& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Okt | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||
Selamat buat dokter ARS karena anda telah dibebas tugaskan dari mengajar. Berarti anda memiliki waktu panjang untuk menulis lebih banyak. Semangat terus dok.
Komentar oleh medical student — Juni 15, 2008 @ 7:27 am
Avatar memang tukang fitnah. Dia pasti orang UPEP yang kebetulan juga dekat dengan orang gizi. Atau memang orang gizi yang juga di upep. Mana bukti kalau ARS telah mengintimidasi pegawai upep? Yang tersirat adalah orang upep yang mengintimidasi ars dengan mengejek kalau dia tidak bermutu. Mana yang bermutu dosen fk yang di upep apa ars. kalau ars salah coba jawab tulisan yang ada di blog ini. soal avatar ini saja. Mengapa soal ujian jadi tinggal135 di tangan yuwono.
Komentar oleh mhs peduli — Juni 15, 2008 @ 7:32 am
Buat pak ARS, tolong dikomentari tugas kami ini. Terima kasih.
Judul : Praktikum Dukungan Nutrisi pada PPOK
Kasus
Seorang penderita laki-laki dengan nama A, mengeluh sesak napas. Penderita berumur 60 tahun, mempunyai berat badan 45 kg dan tinggi badan 165 cm. Sejak 1 minggu sebelum MRS mengeluh nafsu makan menurun. Penderita ini didiagnosis PPOK, hasil laboratorium albumin 3 g persen, analisis gas darah Asidosis respiratorik, oleh dokter pada saat ini penderita dalam perawatan Bed rest.
Tetapkan dukungan nutrisi untuk penderita tersebut. Berikan aspek edukasi!
PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)
Tujuan Penatalaksanaan: 1. Mengendalikan anoreksia
2. Memperbaiki fungsi paru
3. Mengendalikan penurunan berat badan
Subjektif
1. Anamnesis: 1.1 Identitas Pasien
1.2 Riwayat Penyakit Umum:
- Faktor risiko : perokok, infeksi
- Keluhan : lemah, sesak napas (saat bekerja)
1.3 Riwayat Gizi: – Riwayat nutrisi: anoreksia
Objektif
2. Pemeriksaan fisik: 2.1 Keadaan umum : lemah, sesak napas (dispneu)
3. Antropometrik : 3.1 Tinggi Badan a
3.2 Berat Badan a
4. Laboratorium: 4.1 Disesuaikan dengan faktor risiko
- Darah rutin
- Penunjang : analisis gas darah
5. Pemeriksaan fungsional :
- Tes fungsional paru
- Tes fungsional kekuatan otot (ventilatory muscle strength, periferal muscle strength)
6. Analisis Asupan : 6.1 Dietary assessment ; Rutin/standar
7. Pemeriksaan Penunjang
- Foto radiologis b
Asessment
8. Diagnosis kerja:
8.1 Status Gizi : Tentukan !
8.2 Status Metabolik : -Asidosis respiratorik
Planning
9. Penatalaksanaan Terapi Nutrisi
9.1.1 Cairan : Tentukan !
9.1.2 Energi : Lihat panduan penghitungan kebutuhan zat gizi
9.1.3 Maktonutrien
Karbohidrat : 35-50%
Protein : 35-50%
Lemak : 15-20%
Pada pemberian intravena, pemberian glukosa maksimal 4-5 mg/kgBB/menit.
9.1.4 Mikronutrien : P, K. Ca, Mg
9.1.5 Nutrien spesifik :
- asam lemak omega-3
- Vitamin C
9.2 Metoda Pemberian Nutrisi
9.2.1 Cara pemberian : -Parenteral — oral — parenteral
-Pemberian makanan oral : porsi kecil dan sedang.
9.3 Bentuk nutrisi
9.3.1 Bentuk makan (per oral) : -makanan lunak
10. Monitoring dan evaluasi
10.1 Monitoring : Tetapkan !
10.2 Evaluasi : Tetapkan !
11. Edukasi :
Komentar oleh medical student — Juli 2, 2008 @ 12:07 am
sekedar sharing: (saya kutip dari eramuslim.com)
Iman memiliki simbol dan kesejatian. Simbol adalah perilaku yang tampak, sedangkan kesejatian adalah hakikat keimanan yang tidak nampak. Meski tidak nampak, kesejatian akan terbukti dari konsistensi amal yang tampak secara lahiriah dan pancaran simbol yang melekat secara tetap. Sebagai contoh, jika seorang muslimah benar dalam keimanannya, maka ia akan mengenakan jilbab secara konsisten karena Allah bukan karena pertimbangan yang lain.
Dalam hadits dikatakan bahwa iman itu memiliki 73 cabang, yang tertinggi adalah mengucapkan ‘Laa ilaaha illa Allah’ dan yang terendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Cabang atau simbol itu harus serasi, mencerminkan sebuah keimanan yang sejati di dalam hati. Oleh karenanya parameter kesejatian itu tidaklah sederhana. Ia harus terbukti secara konsisten dalam pengamalannya dan serasi dengan simbol-simbol iman lainnya.
Simbol ‘jilbab’ harus serasi dengan simbol ‘berkata yang jujur’, harus serasi dengan simbol ‘menghormati tetangga’, shalat, penuaian zakat/sedekah, puasa, dan simbol-simbol iman lainnya. Keserasian antar simbol itu mencerminkan iman yang utuh dan ketidakserasiannya mencerminkan iman yang terpecah.
Waallahua’lam bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com)
Komentar oleh guahiraku — Agustus 1, 2008 @ 1:45 pm