Nutrient’s Weblog

November 19, 2008

Soal BLOK 9 Tahun 2007

Diarsipkan di bawah: Tulisan Ilmiah — rizkiadi @ 1:40 am

1. In order to get loose of the risk of degenerative disease, patient with obesity has to reduce his/her weight eventually. With BMI value 26 and blood pressure 140/80 mmHg, such patient should be approach with …
A. prescribing fiber,
B. prescribing orlistat,
C. prescribing chitosan,
D. prescribing spirulina and apple vinegar.

2. Central obesity has a chance of higher risk than general obesity. This high risk caused by blood stream in stomach area is much bigger than other part of body, besides …
A. more of cortisol receptor in that part,
B. fewer androgen receptor,
C. more of catecolamin receptor,
D. fewer testosteron receptor.

3. A patient with obesity receiving medical nutrition therapy wants to include fish into his/her lunch menu. A kind of fish which could be ingested for this patient is…
A. patin sungai,
B. patin tambak,
C. kembung,
D. tenggiri.

4. An obese patient having medical nutrition therapy wants to include vegetables and fruits into his/her lunch menu. Vegetables and fruits which could be goes with this patient is …
A. greenpea,
B. lemon,
C. pomelo,
D. soybean.

5. An obese patient medically nutrition treatment accidentally had eaten a fried egg out of her lunch menu. To make the calorie of the egg not increase the counted energy, the patient must have physical activity such as …
A. walking for 20 minutes, or
B. biking for 10 minutes, or
C. biking 5 minutes, or
D. fast running for 1 minutes.

6. The principle of obesity treatment are prevention the increase of body weight, promote the decrease of body weight, and manage comorbid factor as well. Those included in comorbid factor is…
A. osteoarthritis,
B. hyperinsulinemia,
C. cancer,
D. menopause.

7. Diabetes mellitus management principally based on reaching ideal body weight, consuming a special diet for diabetic, and exercising regularly. The principle of foodstuff selection in medical nutrition therapy is, at least, selecting foodstuff with the lowest glycemic index, that is …
A. peanut,
B. stringbean,
C. brown rice,
D. banana.

8. In diabetic patient, a high glucose level ≥ 280 mg/dl for a long periode will lead to glucose toxicity. In such condition, most of trace element are becoming deficient. One of this trace element classified as very important element to sensitize insulin receptor is …
A. Chromium,
B. Zinc,
C. Manganium,
D. Magnesium.

9. Magnesium and insulin are depending each other. Pancreas is unable to produce insulin adequately without existency of magnesium, while kidney loose its ability to restrain magnesium in case of severely hypoglycemia. Choose one of food below which has the highest magnesium concentration.
A. Bran.
B. Brown rice.
C. Unpeeled roasted potatoes.
D. Red Bread.

10. Hypoglycemia is primarily an issue for individuals taking injected insulin, although those taking insulin secretagogues can also be affected. One of two treatment modalities is the ingestion of fast-absorbing carbohydrate as much as 20 gram. Food or beverage that contain fast-absorbing glucose are as follow: …
A. Orange juice.
B. Coke.
C. Sweet ginger.
D. Diet coke.

11. In case of insulin-induced hypoglycemia, patient has to be ordered to stop exercising and consuming carbohydrate-containing food as much as 15 mg in hurry. A kind of food containing 15 gram carbohydrate is …
A. a half cup of orange juice,
B. a half slice of white bread,
C. a half cup of rice,
D. a half potato puree.

12. Exercise give benefit not only to reduce body adiposity that is abdominal in distribution, but also improve insulin sensitivity. However, not all of diabetic patients are diabetesi able to do sport anytime. However, a diabetic patient is not allowed to exercise if his/her fasting blood glucose level is as high as follow: …
A. 250 mg/dl,
B. 260 mg/dl,
C. 270 mg/dl,
D. 280 mg/dl.

13. A woman was diagnosed as suffering from obesity telah merasa dirinya obes, because of her BMI already reach the number > 30. However, to make the diagnostic of getting into metabolic syndrome herself, she must be also fulfill these criteria (based on NCEP/ATP III): …
A. Waist circumference > 88 cm,
B. Waist-Hip ratio 0,9,
C. HDL level 20 gram/kcal,
B. 10—19,9 gram/kcal,
C. 10 gram/kcal,
D. < 10 gram/kcal.

18. A diabetic patient with dyslipidemia were suggested to ingest much more fiber. To reach this aim, doctor suggested him/her to increase and decrease certain foodstuff concomitanly. Foodstuff to be increased is …
A. candy made of coconut,
B. candy made of jam,
C. candy made of jelly,
D. hard candy containing honey.

19. Dyslipidemic patient should ingest foodstuff containing polyunsaturated fatty acid (PUFA) no more than 10% total calorie. Omega 3 dan 6 fatty acid included in PUFA. Food mentioned below which has the most omega 6 fatty acid is…
A. sunflower oil,
B. sunflower seed,
C. corn oil,
D. corn seed.

20. Dyslipidemic patient who suggested to decrease ingestion of saturated fatty acid and cholesterol has to choose one of foodstuff mentioned below:
A. Shellfish/oyster.
B. Duck.
C. Innards.
D. Milk-chocolate candy.

[Materi kuliah yang lengkap, seperti telah saya teriakkan di kelas, telah siap 100%: kini tengah diolah di penerbit EGC untuk segera diterbitkan. Namun, jelas butuh waktu, mungkin satu tahun. Namun demikian, jika kalian memerlukan materi itu, silahkan hubungi saya. Isi materi anda berupa: obesitas, diabetes mellitus, dislipidemia, interaksi obat-zat gizi (utamanya obat-obat DM dan dislipidemia), pemeriksaan status gizi dan penghitungan kebutuhan akan zat gizi pada ketiga kasus itu]. Jumlah halaman, dengan font 11 tanpa spasi, materi tersebut tercetak setebal 188 halaman, dengan referensi 15 halaman. Terus terang, jika kalian ingin naskah lengka ini, beli dong. Wassalam.

Blok 15 dan Diuretika

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 1:26 am

Interaksi zat gizi-obat setidaknya bisa dijelaskan secara farmakodinamik dan farmakokinetik. Jika dua substansi menampakkan aksi farmakodinamik yang menguatkan atau mengganggu kerja masing-masing zat, berarti interaksi itu bertipe farmakodinamik. Dengan farmakokinetik, penyerapan, distribusi, eksresi, atau transformasi enzimatik salah satu substansi diubah, atau diganggu, oleh substansi lain. Sebagian besar interaksi obat-zat gizi berjenis yang kedua.
Sebagian besar diuretika menyebabkan perbanyakan eskresi, mengikuti pola farmakokinetik. Golongan TIAZIDE mengakibatkan pertambahan eksresi zat-zat gizi semisal magnesium (desiensi berdampak sebagai asma, masalah kardiovaskuler, kram, osteoporosis, dan PMS: sindrom premenstrual), kalium, natrium (menyebabkan gangguan keseimbangan cairan), seng (sehingga memperlambat penyembuhan luka, mengganggu sense of smell and taste, dan sistem kekebalan), dan Co-Q10 (mengakibatkan gagal jantung kongestif, tekanan darah tinggi).
Golongan LOOP DIURETIC (furosemid, ethacrynic acid (lasix, bumec, edecrine) menyebabkan kekurangan vitamin B1 (berdampak menghambat produksi HCL lambung, mengganggu metabolism tepung, serta gangguan proses belajar), vitamin B6 dan C, kalsium, kalium, magnesium (meningkatkan eksresi dan menghambat absorpsi pasif), dan seng. Defisiensi vitamin B1 sebagian besar disebabkan oleh pertambahan eksresi melalui ginjal. Kekurangan ini segera terkoreksi jika diberi vitamin B1 sebanyak 100 mg (intravena) dua kali sehari selama satu minggu. Defisiensi kalium akan semakin parah jika magnesium telah pula terdefisiensi. Oleh karena itu, bagi mereka pengguna diuretika jenis ini, dianjurkan mengkonsumsi kalium dan magnesium secara bersamaan: dosis magnesium 300-500 mg sehari sudah cukup; koreksi kalium dengan slow-K atau micro-K, dan dengan pendampingan buah-buahan; namun hati-hati terhadap pengidap gagal ginjal. Kehadiran vitamin C dalam saluran cerna menyebabkan penyerapan furosemid bertambah, menghambat metabolism diuretik ini dalam saluran cerna, menambah reabsorpsi ginjal, serta meningkatkan fraksi furosemid yang tak terionisasi pada reseptor (pelajari reseptor apa, dan dimana). Pemberian vitamin C per oral 1000-2000 mg dua sampai tiga kali sehari terbukti berkasiat menyumbat kekurangan ini. Jika terjadi diare akibat kelebihan dosis, kurangi saja hingga saluran cerna penderita bisa mentolerir dosis itu.
Golongan POTASSIUM-SPARING DIURETICS: triamterene menyebabkan kekurangan kalsium, seng dan asam folat, sementara HCT dan triemterene mengakibatkan deplesi kalsium, asam folat dan vitamin B6 (penjelasannya coba ditanya langsung ke pakar gizi SHP dan NH: bagi-bagi tugas).
Makanan yang banyak mengandung Co-Q10 ialah kubis, bayam, bawang merah, wortel, ikan makerel dan sardin, kacang hazel (hazelnut), katul beras, serta kacang kedelai (namun, berapa besarannya per 100 gram bahan makanan, silahkan cari sendiri). Makanan yang kaya akan magnesium bisa dilihat dalam bahan kuliah saya di blok 9). Sumber makanan yang kaya akan vitamin-vitamin B1, B6, dan asam folat dapat anda lihat dalam buku teks: Handbook of Vitamin (Janos Zempleni et al., ed.) terbitan CRC Press, tahun 2007. Sementara, sumber makanan untuk mineral bisa diperoleh dari buku teks: Human Vitamin and Mineral Requirements: report of a joint FAO/WHO expert consultation Bangkok, Thailand. WHO, 2001. Juga: “Guidelines for glaucoma: Japan Glaucoma Society, 2004).
Setelah membaca kedua buku teks, anda baru sekadar mengetahui sumber zat-zat gizi itu. Nah, bagaimana cara menghidangkan santapan yang sebaiknya dikonsumsi ketika seseorang telah menelan (atau disuntik) dengan diuretika, persoalannya jadi lain. Penentuan dosis mesti mengacu pada derajat defisiensi. Jika besaran dosis telah dipastikan, langkah berikutnya ialah menentukan jalur apa yang akan ditempuh: alami (cukup memberi santapan yang mengandung zat gizi yang terdefisiensi), atau suplementasi (oral, atau parenteral), atau keduanya? Dengan menggunakan bahan makanan alami, pengobat harus paham benar bukan hanya santapan yang kaya akan zat gizi dimaksud, tetapi juga faktor pengganggu dan pembantu penyerapan, serta besar serapan zat gizi itu akibat keberadaan kedua faktor itu (tanya ke Kabag dan Kodik Gizi).
Maka, menurut saya pribadi, alangkah bodohnya mereka yang dengan enteng mengatakan kalau gizi tidak punya peran dalam pembelajaran blok 15: bukankah institusi ini memiliki pakar gizi sekaliber SHP, NH, dan DIM. Sebelum membuat keputusan, lain kali, orang-orang UPEP mestinya berkonsultasi dulu dengan beliau bertiga. Saya bahasakan keterangan ini karena di dunia nyata banyak mahasiswa (juga dosen: segelintir, memang) mempertanyakan (secara umum) keputusan meniadakan gizi dalam blok 15, dan (secara khusus) menanyakan pengaruh pemberian diuretika terhadap zat-zat gizi, kepada saya. Maaf, ini bukan masalah (mengutip “kata mutiara” sejawat saya yang paling pakar itu) hard-feeling (ejaannya betul, tidak?).

November 17, 2008

Suatu ketika bersama ibu MITA

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 1:20 am

Perempuan yang duduk di sudut itu, yang berkacamata minus 10, yang mengenakan celana panjang dengan blus berlengan hingga ke pergelangan, yang memakai tutup kepala (tapi bukan jilbab) ialah Mita; bukan nama sebenarnya, memang. Nama Mita saya sematkan semata karena kemiripan wajahnya (tentu saja dengan berbagai modifikasi) dengan menteri urusan wanita Mutia Hatta, putri bung Hatta, sang proklamator RI. Pada suatu pagi yang sejuk cerah sehabis diguyur hujan sepanjang malam, saya berselisih pendapat dengan tuan SS tentang perlunya penghapusan sistem undian dalam pemilihan soal ujian soca.

Kala itu, pelaksaan ujian soca blok 3 (KBK angkatan pertama: dua tahun silam) tinggal menunggu waktu: kami tiba di Inderalaya pukul delapan seperempat, sementara ujian terjadwal dimulai pukul sembilan tepat. Sembari duduk menunggu para pekerja administratif merapikan lembar soal di atas meja, saya memaksakan diri mengutarakan gagasan agar mahasiswa tidak dipaksa mengikuti “program undian” dalam pemilihan soal ujian. Sistem yang diberlakukan kini, menurut saya, jelas merugikan peserta ujian, karena mutu soal ujian yang berjumlah enam itu tidak setara: baik dalam hal isi (materi) maupun keterbacaan. Sebagai analogi, satu soal begitu bagusnya sehingga dapatlah disetarakan dengan sebuah kendaraan berharga ratusan juta, sementara soal-soal lain hanya senilai motor butut. Penerapan sistem undian pada kondisi ini jelas tidak fair.

Pada mulanya, saya menyampaikan gagasan ini dengan kesantunan yang amat tinggi, sehingga tersuarakan begitu lemah-lembut. Pada awalnya, tuan SS (kalau tidak salah bertindak sebagai korlap: koordinator lapangan) juga merespons dengan santun, meskipun ketidaksetujuannya terbahasakan dengan jelas.

“Nggak bisa begitu, dong”, sambut tuan SS antusias, “Kita tidak bisa mengubah sistem begitu saja tanpa terlebih dahulu dirapatkan”.
“Saya sudah melontarkan gagasan ini, tetapi tidak ada respons”.
“Artinya gagasan anda belum bisa diterima, setidaknya saat ini belum bisa diterapkan”.
“Saya mengusulkan agar lembaran soal dibuka, dan mahasiswa peserta ujian diperbolehkan memilih salah satu soal yang mereka minati”.
“Enak betul mahasiswa. Mereka pasti memilih soal yang menurut mereka mudah….”, ti-ba-tiba ada suara lain menyela: seorang “tuan” dari MONEV.
“Tidak juga. Mereka Cuma diberi waktu setengah menit untuk memilih. …

Singkatnya, tuan SS setuju kalau soal soca tidak diundi, tetapi dipilih: setengah menit, tidak boleh lebih. Namun, sayang sekali, belum satu jam ujian berlangsung (berarti belum sepertiga mahasiswa menikmati program “dadakan” itu), sistem penetapan soal kembali beralih ke tata cara sebelumnya: diundi. Saya baru tahu itu ketika secara tidak sengaja keluar ruangan selagi jeda sembari menanti mahasiswa menyiapkan lembar ujian soca. Seorang tuan lain penguasa MONEV (dan konon lebih berkuasa tinimbang tuan yang pertama tadi) mengembalikan format ujian soca ke bentuk semula dengan alasan (ini ceritera para penjaga lembar soal itu) kalau penggantian itu tidak prosedural. Tuan yang satu ini, konon, memang tidak suka segala sesuatu yang tidak procedural: maklum, dia tokoh “religius” sejak mahasiswa (yang juga telah membahasakan keregiusannnya dalam blog ini: “….. orang tua saya, guru-guru saya baik yang di pesantren maupun … tidak pernah mengajarkan keburuksan….”…). Dengan membiarkan mahasiswa memilih soal, bukan diundi, berarti kita telah mengkondisi mahasiswa menjadi manja, rutuk (sekali lagi: kata orang-orang yang kebetulan berdiri tidak jauh dari tempat lembar soal soca dipajang) sang reliji.

Saya tidak akan menuturkan peristiwa ini sekarang (mungkin lain kali), melainkan hendak menyuratkan betapa susahnya (setidaknya bagi saya) untuk mempercayai (apalagi meyakini) perkataan orang, utamanya mereka yang berperangai “santun”. Saya menemui ibu Mita ketika pikiran tengah dikuasai amarah, bukan terhadap perempuan itu, melainkan tuan kedua penguasa MONEV itu. Inilah salah satu bentuk arogansi kekuasaan: membatalkan keputusan saya dan SS menurut saya bukan karena keputusan itu keliru, melainkan sekadar menunjukkan kalau dia lebih berkuasa ketimbang siapa pun yang ada di situ. Keangkuhan ini tidak bakal tergambar sebagai peragai yang arogan seandainya dia telah berhasil menyatukan materi “hablumminallah” dan “hablumminnannnas” yang kerap dia kuliahkan bahkan hingga di mimbar mesjid.

“Bagaimana kalau saya setop menguji sampai di sini?”
“Jangan,” tanggap ibu Mita cepat, “Kasihan mahasiswa”.
“Kenapa jangan? Bukankah pilihan saya dan SS itu benar …”
“Saya tahu benar, tetapi yang berkuasa kan bukan kamu, atau SS”.
“Apa bedanya sih? Intinya, kita terhindar dari berbuat tidak adil. Saya menguji atau tidak menguji, apa bedanya? Kan masih ada RZ”.
“Penguji soca kan mesti dua orang”.
“Kalau begitu sebarkan saja semua mahasiswa kelompok saya ke grup lain. Sedikit, kok. Masih bersisa 8 orang”.
“Jangan. Kamu mesti meneruskan tugas kamu menguji. Kamu mesti bersabar. Kamu harus belajar menahan emosi”.
“Saya tidak bisa menahan marah jika berhadapan dengan kesewenangan. Saya mengusulkan sistem ini bukan untuk menunjukkan kalau saya .. apa namanya…bijaksana, atau apalah itu namanya, melainkan membela para “user”, para mahasiswa itu. Ibu bayangkan saja, soal-soal itu tidak setara, jika dianalogikan serupa dengan mobil berharga sepuluh juta dan satu milyar. Lha, jika undian tetap diberlakukan, sial dong mereka yang kebagian mobil sepuluh juta. Jadi, melalui ujian ini kelak kita para penguji akan meluluskan mereka yang tidak pintar, dan sekaligus tidak meluluskan mereka yang benar-benar pintar. …”
“Ibu sepakat dengan kamu. Coba kamu tidak keluar UPEP waktu itu ..”
“Saya tidak pernah keluar, saya dipecat oleh dekan dengan SK baru: dekan mengganti SK kepengurusan UPEP yang ada nama saya dengan yang tidak ada nama saya. Setelah saya cek langsung, ternyata itu usulan dari UPEP …”
“Sudahlah, kita tidak usah berdebat soal itu. Kita yang berada di luar sistem memang susah mengambil keputusan. Orang seperti kamu ini mestinya masuk ke dalam sistem sehingga dapat ngomong dan berbuat apa saja dari dalam…”
“Begini saja, ibu, bagaimana kalau keanggotaan senat bulan depan dilimpahkan ke aku?”
“Ibu setuju.”
“Asal ibu tahu saja, saya perlu masuk ke dalam agar bisa membeberkan perkara ini. Supaya mahasiswa tidak lagi terzalimi, tapi ngomong-ngomong, dengan sistem ini bukan hanya terzalimi, tetapi juga terbodohi sekaligus tertipu. Coba ibu baca skenario yang satu ini … (saya mengangsurkan selembar kertas skenario dengan topik “observational study”). Berapa interpretasi yang bisa dimunculkan? Lebih dari satu kan? Nah, coba lihat lagi berapa “check list” yang disediakan: hanya satu. Jadi kalau ada peserta ujian yang menjawab berbeda dengan check list, sementara dia benar, tidak lulus. Kata apa lagi yang lebih cocok, lebih santun, dan lebih relijius untuk menggambarkan keadaan ini kecuali zalim dan rombongannya itu?”
“Saya juga tahu”
“Kenapa tidak ngomong. Anda kan senior”
Ibu Mita diam, tidak menjawab. Dia pura-pura menulis sesuatu di kertas entah apa.
“Bagaiman dengan usulan saya tadi”, saya mencoba memecah kebisuannya.
“Usulan yang mana?”
“Tentang keinginan saya menjadi anggota senat”.
“O, iya, ibu setuju sekali. Seperti yang telah saya katakana tadi, orang seperti kamu ini sebaiknya berada di dalam. Ya, aku akan berusaha”.
“Boleh tahu usaha macam apa, misalnya?”
“Begini, secara prosedural kamu tidak bisa menjadi anggota senat. Karena masih ada ibu. Tapi ibu sudah berkeputusan untuk tidak lagi menjadi anggota senat. Ibu sudah tua, sudah waktunya mengestafetkan tongkat pimpinan, dalam hal ini keanggotaan senat, ke kamu. Lagi pula, mata ibu sudah tidak kuat lagi untuk digunakan banyak membaca, apalagi berlama-lama menatap layar komputer. Untuk memperbaharui bahan kuliah saja rasanya sudah payah. Mata ibu tidak bisa digunaka lama-lama… Begini saja, ibu akan mundur dari keanggotaan senat dengan alas an kesehatan. Dengan demikian, kamu yang dimajukan ke universitas”.
“Terima kasih, saya tidak sabar menunggu”, sambutku untuk kemudian segera ke ruangan ujian soca.
Di ruangan itu, sembari mendengarkan celoteh peserta ujian, saya mencari-cari jawaban perkataan dan ucapan si peserta ujian yang cocok atau mendekati kecocokan dengan jawaban yang tersediakan pada checklist.

Di ruangan itu, sembari mendengarkan celoteh peserta ujian, saya mencari-cari jawaban perkataan dan ucapan si peserta ujian yang cocok atau mendekati kecocokan dengan jawaban yang tersediakan pada checklist. Ternyata tidak ada: si mahasiswa menguraikan interpretasinya atas skenario (bagusnya kita namai SEKENARIO) itu sebagai case-control study, sementara jawaban yang tercetak pada checklist diperuntukkan bagi cross-sectional study. Lalu, pada lembar checklist yang bernama mahasiswa itu, saya tulis: “… seluruh keterangan mahasiswa ini tidak ada yang cocok dengan kalimat-kalimat singkat yang tercetak di atas kertas ini, kecuali ucapan pembuka. Mahasiswa ini telah memamparkan dengan bagus dan rinci topik case-control. Saya telah mengonsulkan skenario ini dengan ahli metodologi di fakultas ini yang kebetulan juga tengah menguji. Dia sepakat dengan saya kalau interpretasi skenario ini bukan hanya cross-setional study, tetapi juga case control, dan cohort. Jika kalian berkeras bahwa hanya checklist inilah yang benar, berarti si mahasiswa terpaksa saya beri angka 20. Namun bila kalian sepakat dengan saya, dan teman saya tadi, angka si mahasiswa saya beri 96. Semua terserah kalin. Tetapi, asal tahu saja, jangan pernah mempermainkan nasib orang. Wassalam”.

Saya dengar tuan-tuan “pembaharu sistem pendidikan” itu meluluskan si mahasiswa dengan angka yang telah saya torehkan: 96; tetapi sayang sekali, tidak ada khabar kalau mereka juga mengevaluasi ulang (sesuatu yang mestinya wajib dilakukan oleh tuan-tuan MONEV) hasil ujian mahasiwa lain. Maka, ketik REG spasi “RAMAL” sebelum kalian mahasiswa memulai ujian soca: dengan demikian masalah yang terbetik dalam kepala anda pasti cocok dengan checklist yang tersedia (atau ketik REG spasi COCOK, dan kirim ke 081278158xx).

Nah, ibu Mita kini resmi menjadi anggota senat, sementara usahanya untuk “mundur” karena alasan kesehatan tidak terlihat, bahkan terbaui pun tidak. Dia kini malah tampak sibuk di blok: entah pengajar IT atau tutor, atau pembimbing skill-lab, atau penguji osce dan soca: jenis kegiatan sebetulnya membahayakan indera penglihatan. Namun rasa kasihan saya bukan tertumpu pada indera itu, melainkan pada ketidakamanahannya terhadap janji yang telah ia ikrarkan. Ini bukan masalah kunang-kunang, tetapi hutang.

November 15, 2008

Perempuan di sudut musholla

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 12:25 am

Perempuan itu duduk bersila di sudut mushola pada suatu hari Rabu siang menjelang sholat zohor. Di sekitarnya bertaburan kertas putih fotokopian yang sebagian bergambar jantung dan pembuluh darah, sehingga dengan mudah tertebak kalau perempuan ini ialah mahasiswa efka yang tengah menghafal materi kuliah kardiovaskuler. Dengan bergaya demikian, bisa pula diperkirakan bahwa dia sedang menjejalkan seluruh materi tentang jantung dan pembuluh darah itu ke dalam ingatannya.

Saya tak berani mengajaknya berbicara, apalagi bercakap, kecuali sekadar mengucap ‘assalamu’alaikum’; meskipun keinginan saya untuk melafazkan pertanyaan “mengapa kamu sibuk sekali belajar, sekarang kan libur semester?” begitu mendesak. Dari caranya merespons salam, saya berkepastian kalau dia termasuk salah satu peserta ujian remedial. Ujian remedial berbagai blok memang tengah diberlangsungkan hari itu.

Mestinya saya bertanya “mengapa kamu ikut remedial?”, namun itu tidak saya lakukan oleh kekhawatiran mengusik konsentrasinya, atau membongkar kekecewaannya (mungkin) karena kegagalan dalam ujian tempo hari.

Namun demikian, saya tak habis pikir mengapa mahasiwa seperti dia harus ikut ujian remedial. Ujian remedial diperuntukkan bagi mereka yang tidak lulus, yang terpecundang: sosok yang kalah dalam pertarungan (baca: ujian), tetapi, tentu saja, pertarungan yang adil. Fairness (keadilan) dalam ujian jelas tergambar mulai dari persiapan materi kuliah, soal ujian hingga penentuan passing grade nilai kelulusan. Sayang sekali, keadilan itu masih tersembunyi entah di mana, sehingga baunya pun belum pernah tercium oleh, setidaknya, saya pribadi.

Dan perempuan itu, kekeliruan apa yang telah dia buat sehingga nasib buruk merendamnya dalam lumpur kegagalan. Dia, serta beberapa temannya yang bernasib serupa, tampak “aneh” ketika digerombolkan ke dalam lebih dari seratus peserta remedial itu. Betapa tidak, dia (juga sebagian dari teman-temannya yang senasib) tergolong sebagai mahasiswa “berkelas”: mereka smart mulai dari gen hingga usaha. Secara genetis, dia terlahir dari orang tua berkwalifikasi PhD (bukan singkatan dari “paling hobi duit”, atau paling hobi duluan”: dengan menulis ini saya tidak sedang menyanjung pemegang gelas PhD, atau menyepelekan gelar di bawahnya; namun, paling tidak, orang bodoh tak akan berhasil meraih gelar itu, di samping, tentu saja, kesempatan). Gen yang bagus tentu saja tidak serta merta menjanjikan prestasi gemilang, namun perempuan ini telah menampakkan kegigihan belajar yang begitu tinggi. Ketekunannya melahap kopi “power point” materi kuliah BLOK (menurut sebagian besar peserta didik, soal-soal ujian mcq di-copy-paste dari tulisan dalam “power point” itu), serta kegigihannya menelurkan gagasan melalui pertanyaan dan pernyataan dalam berbagai diskusi tutorial yang kebetulan saya “tutori”, begitu menggebu bagai kucing jantan yang tengah birahi mengejar betinanya.

Tampak “aneh”, memang: puluhan mahasiswa berkelas “very good” (sebutan sekenanya, karena saya belum berani menempelkan predikat “excellent”) terlempar ke dalam limbah remedial. Ada apa dengan KBK? Sebagian “pendidik” yang “by-accident” berpapasan dengan saya di depan pintu peturasan sembari menunggu giliran berkemih, dengan enteng menanggapi: “… Banyak faktor selain hanya pintar yang menentukan kelulusan seseorang. Kamu juga telah tahu itu”. Betul. “sejawat saya itu berkata benar: “ … akan tetapi faktor apa yang begitu tega dan kuat menggerus prestasi para peserta didik sehingga nilai mereka tak berhasil melampaui bahkan hanya sekadar bilangan ‘passing grade’?” Atau nilai kelulusan itu dipatok terlampau tinggi? No body know, but men from UPEP!

Saya tak bermaksud membela perempuan ini. Saya sekadar membahasakan kekecewaaan saya, bukan dirinya, meskipun saya hakulyakin kalau perempuan itu jauh lebih kecewa (bahkan mungkin murka) ketimbang saya, terhadap prosedur yang amat kasat mata telah (dan, jika tidak seorang pun berminat memperbaikinya, akan terus) merugikan banyak orang.

Sesungguhnya parameter apa sih yang membuat seorang diluluskan, sementara yang lainnya mesti mengulang? Ketika saya (dan banyak lagi sejawat yang lain) “dikuliahi” tentang materi KBK (oleh para muda yang mengaku sebagai pembaharu pendidikan itu, yang di-back-up oleh sebagian “lansia” kurang wibawa, yang juga mengklaim diri sebagai penulis skenario terbaik karena banyak dipilih mahasiswa ketika ujian soca: padahal mahasiswa terpaksa memilih itu lantaran terjebak sistem undian) ….. bersambung!

Blog pada WordPress.com.