayak mencatat omongan ini. Jadi, kalau awak menuliskannya dengan nama Yanti, maka awak sedikit banyak mendeskriditkan Yuk Yanti Biokimia, seorang dosen yang selalu tenang, tak pernah emosi, baik hari dan pintar. Dan khalayak tetap akan tahu bahwa tulisan itu adalah tulisannya Arisman….

Dr Nazly juga tak ada waktu untuk nulis di blog ini. Dr Nazly tetap baik hati. Beliau tetap berusaha membela Arisman, meski Arisman sering ngomong ngelantur dan menyakiti hati….

Awak Man, ngirim surat ke Dekan, berkecil hati karena awak dicoret dari Blok 6. Awak MAn, tak perlu berkecil hati karena dicoret di blok 6, seharusnya awak introspeksi. Ngapo awak dicoret. Karena di setiap blok dimano awak bergabung, maka disana akan terjadi “kerusuhan”. Assignment nak diborog dewek (karena ada honornya…?), SOCA ngenjuk nilai 0, berteriak-teriak skenario jelek, mengintimidasi pegawai-pegawai UPEP, dak galak ngenjuk soal dll. Itu sebagian kenakalan Dr ARisman di dalam blog, yang tentu saja memperkeruh suasana kerja di dalam blog. Wajar saja kalau Dr Nazly “mengistirahatkan” awak dari blog 6. Awak nulis surat ke Dekan, kecewa, mundur. Semua orang bertepuk tangan. Ini kesempatan untuk mengeliminir Dr Arisman dari kegiatan mengajar di FK. Tapi, Dr Nazly tetap berusaha membela Anda, beliau tetap berencana menempatkan Anda di blog-blog berikutnya.

Tak seharusnya Anda mencela Dr Nazly dan Dr Syarif terus menerus. Beliau berdua tetap berniat baik untuk kebaikan Anda dan kebaikan semua.

Man, tayangkan tulisan ini ya….

Biar khalayak ramai membacanya, termasuk mahasiswa yang sekarang semakin intensif meniru Anda, dengan ke kampus memakai sandal dan berkaos oblong.

Sekali lagi, Dr Syarif dan Dr Nazly tidak ada “hard-feeling” dengan awak Man. Beliau berdua baik baik saja. Dan semua orang salut dengan sikap mereka.

DR. Enaldi bukan Sukarno, bukan Hatta, bukan Syahrir. DR Enaldi ya DR Enaldi, yang cerdas dan berwibawa. Semasa hidupnya dia pernah berkata supaya dipanggil “Pak” atau “Dok” saja, tak usah di panggil “Prof”. Dan, beliau juga pernah menyatakan keberatan dipanggil Bung oleh mahasiswa.

“Apa saya ini sama dengan Bung Mamat, yang jual obat di bawah Ampera itu?” begitu kata Dr Enaldi.

TANNGAPAN:
Orang ini jelas dekat dengan Nazly dan Syarif, jika tidak bisa dikatakan memang kedua orang itulah sang Avatar. Simak saja tulisannya: dia menyapa arisman dengan sebutan awak, yang berarti kalau dia itu berusia lebih tua (atau paling tidak sebaya) dengan arisman. Namun demikian, dia masih berusaha menyarukan identitasnya dengan jalan menyebut “Yanti” (yang diposisikannya sebagai dokter Yanti di Bagian Biokimia) dengan sapaan “ayuk”. Dengan menulis seperti ini dia berharap kalau orang (pembaca) akan menebak dia berasal dari kalangan muda di UPEP. Sayang sekali, dia tidak pandai mengendalikan tulisannya. Inilah dampak buruk dari ketidakpandaian membahasakan pikiran (hebatnya orang ini, dan juga komunitasnya yang berbahasa tidak lebih baik dari dirinya, selalu mengklaim diri amat pandari menulis skenario: baca SEKENARIO, alias skenario sekenanya).

Baca lebih lanjut

Standar
Renungan

Suatu ketika bersama ibu MITA

Perempuan yang duduk di sudut itu, yang berkacamata minus 10, yang mengenakan celana panjang dengan blus berlengan hingga ke pergelangan, yang memakai tutup kepala (tapi bukan jilbab) ialah Mita; bukan nama sebenarnya, memang. Nama Mita saya sematkan semata karena kemiripan wajahnya (tentu saja dengan berbagai modifikasi) dengan menteri urusan wanita Mutia Hatta, putri bung Hatta, sang proklamator RI. Pada suatu pagi yang sejuk cerah sehabis diguyur hujan sepanjang malam, saya berselisih pendapat dengan tuan SS tentang perlunya penghapusan sistem undian dalam pemilihan soal ujian soca.

Kala itu, pelaksaan ujian soca blok 3 (KBK angkatan pertama: dua tahun silam) tinggal menunggu waktu: kami tiba di Inderalaya pukul delapan seperempat, sementara ujian terjadwal dimulai pukul sembilan tepat. Sembari duduk menunggu para pekerja administratif merapikan lembar soal di atas meja, saya memaksakan diri mengutarakan gagasan agar mahasiswa tidak dipaksa mengikuti “program undian” dalam pemilihan soal ujian. Sistem yang diberlakukan kini, menurut saya, jelas merugikan peserta ujian, karena mutu soal ujian yang berjumlah enam itu tidak setara: baik dalam hal isi (materi) maupun keterbacaan. Sebagai analogi, satu soal begitu bagusnya sehingga dapatlah disetarakan dengan sebuah kendaraan berharga ratusan juta, sementara soal-soal lain hanya senilai motor butut. Penerapan sistem undian pada kondisi ini jelas tidak fair.

Pada mulanya, saya menyampaikan gagasan ini dengan kesantunan yang amat tinggi, sehingga tersuarakan begitu lemah-lembut. Pada awalnya, tuan SS (kalau tidak salah bertindak sebagai korlap: koordinator lapangan) juga merespons dengan santun, meskipun ketidaksetujuannya terbahasakan dengan jelas.

“Nggak bisa begitu, dong”, sambut tuan SS antusias, “Kita tidak bisa mengubah sistem begitu saja tanpa terlebih dahulu dirapatkan”.
“Saya sudah melontarkan gagasan ini, tetapi tidak ada respons”.
“Artinya gagasan anda belum bisa diterima, setidaknya saat ini belum bisa diterapkan”.
“Saya mengusulkan agar lembaran soal dibuka, dan mahasiswa peserta ujian diperbolehkan memilih salah satu soal yang mereka minati”.
“Enak betul mahasiswa. Mereka pasti memilih soal yang menurut mereka mudah….”, ti-ba-tiba ada suara lain menyela: seorang “tuan” dari MONEV.
“Tidak juga. Mereka Cuma diberi waktu setengah menit untuk memilih. …

Singkatnya, tuan SS setuju kalau soal soca tidak diundi, tetapi dipilih: setengah menit, tidak boleh lebih. Namun, sayang sekali, belum satu jam ujian berlangsung (berarti belum sepertiga mahasiswa menikmati program “dadakan” itu), sistem penetapan soal kembali beralih ke tata cara sebelumnya: diundi. Saya baru tahu itu ketika secara tidak sengaja keluar ruangan selagi jeda sembari menanti mahasiswa menyiapkan lembar ujian soca. Seorang tuan lain penguasa MONEV (dan konon lebih berkuasa tinimbang tuan yang pertama tadi) mengembalikan format ujian soca ke bentuk semula dengan alasan (ini ceritera para penjaga lembar soal itu) kalau penggantian itu tidak prosedural. Tuan yang satu ini, konon, memang tidak suka segala sesuatu yang tidak procedural: maklum, dia tokoh “religius” sejak mahasiswa (yang juga telah membahasakan keregiusannnya dalam blog ini: “….. orang tua saya, guru-guru saya baik yang di pesantren maupun … tidak pernah mengajarkan keburuksan….”…). Dengan membiarkan mahasiswa memilih soal, bukan diundi, berarti kita telah mengkondisi mahasiswa menjadi manja, rutuk (sekali lagi: kata orang-orang yang kebetulan berdiri tidak jauh dari tempat lembar soal soca dipajang) sang reliji.

Saya tidak akan menuturkan peristiwa ini sekarang (mungkin lain kali), melainkan hendak menyuratkan betapa susahnya (setidaknya bagi saya) untuk mempercayai (apalagi meyakini) perkataan orang, utamanya mereka yang berperangai “santun”. Saya menemui ibu Mita ketika pikiran tengah dikuasai amarah, bukan terhadap perempuan itu, melainkan tuan kedua penguasa MONEV itu. Inilah salah satu bentuk arogansi kekuasaan: membatalkan keputusan saya dan SS menurut saya bukan karena keputusan itu keliru, melainkan sekadar menunjukkan kalau dia lebih berkuasa ketimbang siapa pun yang ada di situ. Keangkuhan ini tidak bakal tergambar sebagai peragai yang arogan seandainya dia telah berhasil menyatukan materi “hablumminallah” dan “hablumminnannnas” yang kerap dia kuliahkan bahkan hingga di mimbar mesjid.

“Bagaimana kalau saya setop menguji sampai di sini?”
“Jangan,” tanggap ibu Mita cepat, “Kasihan mahasiswa”.
“Kenapa jangan? Bukankah pilihan saya dan SS itu benar …”
“Saya tahu benar, tetapi yang berkuasa kan bukan kamu, atau SS”.
“Apa bedanya sih? Intinya, kita terhindar dari berbuat tidak adil. Saya menguji atau tidak menguji, apa bedanya? Kan masih ada RZ”.
“Penguji soca kan mesti dua orang”.
“Kalau begitu sebarkan saja semua mahasiswa kelompok saya ke grup lain. Sedikit, kok. Masih bersisa 8 orang”.
“Jangan. Kamu mesti meneruskan tugas kamu menguji. Kamu mesti bersabar. Kamu harus belajar menahan emosi”.
“Saya tidak bisa menahan marah jika berhadapan dengan kesewenangan. Saya mengusulkan sistem ini bukan untuk menunjukkan kalau saya .. apa namanya…bijaksana, atau apalah itu namanya, melainkan membela para “user”, para mahasiswa itu. Ibu bayangkan saja, soal-soal itu tidak setara, jika dianalogikan serupa dengan mobil berharga sepuluh juta dan satu milyar. Lha, jika undian tetap diberlakukan, sial dong mereka yang kebagian mobil sepuluh juta. Jadi, melalui ujian ini kelak kita para penguji akan meluluskan mereka yang tidak pintar, dan sekaligus tidak meluluskan mereka yang benar-benar pintar. …”
“Ibu sepakat dengan kamu. Coba kamu tidak keluar UPEP waktu itu ..”
“Saya tidak pernah keluar, saya dipecat oleh dekan dengan SK baru: dekan mengganti SK kepengurusan UPEP yang ada nama saya dengan yang tidak ada nama saya. Setelah saya cek langsung, ternyata itu usulan dari UPEP …”
“Sudahlah, kita tidak usah berdebat soal itu. Kita yang berada di luar sistem memang susah mengambil keputusan. Orang seperti kamu ini mestinya masuk ke dalam sistem sehingga dapat ngomong dan berbuat apa saja dari dalam…”
“Begini saja, ibu, bagaimana kalau keanggotaan senat bulan depan dilimpahkan ke aku?”
“Ibu setuju.”
“Asal ibu tahu saja, saya perlu masuk ke dalam agar bisa membeberkan perkara ini. Supaya mahasiswa tidak lagi terzalimi, tapi ngomong-ngomong, dengan sistem ini bukan hanya terzalimi, tetapi juga terbodohi sekaligus tertipu. Coba ibu baca skenario yang satu ini … (saya mengangsurkan selembar kertas skenario dengan topik “observational study”). Berapa interpretasi yang bisa dimunculkan? Lebih dari satu kan? Nah, coba lihat lagi berapa “check list” yang disediakan: hanya satu. Jadi kalau ada peserta ujian yang menjawab berbeda dengan check list, sementara dia benar, tidak lulus. Kata apa lagi yang lebih cocok, lebih santun, dan lebih relijius untuk menggambarkan keadaan ini kecuali zalim dan rombongannya itu?”
“Saya juga tahu”
“Kenapa tidak ngomong. Anda kan senior”
Ibu Mita diam, tidak menjawab. Dia pura-pura menulis sesuatu di kertas entah apa.
“Bagaiman dengan usulan saya tadi”, saya mencoba memecah kebisuannya.
“Usulan yang mana?”
“Tentang keinginan saya menjadi anggota senat”.
“O, iya, ibu setuju sekali. Seperti yang telah saya katakana tadi, orang seperti kamu ini sebaiknya berada di dalam. Ya, aku akan berusaha”.
“Boleh tahu usaha macam apa, misalnya?”
“Begini, secara prosedural kamu tidak bisa menjadi anggota senat. Karena masih ada ibu. Tapi ibu sudah berkeputusan untuk tidak lagi menjadi anggota senat. Ibu sudah tua, sudah waktunya mengestafetkan tongkat pimpinan, dalam hal ini keanggotaan senat, ke kamu. Lagi pula, mata ibu sudah tidak kuat lagi untuk digunakan banyak membaca, apalagi berlama-lama menatap layar komputer. Untuk memperbaharui bahan kuliah saja rasanya sudah payah. Mata ibu tidak bisa digunaka lama-lama… Begini saja, ibu akan mundur dari keanggotaan senat dengan alas an kesehatan. Dengan demikian, kamu yang dimajukan ke universitas”.
“Terima kasih, saya tidak sabar menunggu”, sambutku untuk kemudian segera ke ruangan ujian soca.
Di ruangan itu, sembari mendengarkan celoteh peserta ujian, saya mencari-cari jawaban perkataan dan ucapan si peserta ujian yang cocok atau mendekati kecocokan dengan jawaban yang tersediakan pada checklist.

Di ruangan itu, sembari mendengarkan celoteh peserta ujian, saya mencari-cari jawaban perkataan dan ucapan si peserta ujian yang cocok atau mendekati kecocokan dengan jawaban yang tersediakan pada checklist. Ternyata tidak ada: si mahasiswa menguraikan interpretasinya atas skenario (bagusnya kita namai SEKENARIO) itu sebagai case-control study, sementara jawaban yang tercetak pada checklist diperuntukkan bagi cross-sectional study. Lalu, pada lembar checklist yang bernama mahasiswa itu, saya tulis: “… seluruh keterangan mahasiswa ini tidak ada yang cocok dengan kalimat-kalimat singkat yang tercetak di atas kertas ini, kecuali ucapan pembuka. Mahasiswa ini telah memamparkan dengan bagus dan rinci topik case-control. Saya telah mengonsulkan skenario ini dengan ahli metodologi di fakultas ini yang kebetulan juga tengah menguji. Dia sepakat dengan saya kalau interpretasi skenario ini bukan hanya cross-setional study, tetapi juga case control, dan cohort. Jika kalian berkeras bahwa hanya checklist inilah yang benar, berarti si mahasiswa terpaksa saya beri angka 20. Namun bila kalian sepakat dengan saya, dan teman saya tadi, angka si mahasiswa saya beri 96. Semua terserah kalin. Tetapi, asal tahu saja, jangan pernah mempermainkan nasib orang. Wassalam”.

Saya dengar tuan-tuan “pembaharu sistem pendidikan” itu meluluskan si mahasiswa dengan angka yang telah saya torehkan: 96; tetapi sayang sekali, tidak ada khabar kalau mereka juga mengevaluasi ulang (sesuatu yang mestinya wajib dilakukan oleh tuan-tuan MONEV) hasil ujian mahasiwa lain. Maka, ketik REG spasi “RAMAL” sebelum kalian mahasiswa memulai ujian soca: dengan demikian masalah yang terbetik dalam kepala anda pasti cocok dengan checklist yang tersedia (atau ketik REG spasi COCOK, dan kirim ke 081278158xx).

Nah, ibu Mita kini resmi menjadi anggota senat, sementara usahanya untuk “mundur” karena alasan kesehatan tidak terlihat, bahkan terbaui pun tidak. Dia kini malah tampak sibuk di blok: entah pengajar IT atau tutor, atau pembimbing skill-lab, atau penguji osce dan soca: jenis kegiatan sebetulnya membahayakan indera penglihatan. Namun rasa kasihan saya bukan tertumpu pada indera itu, melainkan pada ketidakamanahannya terhadap janji yang telah ia ikrarkan. Ini bukan masalah kunang-kunang, tetapi hutang.

Standar
Renungan

Perempuan di sudut musholla

Perempuan itu duduk bersila di sudut mushola pada suatu hari Rabu siang menjelang sholat zohor. Di sekitarnya bertaburan kertas putih fotokopian yang sebagian bergambar jantung dan pembuluh darah, sehingga dengan mudah tertebak kalau perempuan ini ialah mahasiswa efka yang tengah menghafal materi kuliah kardiovaskuler. Dengan bergaya demikian, bisa pula diperkirakan bahwa dia sedang menjejalkan seluruh materi tentang jantung dan pembuluh darah itu ke dalam ingatannya.

Saya tak berani mengajaknya berbicara, apalagi bercakap, kecuali sekadar mengucap ‘assalamu’alaikum’; meskipun keinginan saya untuk melafazkan pertanyaan “mengapa kamu sibuk sekali belajar, sekarang kan libur semester?” begitu mendesak. Dari caranya merespons salam, saya berkepastian kalau dia termasuk salah satu peserta ujian remedial. Ujian remedial berbagai blok memang tengah diberlangsungkan hari itu.

Mestinya saya bertanya “mengapa kamu ikut remedial?”, namun itu tidak saya lakukan oleh kekhawatiran mengusik konsentrasinya, atau membongkar kekecewaannya (mungkin) karena kegagalan dalam ujian tempo hari.

Namun demikian, saya tak habis pikir mengapa mahasiwa seperti dia harus ikut ujian remedial. Ujian remedial diperuntukkan bagi mereka yang tidak lulus, yang terpecundang: sosok yang kalah dalam pertarungan (baca: ujian), tetapi, tentu saja, pertarungan yang adil. Fairness (keadilan) dalam ujian jelas tergambar mulai dari persiapan materi kuliah, soal ujian hingga penentuan passing grade nilai kelulusan. Sayang sekali, keadilan itu masih tersembunyi entah di mana, sehingga baunya pun belum pernah tercium oleh, setidaknya, saya pribadi.

Dan perempuan itu, kekeliruan apa yang telah dia buat sehingga nasib buruk merendamnya dalam lumpur kegagalan. Dia, serta beberapa temannya yang bernasib serupa, tampak “aneh” ketika digerombolkan ke dalam lebih dari seratus peserta remedial itu. Betapa tidak, dia (juga sebagian dari teman-temannya yang senasib) tergolong sebagai mahasiswa “berkelas”: mereka smart mulai dari gen hingga usaha. Secara genetis, dia terlahir dari orang tua berkwalifikasi PhD (bukan singkatan dari “paling hobi duit”, atau paling hobi duluan”: dengan menulis ini saya tidak sedang menyanjung pemegang gelas PhD, atau menyepelekan gelar di bawahnya; namun, paling tidak, orang bodoh tak akan berhasil meraih gelar itu, di samping, tentu saja, kesempatan). Gen yang bagus tentu saja tidak serta merta menjanjikan prestasi gemilang, namun perempuan ini telah menampakkan kegigihan belajar yang begitu tinggi. Ketekunannya melahap kopi “power point” materi kuliah BLOK (menurut sebagian besar peserta didik, soal-soal ujian mcq di-copy-paste dari tulisan dalam “power point” itu), serta kegigihannya menelurkan gagasan melalui pertanyaan dan pernyataan dalam berbagai diskusi tutorial yang kebetulan saya “tutori”, begitu menggebu bagai kucing jantan yang tengah birahi mengejar betinanya.

Tampak “aneh”, memang: puluhan mahasiswa berkelas “very good” (sebutan sekenanya, karena saya belum berani menempelkan predikat “excellent”) terlempar ke dalam limbah remedial. Ada apa dengan KBK? Sebagian “pendidik” yang “by-accident” berpapasan dengan saya di depan pintu peturasan sembari menunggu giliran berkemih, dengan enteng menanggapi: “… Banyak faktor selain hanya pintar yang menentukan kelulusan seseorang. Kamu juga telah tahu itu”. Betul. “sejawat saya itu berkata benar: “ … akan tetapi faktor apa yang begitu tega dan kuat menggerus prestasi para peserta didik sehingga nilai mereka tak berhasil melampaui bahkan hanya sekadar bilangan ‘passing grade’?” Atau nilai kelulusan itu dipatok terlampau tinggi? No body know, but men from UPEP!

Saya tak bermaksud membela perempuan ini. Saya sekadar membahasakan kekecewaaan saya, bukan dirinya, meskipun saya hakulyakin kalau perempuan itu jauh lebih kecewa (bahkan mungkin murka) ketimbang saya, terhadap prosedur yang amat kasat mata telah (dan, jika tidak seorang pun berminat memperbaikinya, akan terus) merugikan banyak orang.

Sesungguhnya parameter apa sih yang membuat seorang diluluskan, sementara yang lainnya mesti mengulang? Ketika saya (dan banyak lagi sejawat yang lain) “dikuliahi” tentang materi KBK (oleh para muda yang mengaku sebagai pembaharu pendidikan itu, yang di-back-up oleh sebagian “lansia” kurang wibawa, yang juga mengklaim diri sebagai penulis skenario terbaik karena banyak dipilih mahasiswa ketika ujian soca: padahal mahasiswa terpaksa memilih itu lantaran terjebak sistem undian) ….. bersambung!

Standar