Nutrient’s Weblog

November 19, 2008

Blok 15 dan Diuretika

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 1:26 am

Interaksi zat gizi-obat setidaknya bisa dijelaskan secara farmakodinamik dan farmakokinetik. Jika dua substansi menampakkan aksi farmakodinamik yang menguatkan atau mengganggu kerja masing-masing zat, berarti interaksi itu bertipe farmakodinamik. Dengan farmakokinetik, penyerapan, distribusi, eksresi, atau transformasi enzimatik salah satu substansi diubah, atau diganggu, oleh substansi lain. Sebagian besar interaksi obat-zat gizi berjenis yang kedua.
Sebagian besar diuretika menyebabkan perbanyakan eskresi, mengikuti pola farmakokinetik. Golongan TIAZIDE mengakibatkan pertambahan eksresi zat-zat gizi semisal magnesium (desiensi berdampak sebagai asma, masalah kardiovaskuler, kram, osteoporosis, dan PMS: sindrom premenstrual), kalium, natrium (menyebabkan gangguan keseimbangan cairan), seng (sehingga memperlambat penyembuhan luka, mengganggu sense of smell and taste, dan sistem kekebalan), dan Co-Q10 (mengakibatkan gagal jantung kongestif, tekanan darah tinggi).
Golongan LOOP DIURETIC (furosemid, ethacrynic acid (lasix, bumec, edecrine) menyebabkan kekurangan vitamin B1 (berdampak menghambat produksi HCL lambung, mengganggu metabolism tepung, serta gangguan proses belajar), vitamin B6 dan C, kalsium, kalium, magnesium (meningkatkan eksresi dan menghambat absorpsi pasif), dan seng. Defisiensi vitamin B1 sebagian besar disebabkan oleh pertambahan eksresi melalui ginjal. Kekurangan ini segera terkoreksi jika diberi vitamin B1 sebanyak 100 mg (intravena) dua kali sehari selama satu minggu. Defisiensi kalium akan semakin parah jika magnesium telah pula terdefisiensi. Oleh karena itu, bagi mereka pengguna diuretika jenis ini, dianjurkan mengkonsumsi kalium dan magnesium secara bersamaan: dosis magnesium 300-500 mg sehari sudah cukup; koreksi kalium dengan slow-K atau micro-K, dan dengan pendampingan buah-buahan; namun hati-hati terhadap pengidap gagal ginjal. Kehadiran vitamin C dalam saluran cerna menyebabkan penyerapan furosemid bertambah, menghambat metabolism diuretik ini dalam saluran cerna, menambah reabsorpsi ginjal, serta meningkatkan fraksi furosemid yang tak terionisasi pada reseptor (pelajari reseptor apa, dan dimana). Pemberian vitamin C per oral 1000-2000 mg dua sampai tiga kali sehari terbukti berkasiat menyumbat kekurangan ini. Jika terjadi diare akibat kelebihan dosis, kurangi saja hingga saluran cerna penderita bisa mentolerir dosis itu.
Golongan POTASSIUM-SPARING DIURETICS: triamterene menyebabkan kekurangan kalsium, seng dan asam folat, sementara HCT dan triemterene mengakibatkan deplesi kalsium, asam folat dan vitamin B6 (penjelasannya coba ditanya langsung ke pakar gizi SHP dan NH: bagi-bagi tugas).
Makanan yang banyak mengandung Co-Q10 ialah kubis, bayam, bawang merah, wortel, ikan makerel dan sardin, kacang hazel (hazelnut), katul beras, serta kacang kedelai (namun, berapa besarannya per 100 gram bahan makanan, silahkan cari sendiri). Makanan yang kaya akan magnesium bisa dilihat dalam bahan kuliah saya di blok 9). Sumber makanan yang kaya akan vitamin-vitamin B1, B6, dan asam folat dapat anda lihat dalam buku teks: Handbook of Vitamin (Janos Zempleni et al., ed.) terbitan CRC Press, tahun 2007. Sementara, sumber makanan untuk mineral bisa diperoleh dari buku teks: Human Vitamin and Mineral Requirements: report of a joint FAO/WHO expert consultation Bangkok, Thailand. WHO, 2001. Juga: “Guidelines for glaucoma: Japan Glaucoma Society, 2004).
Setelah membaca kedua buku teks, anda baru sekadar mengetahui sumber zat-zat gizi itu. Nah, bagaimana cara menghidangkan santapan yang sebaiknya dikonsumsi ketika seseorang telah menelan (atau disuntik) dengan diuretika, persoalannya jadi lain. Penentuan dosis mesti mengacu pada derajat defisiensi. Jika besaran dosis telah dipastikan, langkah berikutnya ialah menentukan jalur apa yang akan ditempuh: alami (cukup memberi santapan yang mengandung zat gizi yang terdefisiensi), atau suplementasi (oral, atau parenteral), atau keduanya? Dengan menggunakan bahan makanan alami, pengobat harus paham benar bukan hanya santapan yang kaya akan zat gizi dimaksud, tetapi juga faktor pengganggu dan pembantu penyerapan, serta besar serapan zat gizi itu akibat keberadaan kedua faktor itu (tanya ke Kabag dan Kodik Gizi).
Maka, menurut saya pribadi, alangkah bodohnya mereka yang dengan enteng mengatakan kalau gizi tidak punya peran dalam pembelajaran blok 15: bukankah institusi ini memiliki pakar gizi sekaliber SHP, NH, dan DIM. Sebelum membuat keputusan, lain kali, orang-orang UPEP mestinya berkonsultasi dulu dengan beliau bertiga. Saya bahasakan keterangan ini karena di dunia nyata banyak mahasiswa (juga dosen: segelintir, memang) mempertanyakan (secara umum) keputusan meniadakan gizi dalam blok 15, dan (secara khusus) menanyakan pengaruh pemberian diuretika terhadap zat-zat gizi, kepada saya. Maaf, ini bukan masalah (mengutip “kata mutiara” sejawat saya yang paling pakar itu) hard-feeling (ejaannya betul, tidak?).

& Komentar »

  1. makasih dok….
    untuk ado blog ini..
    katek kami dapet pelajaran nurisi buat Blok sensori khusus ni..
    aneh ngapo dak di masuke???
    sekali lagi makasih nian dok….
    moga-moga biso bermanfaat ilmunyo…
    amin..

    Komentar oleh si mas — November 20, 2008 @ 11:56 am

  2. dok..
    ada yg ingin saya tanyakan sebagai mahasiswa blok 6 KBK 2008
    yg saya tahu adalah tahun kemaren hampir tidak ada soal tentang gizi,tapi ketika tahun 2008 30soal atau 1/5dari 150soal adalah soal tentang gizi
    apakah itu adalah soal tambahan yg seharusx diberikan pada angkatan 2007 (yg saya tahu berdasar blog dokter sendiri kalau soal gizi mcq untuk tahun kemaren nyaris tidak bisa dijadikan soal mcq)?
    pertanyaan saya selanjutx adalah mengapa pada soca blok 6 2008 ada tentang gizi dok?padahal ketika tutorial tidak ada tentang gizi,mahasiswa yg mendapat skenario tentang gizi menjadi menangis2 (sebagian besar yg saya tahu). sebenarx tingkat kesusahan skenario soca itu sama. pada skenario 1 = syok hypovolemia dibutuhkan nalar yg sangat luas&melebihi batasanx,problem analyzex sampe ke pemberian infus (harusx di bahas pada skenario 2 yg berhubungan dengan cairan infus) pada problem skenario 1&2 jadi terkesan sama.sama-sama syok hypovolemia,tidak sadar.hanya terkesan nama saja yg diganti
    ada pa dengan soal soca kali ni?lebih terasa tidak inovatif&bervariasi
    hanya soal nutrisi atau gizi saja yg membuatx berbeda dari yg lain
    tolong di jelaskan dok,terimakasih :)

    Komentar oleh just me amore — Juni 5, 2009 @ 11:54 am

    • Telah saya sampaikan berulang-kali kalau manusia butuh makan, tak peduli ia sedang sakit atau di kala sehat. Ketika sakit, dia, selain mesti cukup makan, juga butuh obat. Ketika obat harus ditelan, atau dijejalkan melalui, misalkan nutrisi enteral, muncul pula masalah lain: interaksi obat dan makanan, atau interaksi obat dan zat gizi. Waktu yang dialokasikan untuk kuliah jelas tidak cukup. Oleh karena itulah sebuah skenario perlu dirancang untuk memperdalam masalah itu. Sayang sekali, tidak banyak orang (jika tidak bisa dikatakan tidak ada) orang yang peduli. Pada kenyataannya kini: skenario (sebetulnya sekenario: skenario sekenanya) hanya sekadar pemenuhan syarat administrasi sebuah BLOK. Itulah sebabnya banyak skenario (di luar masalah benar atau tidaknya) terkesan sama.

      Komentar oleh rizkiadi — Juni 8, 2009 @ 3:49 am


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.