Nutrient’s Weblog

September 14, 2007

Rakus di Semester Khusus

Diarsipkan di bawah: Analisis Masalah — rizkiadi @ 8:54 am

Semester khusus ialah wujud “kecintaan” Pimpinan (boleh jadi berbentuk dosen, guru, atau sekadar PNS penyampai materi kuliah) terhadap mahasiswa. Pemberlakuan semester ini (disebut pula sebagai semester pendek, karena dijalankan hanya sekitar 4 minggu) diniatkan untuk memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengubah nasib mereka: meningkatkan nilai satu derajat, misalkan, dari poin C ke titik B. Karena pendeknya waktu yang dialokasikan (kira-kira sepertiga waktu semester reguler), jumlah SKS yang diperbolehkan diambil hanya sepertiga SKS semester reguler. Sejauh yang saya tahu, besaran SKS yang cukup dipatok sebatas angka 6 sampai 8. Namun kenyataannya PD I menetapkan bilangan 15, seperti terbaca di papan pengumuman oleh semua orang yang berkepentingan dengan SP.

Baiklah, saya anggap penetapan angka 15 itu memang telah dihitung dan dipertimbangkan dengan bijak, bukan hanya berlandaskan desakan sebagian mahasiswa yang maunya cepat lulus dengan indeks prestasi tinggi. Maksudnya, angka 15 itu muncul dari analisis multivariat sejumlah data dengan menggunakan software anova dalam notebook yang ditanami chips dual core two; meskipun saya tidak melihat jejak kalau dia memang benar-benar telah berupaya bergerak ke arah sana.

Sayang sekali, “kebaikan” itu kemudian terbukti tercederai oleh ulah “sebagian orang”: dalam praktek, selama pendaftaran dan pembayaran SP, angka 15 yang telah menjadi ketetapan itu menggelembung hingga menyentuh bilangan 32. Bandingkan dengan besaran SKS yang biasa terambil pada semester reguler (sekali lagi, semester reguler, bukan SP): belum seorang pun mahasiswa asuh saya pernah demikian rakus meraup SKS sebanyak itu.

Alasan mengapa angka 15 kemudian dengan mudah dibengkakkan menjadi 32 tak dapat saya pastikan, namun samar-samar bisa saya simpulkan. Banyak orang berargumen: “Demi membantu mahasiswa agar cepat lulus. Mereka memohon diperbolehkan mengambil SKS lebih dari 15, dan mereka menyatakan sanggup. Saya berpendapat jika mereka telah mengatakan sanggup, berarti mereka memang sanggup. Kita sebaiknya tidak meng-underestimate mahasiswa…”

“Kalau begitu, mengapa tidak diizinkan ambil 156 SKS saja, biar semester depan sudah mengantongi gelar Sarjana Kedokteran,” tukas saya.

“Wah, tidak boleh begitu, dong …”, tanggapnya.

Sayang sekali, wujud fisik “orang” itu tak bisa dipastikan dengan mudah. Mereka yang mestinya bertanggung-jawab atas penentuan itu justru sibuk saling lempar tanggung-jawab. Dokter LLT, seorang dosen senior yang telah berusia lebih dari 60 tahun, memuntahkan kemasygulannya ketika khabar tak sedap ini saya tiupkan telinganya, sembari menunggu rapat praraker KBK dimulai. “Mahasiswa memang sering menipu,” dia berkata dengan bibir manyun, “Mereka mengambil SKS sebanyak mungkin dengan harapan siapa tahu lulus. Ini namanya kan coba-coba. Sebangsa judi lah, begitu…”. Saya tidak menanggapi, karena saya sudah tahu kalau senior saya ini tidak tahu informasi. Penggelembungan itu bukan tanpa restu Pimpinan. Saya mendengar banyak sekali katabelece (memo) beterbangan ke Bagian Pendidikan.

“Mahasiswa asuh dokter LLT ada yang ikut SP?”, saya masih saja iseng bertanya.

“Ya, jelaslah, cuma bayar 20 ribu satu SKS. Murah.”

“Berapa SKS yang mereka sodorkan, dan berapa yang dokter izinkan serta tandatangani?”

“Nah …, kalau soal itu saya tidak begitu jelas. Saya percaya saja pada mereka, sehingga tidak memeriksa …”

Saya sebetulnya ingin mengatakan justru mahasiswa asuh dokter LLT yang banyak membabi buta memborong SKS. Apa dia tidak menyadari itu? Jika dia menjawab “ya”, berarti dia bukan dosen PA yang “baik”, yaitu mereka yang menjalankan apa yang diamanahkan buku panduan tugas dan kewajiban Dosen PA (bukan Patologi Anatomi, melainkan Pembimbing Akademik); dan dia jelas tidak boleh begitu saja “cuci tangan”. Tidak boleh? Bagaimana jika dia ternyata telah mulai uzur?

Tetapi sudahlah, anggap saja angka 15 ini benar adanya. Mahasiswa yang ber-SP dengan 15 SKS berarti terbebani oleh setidaknya 6 sampai 7 mata kuliah. Satu mata kuliah terdiri paling tidak dari 10-14 bab, dan itu berarti si mahasiswa harus mengikuti paling sedikit 10-14 kali kuliah tatap muka. Itu baru satu mata kuliah (satu Bagian). Bagaimana kalau si mahasiswa betul mengambil 6-7 mata kuliah? Dan itu mesti diselesaikan dalam waktu amat singkat: 1 bulan. Dengan beban 15 SKS saja mereka mesti kerja berat, (meskipun secara fisik masih tampak santai, dan berkesempatan ber-friendster-ria di dunia maya), apalagi 32?!

Seorang pekerja administratif pada suatu pagi saya lihat mondar-mandir di depan ruang Pejabat Fakultas sembari menenteng setupuk kertas putih. Kertas itu ternyata adalah fotokopi sejumlah data mahasiswa yang mengambil SP, yang ditolak oleh Puskom lantaran kelebihan SKS-nya keterlaluan. Saya tak berani bertanya banyak kepadanya, karena takut kalau nanti dia dimarahi Pimpinan jika ketahuan terlalu intens bercaka-cakap dengan saya. Namun demikian, saya tahu beberapa hal langsung dari orang Puskom.

“Dengan SKS sebanyak itu, bagaimana nanti mutu hasil lulusan dokter kelak,” celetuknya, dan kemudian mengisahkan tetangganya di suatu desa meninggal akibat kecerobohan dokter. Dokter itu ternyata lulusan Fakultas Kedokteran ini.

“Yang meninggal itu sebetulnya masih kerabatku. Dia pada suatu hari terkena pantak ikan lele di kelopak mata. Orang tuanya membawa A ke dokter B di Puskesmas X. Dokter tidak menganggap sengatan ikan lele itu sebagai masalah. Katanya, tidak apa-apa, tenang saja, tidak usah khawatir, tidak berbahaya kok. Dan si A disuruh bawa pulang. Tetapi tiga hari kemudian anak itu buta. Saya yang bukan dokter saja tahu kalau pantak lele itu mengandung bisa, dan kebutaan itu pasti ada hubungannya dengan bisa lele.”

Saya tidak bisa menghakimi si dokter B. Namun begitu, sebagai dokter yang mengepalai Puskesmas, dia mestinya tahu jika luka di kelopak mata (jaraknya dekat sekali dengan syaraf optik yang tersembunyi di belakang bola mata) tidak boleh dianggap sepele; terlebih luka akibat sengatan (pantak) lele. Namun, bagaimanapun, saya yakin kalau semasa mahasiswa dokter ini tidak mengalami inflasi SKS hingga menyentuh angka 32. Jika suasana pendidikan belum terinflasi saja dapat menghasilkan produk seperti dokter B, bagaimana dengan produk masa depan yang pernah terkontaminasi oleh program 32?

Kalau saya sih, santai saja. Biarkan saja mahasiswa mengambil bahkan kalau mungkin 156 SKS. Dengan begitu mereka tertolong karena bisa cepat lulus. Barangkali inilah saatnya bagi Pimpinan untuk berpikir membangun sebuah fakultas kedokteran terbuka. Mirip Kejar Paket A, B, dan C di sekolah dasar dan lanjutan. Gampang, kan. Gitu aja kok repot.

September 12, 2007

Irfanuddin

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 5:08 am

Buat Dik Irfanuddin (Tulisan yang saya torehkan bukan dibuat untuk mencela, melainkan untuk membersihkan diri saya dari gosip-gosip tak sedap, yang tidak bisa saya hapus melalui dunia nyata. Yang mencela justru “sejawat anda”.)

Masya Allah, kamu berani sekali menempelkan nama jelas. Saya hampir menangis membaca komentar kamu. Tetapi terus terang, saya bukan bersembunyi, melainkan karena tidak mau ada orang di luar institusi kita tahu tentang ceritera ini. Kamu ingat apa yang pernah kita bicarakan tentang skill-lab itu? Kita kan sudah punya kata putus “ya”, yang berarti bahwa keputusan itu tidak akan dimentahkan lagi.

Konkritnya, tidak akan ada lagi rapat Blok tentang masalah itu. Namun, saya tidak habis pikir, tiba-tiba saya menerima surat yang dialamatkan ke Kepala Bagian Gizi (ditembuskan ke saya, dokter Dimyati, dan kalau tak salah ingat dokter Nazir) untuk segera merancang penuntun Skill-lab. Saya jelas tidak sudi (bukan keras kepala) mengikuti perubahan mendadak seperti itu. Bukankan kita yang hadir dan berkesepakatan di situ seluruhnya muslim?

[Saya sebelumnya tidak pernah menceriterakan “our secreat meeting" kepada Kepala Bagian hingga 2 minggu lalu ketika berita tentang ketiadaan soal saya pada ujian mcq Blok 6 bertiup kencang sebagai gosip tentang “kemasygulan saya soal uang”. Sementara Kepala Bagian mencap saya sebagai “tidak bertanggung-jawab” karena keanggotaan saya di Blok merupakan wakil Bagian, dan oleh karenanya wajib bertanggung-jawab memikul seluruh tugas terli dengan Blok. Konkritnya: tidak boleh lagi ‘merepotkan Bagian’ seperti pembuatan penuntun skill-lab tempo hari.

Penjelasan saya tentang keputusan kita bersama tak digubris mereka. “Orang bisa saja berubah pikiran”, kata sang Kepala: ucapan yang tentu saja tidak dipikir secara matang, yang terkesan bertujuan membela sejawat (entah siapa?) sembari memojokkan saya; terlebih setelah kalimat berikut terlontar dari mulut beliau: “…lain kali tunjukkan kinerjamu yang baik, sehingga orang-orang percaya bahwa kau bisa bekerja dengan baik..”].

[Saya tidak sedang menyatakan bahwa kinerja saya pada Blok 6 telah baik, apalagi “kinclong”. Namun jika disebut jelek (meski sekadar disiratkan), jelas tidak benar. Saya telah mengajar tepat waktu, dan membuat materi ajar sebanyak 95 halaman diketik dengan times new roman dengan besar huruf font 11. Meskipun materi ajar ini tidak dibagikan gratis, dan mahasiswa tidak diizinkan mengkopi, saya tidak pernah (setengah) memaksa (seperti yang dituduhkan arismonyet dalam ….) mahasiswa untuk membeli. Manuskrip buku itu tidak saya serahkan ke UPEP karena lembaga ini tidak bisa memastikan buku itu tidak bakal diperbanyak secara illegal. Perlu kamu ketahui, bahwa bahan kuliah saya itu terambil dari beberapa bab buku saya yang telah dan/atau tengah dalam proses penerbitan. Yang justru suka “memaksa” beli diktat ialah sejawat kamu sendiri: diktat yang dikumpulkan dari sebagian besar gambar hasil nyeken materi dari buku teks (apa bedanya dengan menjual CD/DVD bajakan?). “Pemaksaan” itu terjejak pada keharusan membuat jawaban soal di diktat itu juga, tidak boleh di kertas lain. Jawaban tak akan diperiksa (berarti tidak dinilai) jika mahasiswa ngotot menulis selain di diktat itu].

Kamu ingat tidak pada suatu hari menjelang rapat Blok 6, saya lupa tanggalnya, saya pernah berkata bahwa jika kamu benar akan saya bela (dan itu saya buktikan), tetapi jika salah akan saya labrak. Kamu barangkali (mudah-mudahan) juga tidak lupa kalau pada ujian soca Blok 5 saya pernah (dengan nada “marah”, maaf, sesungguhnya bukan marah, melainkan stres karena skenario yang kamu buat bisa menyesatkan jawaban mahasiswa, dan itu berarti saya membiarkan kamu berbuat zalim) “memaksa” kamu mencabut skenario yang kamu buat, dan kamu mau. Keputusan itu amat saya hormati, dan khabar itu juga saya sampaikan ke teman-teman.

Saya juga memaksa kamu mencabut skenario lain (kalau tak salah insulin), tetapi kamu menolak karena rongsokan itu bukan milik kamu. Kamu bilang itu buatan X (saya tak hendak menuliskan nama jelas, karena Blog ini diplototi banyak mahasiswa seantero fakultas kedokteran) dan itu juga saya hargai, karena mencabut atau merevisi bukan wewqenang kamu, melainkan divisi monev. Kamu bilang, kalau saya masih saja bernapsu mendesakkan pencabutan, datangi saya dokter X.

Ya, saya temui dokter X. Saya paparkan maksud saya kepada dia. Jawabnya: “Susahnya di mana sih. Apa yang susah? Anda arahkan saja mereka. Arahkan ke penjelasan tentang recombinan, pokoknya seperti yang tertulis dalam check-list…”. Saya segera lari sebelum sang dokter X menyelesaikan penjelasannnya lantaran khawatir kalau emosi meluap hingga terjadi persinggungan fisik. Saya tidak habis mengerti bagaimana seorang seperti dokter X bisa ngotot tidak mau mencabut skenario yang menurut bayak penguji soca (bukan hanya saya, tetapi yang berani bersuara hanya saya seorang) “salah”, dan berucap: “arahkan saja”. Dia itu kan tutor of the tutor. Bukankah penguji soca tidak boleh besuara selama ujian soca berlangsung? Apalagi mengarahkan?! Dia terkesan mengingkari apa yang telah dia ajarkan semata untuk membela skenarionya. Lantas, kalau Arisman protes, apa itu salah? Untung cuma saya. Jika mahasiswa ikut unjuk rasa, bagaimana?

Saya pernah menaruh harapan besar terhadap kamu (juga sejawat kamu yang muda-muda) ketika kamu melontarkan keinginan untuk menjadi staf pengajar. Kamu masih ingat tidak saat ketika kita duduk-duduk di depan Bagian anatomi, sembari menunggu pacar kamu (kamu belum menikah waktu itu), dan kamu mengeluhkan tentang tulisan kamu yang dialihnamakan oleh dosen kamu menjadi karya mereka. Saya hakul yakin kalau kamu ingat.

Saya waktu itu juga mengatakan bahwa menulis bukanlah hal yang mudah, meskipun sebagian dosen banyak orang mengatakan “ah, gampang, semua orang bisa nulis, apalagi kita-kita yang sudah terpelajar ini; masalahnya cuma tidak sempat saja”. Dan kamu sepakat akan hal itu.

Dan itulah yang kini tengah saya perjuangkan, dan sepertinya tidak menimbulkan gema di selasar institusi ini

Masalahnya, bukan saya ingin diperhatikan, bukan pula ingin populer. Kalau sekedar populer, maaf, saya sudah populer. Buku saya sudah dicetak-ulang tiga kali sebelum berusia terbit tiga tahun; di samping telah memperoleh penghargaan tingkat nasional dua kali (satu-satunya dari fakultas kedokteran, dan satu-satunya dari universitas ini). Pembaca buku saya bukan hanya mahasiswa kedokteran semester VI, tetapi juga guru besar. Peredaran buku saya bukan hanya di warung mahasiswa Inderalaya, tetapi jauh sampai ke Maluku (saya banyak mendapat tanggapan lewar SMS dari mereka). Di Palembang ini, memang, buku itu sepertinya “tidak berharga”, tetapi aneh beroleh reward berskala Nasional.

Jadi, keliru sekali kalau si “arismonyet” (sesungguhnya identitas si monyet ini sudah terlacak) menyangkakan saya sebagai “gagal ngetop”.

Yang saya cemaskan ialah skenario (utamanya skenario soca) yang berbahasa rancu sehingga menimbulkan interpretasi ganda (lebih dari satu). Jika itu skenario tutorial, ya, “tidak masalah” (bukan berarti tidak bermasalah, bung). Lha, kalau skenario soca? Sebab penguji (penguji tidak dibenarkan mengarahkan, begitu kan tuntunan perlatihan tutor yang pernah kalian lantunkan dulu?) hanya ditugasi menandai check list. Jika mahasiswa peserta ujian tidak menjawab sesuai check list, berarti mereka salah.

Bagaimana kalau sebuah skenario soca bisa diterjemahkan (diinterpretasikan) ke dalam dua (atau bahkan lebih) jawaban? sementara jawaban yang ada dalam check list hanya satu?

Sekali lagi, mudah-mudahan kamu masih ingat (dan Drs. Sadakata juga) sebuah skenario soca pada Blok tiga (3). Skenario yang saya maksud (sayang sekali saya tidak mengoleksi skenario itu) bisa diterjemahkan menjadi dua jawaban: cross-sectional dan cohort. Namun, sayang sekali, jawaban yang tercetak pada lembaran check list hanya “cross-sectional”, sementara sang mahasiswa menjabarkan cohort (padahal skenario itu bukan hanya bisa ditejemahkan ke dalam metodologi cross-sectional, tetapi juga cohort dan case controle. Jika saya mengacu pada check list yang dibuat itu, sang mahasiswa tidak lulus. Sayang sekali, kan. Si mahasiswi telah berpresentasi dengan nyaris sempurna, berbahahasa Inggris dengan “fluently”, apakah karena “kekeliruan” pihak penulis dalam membahasakan skenario si mahasiswi menanggung derita tidak lulus?

Mahasiswi itu mestinya mendapat nilai 100, tetapi hnya saya beri angka 96 (saya lupa tepatnya berapa?) semata karena dia mengenakan blus agak pendek, sehingga jejak umbilikusnya mengintip ketika ia mengangkat tangan untuk menjepitkan kertas di papan tulis (silahkan kamu cocokan “pengakuan” saya dengan dokter Yanti Rosita: beliau mendampingi saya ketika itu).

Soal tuduhan teman kamu “saya mau menang sendiri”, coba kamu telisik tulisan saya apakah kalimat baik tersirat maupun tersurat yang bernada mau menang sendiri?

Kamu mungkin masih ingat kejadian rapat pada Blok 1 setahun silam?. Ketika tutor hendak dipilih, dan Sadakata berucap: “…kalau begitu tutor kita tawarkan dengan Arisman dan Teodorus …”. Namun saya cepat-cepat berdiri, dan berkata, “Nanti dulu. Tentukan terlebih dahulu kriteria tutor. Nanti kalau saya yang dipilih Teo akan protes, kalau Teo dipilih saya juga protes. Jika kriteria sudah dipatok, mari kita cari siapa saja dosen yang memenuhi kriteria itu”.

Berkali-kali saya menyuarakan itu, baik di tengah rapat resmi maupun di selasar (mengutip bahasa “arismonyet” penggemar saya), tetapi sepertinya tak ada tanggapan. Sesungguhnya, bukan tanggapan itu benar yang saya perlukan, melainkan upaya yang konkrit ke arah sana. Protes saya mengalir bukan karena saya jarang ditawari menjadi tutor, melainkan karena tugas tutor tidak gampang. Ia bukan sekadar duduk, diam, dan kemudian menandatangani honor. Dia juga bukan bertindak sebagai corong pembuat tutor. Dia, jauh dari situ, harus memiliki kemampuan berkomunikasi, di samping penguasaan bahan yang akan dibahas.

Saya pernah berkali-kali mengutarakan itu pada kamu, termasuk sekali dengan Legiran (ketika pada suatu ketika dia berpapasan dengan saya di selasar dekat warung fotokopi dan musholla). Saya juga telah membahasakan kepada kamu, bahwa bukan masalah terpilih atau tidak terpilih, melainkan kriteria telah dibuat dan dilaksanakan. Saya juga pernah menegaskan pada kamu, bahwa seandainya saya tidak terpilih pun sepanjang 22 Blok tidak akan membuat saya kecil hati.

Lantas, saya (juga sahabat saya, bahkan yang berdinas di luar Instansi dan Propinsi ini) serta merta terheran-heran ketika diri saya didakwa sebagai tukang kacau (siapa lagi jika bukan sejawat kamu). Dalam hal apa saya pernah mengacau? Saya justru cenderung menutupi aib sejawat, setidaknya hingga Blog ini belum diciptakan (Sekedar informasi, ini bukan Blog milik saya, melainkan teman yang menginginkan saya tidak cuma “ngomel” di selasar). Saya memperoleh informasi kalau ada oknum dosen yang diadukan oleh mahasiswa akbid swasta ke Dekan karena telah melakukan pelecehan seksual, tetapi tidak saya beritakan kepada siapa pun. Ketika “sekelompok orang-orang kecil” mulai panas karena rekan mereka dipecat karena ulah seorang dosen, dan dosen itu tidak membela, saya bahkan berusaha “mendinginkan dan menenangkan”. Jika saya memang pengacau, sudah pasti dosen yang tidak bertanggung-jawab itu kini telah ditumbuhi belatung, atau setidaknya masih menginap di ruangan ICU. Coba tunjukkan mana titik “pembuat kekacauan” yang diributkan itu. Kamu pasti setuju kalau saya katakan kedua kasus itu adalah bara yang potensial untuk ditiup menjadi kekacauan, tinggal menuangkan beberapa tetes “bensin”, dan buuum, ledakan pun terjadi.

Kita pernah bersama-sama memeriksa kontingan PON pada tahun 2000, dan kamu menggerutukan “kesewenangan” senior kamu, dan saya berucap: “Jika kamu telah senior kelak, kamu jangan mengulangi perbuatan itu”, dan kamu mengangguk waktu itu.

Tolong sampaikan kepada sejawat kamu, bagaimana mungkin TRI mendominasi sampai 33 kali pertemuan, sementara BAB dalam Blok 5 hanya berjumlah 22; dan apa tanda-tanda yang teramati kalau si TRI ini kaya mendadak. Tolong kalian cek SK Dekan dari Blok satu (2006) hingga Blok satu lagi (2007): initial nama siapa saja yang dominant?

Saya terpaksa menuliskan TRI di sini terlepas dari hubungan kekerabatan. Dia dosen yang tengah diupayakan untuk difitnah. Soal kekayaan, coba kalian cek di Badan Pertahan. Dia telah memiliki tanah seharga 500 juta, punya kebon seharga 590 juta, punya rumah yang sekarang ditinggali, dan mobil: seluruhnya plat hitam (itu baru yang saya ketahui saja). Laptop-nya dibeli jauh sebelum Blok 5 di-launcing. Laptop saya demikian pula, dibeli dengan uang sendiri (meski ngutang), bukan bantuan kredit dari Fakultas. Dan bagaimana pula kalian menuduhkan skenario “Karyo” sebagai karya pesanan TRI kepada saya? Saya tidak mungkin menulis demikian. Bukankah saya telah mengatakan pada kalian (utamanya kamu) bahwa jika sebuah skenario hendak diberi judul, maka judul itu harus menggambarkan isi skenario. Dan “Karya” adalah judul yang salah. “Sungai Durga” adalah contoh judul yang baik, meskipun dibilang jelek oleh arismonyet (maklum dia monyet).

Tanggapan tertulis “arismonyet” ini sekaligus menguatkan argumen saya bahwa menulis bukan hal gampang, karena salah membahasakan sesuatu berakibat lain dari yang tertera dalam otak sang penulis bego. Contohnya alinea di atas. Si penulis ingin menyudutkan TRI yang kaya mendadak sebagai Ketua Blog, tetapi (karena tidak mengerti teknik penulisan) dia tidak menyadari kalau tulisan itu bisa diarahkan ke arah Pejabat yang lebih Tinggi. Jika Ketua Blog saja bisa kaya mendadak, apalagi Ketua (termasuk si arismonyet tentu saja) UPEP, Dekan, dan Pembantu Dekan. Bukankah Ketua Blok itu berada di bawah UPEP, dan segala anggaran baru bisa dicairan setelah disetujui, paling sedikit, oleh Ketua UPEP?! Jadi, wajar kalau berembus suara miring tentang sebagain dari kalian: “Belum genap setahun telah membeli/mengganti mobil baru. Dari sini, sekali lagi saya ingatkan, bahwa Bahasa Menunjukkan Siapa Kamu Sebenarnya.

Lantas, apa yang telah saya sumbangkan kepada almamater, kecuali wira-wiri di selasar fk sembari ngobrol dengan mahasiswa, satpam, hingga cleanning servive. Pernyataan ini sungguh menyakitkan, bukan terhadap diri saya, melainkan orang-orang yang kebetulan kalian lihat sering bercakap-cakap dengan saya. Maksud kalian sebetulnya, barangkali, tidak menyakiti mereka, tetapi meledek saya. Namun karena salah membahasakan pikiran, ya, jadi begini ini: mengguratkan sakit hati pada banyak orang. Memangnya dosen tidak pantas berbicara dengan mereka. Memangnya mereka itu taik, atau babi? Jika orang seperti ini kelak menjadi pimpinan, wah, susah sekali saya menerka apa yang akan terjadi pada institusi ini kelak. Saya tidak perlu menuliskan “who the hell I am”, namun sekadar kalian ketahui bahwa ayah saya perintis kemerdekaan (di SK-kan Presiden pada tahun 1977), wak saya pahlawan nasional (pernah menjadi gubernur militer, menteri pertahanan dan banyak lagi: terakhir berpangkat mayor jenderal tituler). Namun demikian, untuk apa membanggakan keturunan? Saya sendiri tak pernah tahu apa yang telah saya sumbangkan pada istitusi ini? Tetapi setidaknya banyak orang Jakarta “kagum” ketika orang yang dijuluki monyet itu berasal dari luar Jawa.

Kemampuan berbahasa dengan baik dan benar jelas bukan milik FKIP jurusan Bahasa Indonesia. Bagaimana mungkin seorang (atau beberapa orang) dosen yang telah berkualifikasi pasca sarjana, yang memberikan kuliah pasca sarjana, berbahasa sama levelnya dengan murid-murid SMP, atau SMA. Coba kamu simak tulisan dalam komentar si arismonyet “…sekadar lulusan S2 yang berakreditasi C …”.

Si arismonyet sebetulnya ingin melecehkan saya, namun karena penguasaan bahasanya jelek (saya sebetulnya ingin menuliskan kurang, tetapi sofware statistik yang saya gunakan ngotot mengeluarkan klasifikasi “jelek”) dia secara tidak sengaja (atau dalam hatinya memang demikian) melecehkan banyak orang. Tidak usah jauh-jauh, di UPEP saja paling tidak ada 2 lulusan S2 yang si arismonyet maksudkan : SSL dan HDL (sekadar menyingkat nama). Mereka berdua cermabahkan tidak lulus toefl (kamu lihat saja sendiri pendapat dari pembaca di kolom komentar). Namun demikian, tolong sampaikan pada Pimpinan anda untuk lebih terampil mengendalikan jemari anak buah untuk tidak serta merta menekan keyboard (notebook itu dibeli atas bantuan Fakultas)

Sekedar kalian ketahui, begitu lulus dokter saya tidak mengalami kesulitan untuk melanjutkan study ke jenjang ng lebih tinggi di luar negeri (kalau saya mau). Tahun 1989 saya diajak Peter Underwood dan Dennis Gray (direktur Western Australian University) kuliah nutritional epidemiology, tanpa tes (tak percaya, tanya Prof, Rusdi). Selanjutnya, ke Thailand (Prof. Sonchai, saya tak tahu siapa yang kenal nama ini: Prof Chairil barangkali), Florida State University (direkomendasi Prof. B Nam; juga tanpa tes: konfirmasikan dengan DR. dr. Surya Chandra Surapati, matan dosen FK, yang kini fungsionaris PDIP, kakak ipar Doker SHP). Sementar Jakarta, Population Study UI (di bawah Prof. Alwi Dahlan) telah 3 kali mengundang. Lantas, mengapa tidak pergi? Bego, kan? Itu urusan saya. Oya, satu lagi, Quinsland University Australia. Nah, arismonyet dkk., yang saya ketahui cuma berkutat di Indonesia.

Tudingan bahwa saya telah mematikan UDIK tentu saja sebuah fitnahan besar. Saya juga telah tahu siapa pengirimnya. Ini satu lagi contoh oknum dosen yang ngomong tanpa dibekali data. UDIK ialah sebuah unit yang tidak tercantum dalam statuta. Kenapa dia dibentuk, mendingan kamu tanya langsung ke mantan PD II dokter Syahril Aziz DAFK, Mkes. Yang jelas, saya tidak mematikan UDIK, tetapi UDIK kollaps setelah saya tinggalkan (setahun setelah menjalani jabatan) mati, sementara perangkat komputer saya kembalikan utuh ke PD II, untuk kemudian dialihfungsikan ke Unit Penelitian (UPKK) semasa masih beruangan di sebelah IKM (tanya Pak Syahril Aziz, Teodorus, dan Suryadi Cek Yan).

Saya bukan kayak arismonyet, yang memiliki laptop baru ketika menjabat sesuatu. Tahun 1997 saya telah memiliki laptop ACER, lalu dilanjutkan dengan COMPACT (kalau mau bukti, bangkainya sekarang masih ada). Dengan kepemilikan dua laptop itu, apa gunanya saya “ngompreng” Desktop dinas?. Asal tahu saja, dahulu laptop hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, belum menjamur seperti sekarang, sehingga Tukul Arwana pun punya.

Mengapa saya akhirnya terbujuk menggunakan BLOG, semata karena untuk membersihkan nama, pada mulanya. Setelah kejadian ketidakberadaan soal ujian saya pada ujian mcq Blok , beredar issu: “Arisman tidak mengumpul soal karena uang”. Isu lain “karena terlambat mengumpul”. Saya tentu tidak sepakat dikatakan terlambat, karena tidak ada kata terlambat yang keluar dari mulut saudara penguasa monev, di samping sekretaris Blok (YRS) merekomendasikan pengumpulan soal paling lambat Jum’at sore. Seandainya Sang penguasa berkata “Soalmu terlambat, dan tak dapat digunakan lagi”, dan Sekretaris Blok juga demikian, tentu saja Arisman akan mengaku salah.

Tudingan “karena uang” sungguh amat menyakitkan. Duit yang saya telah terima hanyalah honor pembuatan materi kuliah sebanyak dua kali Rp. 127.500,- Duit lain tidak ada. Honor yang dijanjikan untuk pembuatan assesment tidak pernah saya terima. Pemeriksaan assessment itu pun tidak diserahkan ke saya, padahal yang membuatnya saya (berarti yang tahu jawabannya saya, di samping materi itu memang bidang saya). Memang, saya pernah mendapat undangan dari Ketua Blok 6 untuk pemeriksaan itu, tetapi saya tak lagi bernapsu, Saya balas dengan sms: assessment itu saya yang membuat, oleh karenanya harus seluruhnya diperiksa oleh saya. Jika kalian keberatan, periksa saja sendiri: all or none law.

 

Sedikit lagi, jangan ditutup dahulu, saya sesungguhnya tidak pernah mengundurkan diri dari UPEP. Mudah-mudahan kamu masih ingat kejadian di depan dekanat efka Palembang. Kalau tidak salah, kumpul bareng staf UPEP baru berlangsung 3 kali. Saya menghadang kamu persis ketika kamu telah duduk di atas motor (setahun lalu kamu masih berkendaraan motor bebek hitam belel tahun sembilan puluhan) dan baru akan memasukkan persnelling satu. Kata saya waktu itu, “Fan, agaknya saya tidak bisa mengikuti rapat rutin pembentukan Blok. Saya pikir lebih kalian saja, saya tidak memiliki kemampuan konsepsional seperti kalian yang muda. Tetapi kalau ada sesuatu yang akan ditulis, saya bersedia. Tiap Blok kan harus dibuatkan modul. Nah, kalau waktu pembuatan modul telah sampai, tolong saya dikhabari…”. Saya tak percaya kalau kamu lupa. Namun, kalaupun lupa, inilah saat kamu mengingat.

Jika kemudian keluar SK Dekan (revised edition) berupa “reorganisasi UPEP” minus nama saya, ya, ndak tahulah. Kepada Dekan, pada suatu pertemuan saat saya mengabari beliau tentang reward yang saya terima tempo hari, saya ucapkan “….. Kakak (beliau tak suka kalau saya menyebutnya bapak) kan yang memecat saya…” dan beliau menjawab, “Bukan, bukan saya. Saya hanya meneken surat yang telah dikonsep oleh UPEP.” Hanya itu, dan tidak ada diskusi lebih lanjut, karena hari itu memang tidak sedang membicarakan topik demikian.

Jika pernyataan saya ini dibantah, ya, mudah saja, kita masing-masing bersumpah saja demi Allah.

Akhirnya, saya harus berbesar hati mengucapkan rasa takjub dan salut kepada kamu (and your colleagues), yang telah rela bekerja keras “memeriahkan” KBK tanpa diberi honorarium oleh fakultas (bahkan untuk makan siang pun, untuk sebungkus gado-gado saja harus menguras kocek pribadi), namun masih untung beroleh kesempatan mengajar di beberapa akademi swasta (saya tidak mungkin mampu berbuat seperti itu). Oleh karena itu, perkenankanlah saya mengucap nasihat agar kamu banyak berzikir melafazkan rasa syukur pada Allah, karena bukan hanya terlahir (your best destiny) dari orang tua berpunya, tetapi juga dikelilingi oleh teman-teman yang penuh perhatian. Hingga tulisan kamu masuk ke wilayah Blog ini, saya belum pernah menjumpai orang yang berhati semulia kamu.

Sekian dulu dari saya, jika kamu seperti yang kamu tulis, ya, mudah-mudahan kamu selamat di dunia dan akhirat. Maaf lahir dan bathin.

September 8, 2007

Khianat di Hari Jum’at

Diarsipkan di bawah: Kesaksian — rizkiadi @ 1:47 am

Soal kuliah dokter ARS tidak muncul pada ujian mcq Blok 6, dan dia juga tidak hadir sebagai dosen pengawas pada hari senin itu. Sebagian mahasiswa, utamanya mereka yang telah membaca tuntas bahan kuliah ARS (membeli bagi yang jujur, atau mengkopi bagi yang berbakat menjadi penipu) bertanya-tanya mengapa tidak satu soal pun dimunculkan dari mata kuliah “Pemeriksaan status gizi” dan “Penentuan kebutuhan energi”? Ini tidak lazim, dan menurut saya aneh, sebab setiap dosen yang memberi kuliah mestinya sekaligus menjadi pembuat soal. Menurut mahasiswa peserta didik sistem KBK pun begitu. Beberapa mahasiswa bertanya kepada saya mengapa, tetapi saya juga tidak mempunyai jawaban. Namun demikian, saya sebenarnya telah mendengar issu bahwa ARS terlambat memberikan materi soal. Ketika pada hari jumat, sebelum hari senin itu, ARS menyerahkan soal kepada dokter Yuwono, MBiomed (personil UPEP divisi monitoring dan evaluasi), soal ujian tulis mcq ternyata sudah dicetak; dan ARS berang karena soalnya tidak mendapat tempat.

Keherananan saya mengental karena ARS, sejauh yang saya kenal, tidak pernah berlaku sezolim itu. Meski pernah beberapa kali tidak tepat waktu, mengumpulkan naskah soal melebihi tenggat, dia belum pernah berperilaku tidak bertanggung-jawab seperti yang diisukan itu. Berikut pengakuan ARS, yang saya publikasikan persis (tidak dilebihkan, tidak juga dikurangi) seperti apa yang dia tulis.

oOo

“Meskipun tidak secepat orang lain, tetapi aku tidak terlambat…,” kata ARS sebelum sempat saya menjelaskan. Agaknya dia telah mendengar banyak tentang issu itu. “Pagi jum’at aku bertemu Y, sekretaris blok 6. Jum’at pagi itu kan ada skill-lab tentang pemeriksaan status gizi di Inderalaya. Mengapa aku sampai nekad nyetir sendiri ke Inderalaya, sementara ke Bukit Besar aku tak mau hadir, karena meski aku tak setuju dengan pemberlakuan skill-lab … ah nanti saja aku jelaskan… Aku tanya Y apakah dokter Dimyati (selanjutnya ditulis D)  membuat soal. D yang memberi kuliah berbahasa Inggeris di Bukit Besar. Y bilang tidak. Aku tanya lagi, apakah D masih akan membuat soal, atau memang tidak sama sekali. Kata Y tidak, D sudah memastikan tidak akan membuat soal. Lho, aku agak terperangah. Kenapa begitu?, tanyaku. Kata Y, memang begitu, karena yang membuat materi kuliah kan aku. Awalnya memang demikian, aku membuat bahan kuliah, dan D hanya menyampaikan. Tapi di hari berikutnya aku tak mau menyerahkan naskah berikut power point kuliahku. Bukan apa-apa, aku khawatir D nanti menyerahkan semua bahan ke UPEP dan ke mahasiswa. Bahanku kan paling lengkap. Bukan arogan, aku selalu memperbarui bahan setiap semester. Kau tahu itu. Nah, jika seluruh bahan sudah di tangan UPEP, apa tidak mungkin akan dijual kepada mahasiswa pada kuliah angkatan berikutnya. Sebagian mereka kan gila duit. Sebetulnya kita juga butuh duit, ya. Aku amat butuh duit sekarang, tetapi aku tidak mau memperoleh duit dengan cara demikian… Ah, menyimpang, aku sudah sampai di mana tadi?…”

“Kau ketemu Y, dan D dipastikan tidak membuat soal”.

“Ya, D tidak membuat soal. Oleh sebab itu Y mendesak aku agar segera menyerahkan soal. Aku bilang soal berbahasa Indonesia sudah kelar, tetapi belum aku Inggeriskan. Kalau begitu segera Inggeriskan, kata Y. Aku tanya lagi, kapan trakhir, maksudku kapan dealine pengumpulan soal. Sore ini, jawab Y. Oke sore ini aku kumpulkan, tapi ke siapa? Ke UPEP, jawab Y. Oke sehabis skill-lab aku …eh, nanti dulu, sehabis sholat jum’at saja, aku ke UPEP. Aku nyetir sendiri. Jadi, aku akan tiba di Palembang sekitar pukul dua…”

“Kau ketemu Y pukul berapa?” saya tak sabar mendengar kisah pertemuannya, sehingga berujung sebagai pertengkaran, untuk tidak sampai beradu fisik, dan berbuah sebagai issu tentang sifat jelek ARS yang mau menang sendiri.

“Begini. Setiba di FK aku tidak segera menemui Y karena dia kulihat tengah membimbing residen Penyakit Dalam. Aku baru menemuinya ketika aku sadar jam dinding di ruang tamu yang ada satpam-nya telah menunjukkan angka tiga lebih. Aku ke Y, memotong pembicaraannya dengan residen itu, dan berkata: ‘Y, ini soalku, ada dua puluh butir’. Si Y langsung merespons: ‘Pindahkan saja ke laptop saya,’ katanya. Nyetaknya kapan, tanyaku. ‘Soal sebenarnya sudah dicetak, sebab aku khawatir ujian senin besaok belum siap…,’ kata si Y, ‘tapi kando (maksudnya kakanda, karena aku) pindahkan saja ke laptopku, nanti aku sortir mana yang patut dimasukkkan….”. Kata ‘sortir’ menyentakkan kesadaran ku kalau tidak lama lagi bakal terjadi keributan. Terus terang saja, aku telah berprasangka jelek terhadap YON. Menurutku dia itu arogan, meski kesantunan ala “Jawa” nya dicoba untuk ditampilkan. Kau ingat skenario yang dia buat untuk untuk ujian soca blok 5? …”

“Yang mana, ya?” saya menyela, karena memang tidak ingat.

“Itu, tentang diabetes…., tapi nanti saja kita bahas. Biar kuhabiskan dulu cerita yang satu ini… Tadi aku katakan, bahwa kata ‘sortir’ telah memantik … o, ya, tadi aku katakan kalau di Y telah menyatakan bahwa soal telah dicetak. Nah aku kemudian bertanya lagi, apakah seluruh soal telah dicetak? Jawab si Y: ‘Belum seluruhnya, tetapi seratus soal pertama telah selesai dicetak. Sekarang sedang mencetak seratus soal kedua…’. Lha, Y tidak segera merespons, maka aku segera ke ruang tempat soal diperbanyak. Di ruangan itu hanya ada tiga pegawai tata usaha UPEP, dua perempuan dan satu lelaki. Tidak ada dosen. Waktu itu aku mulai berpikir kalau persiapan pengerjaan perbanyakan soal ini tidak dilaksanakan dengan serius. Kau bayangkan saja, ke ruangan itu semua orang bisa keluar masuk. Apa tidak mungkin terjadi manipulasi? Maksudku apa tidak mungkin soal-soal itu, sebagian atau seluruhnya, diselundupkan ke sebagian mahasiswa? Jadi beginilah kerja orang-orang UPEP itu? Nah, di ruangan itu, pada hari itu memang aku lihat Dyo tengah menjalankan mesih, sementara dua perempuan itu menyusun lembran soal yang telah jadi. Aku mengambil satu eksemplar, satu paket, seratus soal yang kedua seperti yng diucapkan Y. Semuanya sudah sampai pada nomor 91. Aku minta izin, dengan setengah memaksa tentu saja, untuk membawa ke 91 soal itu ke Y. Nah Y, ucapku setiba kembali di ruangan UPEP, bagaimana ini, soal yang tercetak sudah sampai nomor 91. Soalku ada 20. Bagaimana kalau nomor 81 hingga nomor 91 dibuang saja dan diganti dengan 20 soal dari bab yang aku kuliahkan? ‘Ya, kando pindahkan saja ke laptop saya, nanti akan saya pilih mana yang layak, dan akan diacak …’. Diacak? Aku menyela, jadi ke sembilan puluh satu soal yang telah tercetak ini akan dibatalkan dan kita bikin yang baru lagi…’Oh, ndak bisa begitu. Kita sudah kehabisan waktu, mana mungkinlah membuang …’. Jadi punyaku tak bisa masuk dong, selaku. ‘Ya, apa boleh buat …’, timpalnya.

Orang ini bagaimana sih, pikirku. Tadi dia meminta aku memindahkan soal ke laptopnya. Mau disortir, untuk kemudian diacak. Sampai di sini kau mengerti cerita ku?…

“Ya, saya mengerti sekali”.

“Sesungguhnya aku sudah mulai marah, namun tetap berusaha untuk mendinginkan hati. Aku meminta dia bagimanalah caranya agar kedua-puluh soal ini bisa diikutkan dalam ujian senin besok. Tapi Y menjawab, ‘pindahkan saja soal kando ke laptop saya’ begitu saja. Aku jadi kesal, dan merespons: ‘apakah kau jamin keduapuluh soal ini bisa diikutkan?’ Bukan apa-apa, aku memberi kuliah dua bab. Berdasarkan kesepakatan rapat blok 6, tiap satu bab harus membuat soal sepuluh. Kalau dua bab kan jadinya dua puluh. Di samping itu, memang sudah menjadi kelaziman, bahwa pemberi kuliah adalah orang yang juga membuat soal. …’Ya, makanya saya minta tolong soal kando itu dipindahkan saja ke lapto saya. Nanti akan saya seleksi. Kan masih kurang 9 soal untuk mencapai seratus.’ Kedengarannya sopan, kan?! Dia, di Y itu minta tolong. Tapi aku tidak bisa terima kalau soalku yang dua puluh itu cuma diambil sembilan. Maka aku berusaha menghubungi dokter Hasrul Han (selanjutnya ditulis H), ketua blok 6. Di telepon dia menjawab kalau dirinya tengah menemani istri, dan akan segera tiba di FK dalam sepuluh menit.”

“Aku menunggu sampai sepuluh menit yang dijanjikan itu habis. Lalu, aku menelpon lagi. O, ya, aku menelpon tidak dari Hp-ku, tapi dengan telpon yang ada di depan kamar Dekan. Aku gunakan telpon kantor bukan sekadar menghemat pulsa, tetapi juga menghindari dari Y. Sumpah, aku sudah gatal hendak meninju kepala besarnya itu. … Nah, selanjutnya, sembari menunggu H, aku kembali ke ruangan UPEP. Di sana aku tidak lagi melihat lembar-lembar soal yang berjumlah 91 nomor yang aku ambil tadi. Aku tanya Y kemana perginya soal itu? ‘Sudah saya amankan,’ katanya, ‘menghindari kebocoran.’ Bagaimana perasaanmu sendainya aku adalah kamu pada waktu itu? Terus terang aku amat sangat tersinggung. Ketergesaan Y mengamankan soal terkesan berlatar-belakang curiga jangan-jangan aku bakal membocorkan soal. Dari bahasa tubuhnya aku memastikan kalau Y memang berpikiran sama persis seperti dugaanku. Soal curiga, ya, sah-sah saja, terlebih bila ditinjau dari tanggung-jawabnya sebagai koordinator monitoring dan evaluasi; tetapi mengapa hanya lembar soal yang kupinjam itu saja yang harus diamankan sementara setumpuk soal yang sedang digandakan di ruang stensil tidak dijaga? Apa itu tidak berarti ada sesuatu di dalam hati mereka terhadap diri saya?…”.

[Ketika aku tanyakan mengapa tidak ada dosen atau personil di ruang penggandaan soal, --waktu itu juga hadir Sadakata Sinulingga, juga personil UPEP-- Y cuma terkekeh sambil terus menekuni pekerjaannya, bukan kaget dan segera berlari ke ruangan itu].

“Sebentar,” saya menyela ARS, dan memesan gado-gado. Saya merasa lapar, sementara masalah yang hendak dituturkan ARS sepertinya masih akan panjang. Dia memang tidak pernah berubah sejak dahulu, semasih menjadi mahasiswa (bahkan SMA).

“Tidak berapa lama kemudian H tiba juga…,” lanjut AS sambil mengunyah gado-gado, “Aku segera mengutarakan inti permasalahan itu, dan dia lalu berkata pada Y, ‘Gimana Y, apa soal AS ini bisa diakomodir. Jawab Y sama seperti kalimat yang ia lontarkan kepada ku: ‘Saya tadi sudah bilang sama kando AS ini, pindahkan saja soalnya ke laptop saya. Nanti akan saya sortir.’ Tapi aku segera menampik. Kubilang, soal memindahkan itu mudah. Yang menjadi sandunganku tadi ialah kau tidak bisa memutuskan apakah kedua-puluh soal itu bisa dimasukkan. Nah sekarang sudah ada ketua Blok. Bagaimana pak ketua? Waktu itu H tidak segera memberikan respons. Maka aku ajak dia ke ruang penggandaan, sembari mengatakan kalau soal yang telah diperbanyak telah mencapai nomor 91. Aku kembali mengulangi keinginanku yang tadi telah disampaikan pada Y, bahwa kedua-puluh soalku harus masuk. Tetapi jawaban yang disampaikan H sungguh tidak masuk akal. Katanya: ‘Kalau begitu soalmu ambil 9 saja. Klop kan jumlahnya, jadi 100. ‘Aku tentu saja makin kesal, tetapi aku menjawab: jangan begitu dong pak. Aku kan memberi kuliah 2 bab, bahwa satu bab membuat soal 10, jadi soalku kan 20. ‘Ya, bgaimana lagi, kamu kan sudah lihat kalau soal yang tercetak sudah 91, artinya cuma ada lowongan 9. Jadi kamu buat saja 9 soal. Gampang, kan?!’ Aku marah sekali. Tapi aku masih berusaha membujuk. Oi, uda, janganlahh begitu, jangan semena-mena. Tolong, aku ini mengajar dua bab, jadi harus memberi soal dua puluh. Kalau cuma sembilan, ya, tidak optimal. Aku membujuk H . Aku membujuk H berkali-kali, namun sayang sekali, dia tidak bergeming (Y tidak mengikuti kami, dia sepertinya memilih menyibukkan diri di ruang UPEP membimbing residen peserta didik Ilmu Penyakit Dalam). Dia malah menjawab: ‘Saya rasa soal dari kamu cukup 9 saja. Sudahlah, mengapa mesti repot-repot. Ada atau tidak soal dari kamu tidak penting bagi mahasiswa. Pokoknya jumlah soal 200, begitu saja’. Jawabku: ‘Jika cuma 9, maaf saja, lebih baik aku tidak menyerahkan soal’”.

“Tahu apa jawab di H? Katanya dengan santai: ‘Tidak apa-apa. Dosen yang mengajar tidak harus membuat soal. Begitulah sistem KBK’. Bajingan. Apa betul yang dia katakan itu? Jika betul, berarti sistem ini tidak benar. Kalau aku tidak membuat soal, lantas siapa yang bikin soal untuk Bab yang aku kuliahkan? Si Y, atau H?… Okelah, anggap saja sistem begini ini benar. Aku kepingin tahu bagaimana orang-orang pintar di UPEP ini membuat soal berbasis bahan kuliahku. Personil UPEP yang berasal dari Bagianku kan Cuma SP. Dia tidak punya punya bahan tertulis seperti yang aku miliki sekarang.
Paling tidak, SP tak akan mampu menyiapkan materi kuliah itu dalam waktu singkat (cuma sekian jam), di samping dia juga tidak tahu materi apa saja yang saya suarakan di kelas.

September 6, 2007

Skenario Sadewa

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 3:17 am

[Ini skenario ujian, bukan turotial. At glance, sudah ketahuan tidak layak edar. Lha, bagaimana peserta uji tahu apa yang harus dikerjakan, sementara kalimat perintah tugasnya tidak tertera?]

Sadewa is a 28 year old man, went to Puskesmas about a week after returning from a army’s job a month ago in Papua. He complained of three days of fever with chill, rigor and profuse sweating accompanied by a headache and nausea.

After heal from his complained, Sadewa hope never suffer from this disease.

Minimum Requirement

Point

ATTITUDE:

1.       Greeting

2.       Introducing

3.       Purpose

4.       Acknowledgement/excusing

4

1

1

1

1

TERMS CLARIFICATION:

1.       Army jobs

2.       papua

3.       fever with chill & rigors

4.       profused sweating

5.       headache and nausea

5

1

1

1

1

1

PROBLEM IDENTIFICATION:

1.       Sadewa pulang setelah 1 bulan di Papua

2.       Sadewa mengeluh demam menggigil dan kedinginan, diikuti berkeringat banyak, sakit kepala dan mual

3.       Sadewa berharap tidak terserang kembali setelah sembuh

5

2

2

 

1

PROBLEM ANALYSIS:

1.       Apa hubungan Papua dengan penyakit yang diderita?

2.       Mengapa setelah 1 bulan di Papua, Mario menderita demam?

3.       Apa penyakit yang diderita Sadewa?

4.       Penyakit apa yang gejalanya serupa dengan yang diderita Sadewa?

5.       Bagaimana mekanisme (patogenesis) penyakit tersebut? (vektor, terjadinya demam, menggigil, kedinginan, gejala lainnya)

6.       Bagaimana siklus hidup plasmodium?

7.       Bagaimana pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang tepat untuk mendiagnosis penyakit itu?

8.       Bagaimana pengobatan penyakit itu?

9.       Bagaimana cara pencegahannya?

11

1

1

1

1

2

 

2

1

 

1

1

HYPOTHESIS:

Sadewa menderita malaria akut

10

Blog pada WordPress.com.