Nutrient’s Weblog

Agustus 27, 2007

Skill-lab 1

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 1:06 am

Seminggu sebelum blok 6 dimulai, sehabis ujian soca blok 5, kami berkumpul di ruangan UPEP: saya, dr. Hasrul Han, dr. Yanti Rosita, dan dr. Irfanudin Kami mendiskusikan perlu tidaknya dilaksanakan skill-lab. Skill-lab ialah salah satu kegiatan pembelajaran sistem KBK untuk melatih psikomotor (kalau tak salah). Seusai mengikuti kegiatan ini peserta didik diharapkan mampu mengerjakan sendiri apa yang dipraktekkan.

Namanya saja skill-lab, dan bermakna perlatihan psikomotor, maka penyelenggaraannya pun mesti dijalankan dengan serius dan benar. Niatnya mesti bernuansa ideal, meskipun pelaksanaannya dihadapkan dengan berbagai kendala.

Kebijakan UPEP (menurut Irfanudin, salah satu “tokoh sentral” dalam organisasi UPEP) skill-lab bukan kebijakan mereka, melainkan memang begitulah yang disurat dalam sistem KBK. Jadi, jika pada angkatan pertama KBK ini skill-lab akan diberlakukan, bukan karena kesiapan, melainkan pemenuhan prosedur administrasi. Konkritnya: seandainya skill-lab tidak diterapkan berarti salah satu titik mata rantai pelaksanaan KBK Blok 6 tidak terlaksana. Dan itu artinya UPEP, dalam hal ini Blok 6, gagal mengemban amanat yang “diundangkan” dalam sistem KBK.

Saya tidak sepakat memberlakukan skill-lab semata karena pertimbangan biaya-manfaat, “cost-benefit analysis”. Menurut saya, skill-lab tentang pemeriksaan status gizi ini butuh dukungan alat yang berharga mahal, karena . Saya tidak berpikiran kalau Fakultas tidak mempunyai uang untuk membeli alat, tetapi alat antropometer dengan tingkat kesalahan amat rendah tidak tersedia di toko alat-alat kesehatan di Palembang. Saya ceritakan kepada mereka betapa susahnya saya mencari sebagian perkakas antropometer merek seca yang pernah saya gunakan untuk penelitian obesitas sekitar 10 tahun silam. Alat-alat itu harus dipesan, dan pesanan baru terlayani (belum tentu terkirim) lebih dari 2 bulan. Andaikan saja alat-alat itu bisa tiba di sini dalam satu bulan, hitunganya tetap saja terlambat, karena skill-lab periode pertama (mahasiswa kelas non-reguler) dijadwalkan berlangsung tak sampai satu bulan lagi. Selain itu, apa mungkin institusi ini mau (atau mampu) membeli sekitar lima belasan set alat sekaligus dalam satu tahun anggaran.

Atas dasar ini rapat, saya dan mereka, sepakat untuk tidak melaksanakan skill-lab pada angkatan ini (saja); sementara waktu yang mestinya dialokasikan untuk praktikum itu dialihkan sebagai kuliah “weight management”. Artinya, tema (atau lebih tepat disebut judul) kegiatan tetap skill-lab, namun isinya bukan praktikum, melainkan kuliah.

Namun demikian, pada suatu hari saya “dikejutkan” oleh surat undangan untuk membuat penuntun praktikum skill-lab, yang ditanda-tangani oleh dr. Hasrul Han sebagai ketua Blok. Lho, ini maksudnya apa, skill-lab kan belum akan dilaksanakan pada Blok 6 angkatan ini. Lantas buat apa tergesa-gesa menyusun penuntun praktikum?

Penasaran, saya mencoba mengkonfirmasikan informasi ini (kalau tidak salah ingat) kepada Irfanudin. Jawabannya: “Keputusan rapat begitu, kak”. Lho, rapat apa, kapan, dan siapa saja yang hadir. Namun demikian, mengapa harus ada rapat lagi? Bukankan kami bertiga tempo hari sudah rapat. Bukankah keputusan untuk menunda skill-lab juga hasil rapat. Bukankah mereka sudah tahu jika suatu putusan rapat hendak diubah, perubahan itu mesti diupayakan melalui rapat pula; yang tentu saja harus menghadirkan personil yang hadir pada waktu rapat itu dilangsungkan.

& Komentar »

  1. Anda mencoba memberikan kesan bahwa Anda lah yang paling tahu soal “anthropometer”. Disinlah letak kekacauan logika berpikir Anda. Anda paling tahu, anda paling benar, yag lain salah semua, yang lain tidak tahu apa-apa. Untuk penilitian, mungkin perlu alat anthropometry yg canggih, seperti yg anda sebut itu. Tapi, untuk pelatihan mahasiswa S1, pengukuran anthropometry bisa dilakukan dengan alat-alat sederhana, tanpa mengurangi tingkat kompetensi peserta didik. FK salah satu perguruan tinggi top pernah melakukan penelitian gizi besar2an di Jawa Tengah. Salah satu kegiatan penelitian itu adalah mengukur anthropometri. Mereka melakukan pengukuran memakai alat2 sederhana. Konsultan asing yg mereka sewa, tidak keberatan dengan metoda pengukuran itu. Laporan penelitian mereka dipublikasikan di jurnal internasional yang bergengsi.

    Sebaiknya, Anda sedikit rendah hati….
    Orang lain juga tahu, seperti anda, atau mungkin lebih tahu dari Anda..

    Komentar oleh Arismonyet — September 6, 2007 @ 1:28 pm

  2. Kalau dasarnya sudah berpikiran negatif, ya..semua salah. Pikiran negatif anda itu yg perlu dibenahi. Bahwa, orang lain juga punya kemampuan. OK lah, mungkin orang lain tak sehebat anda. Tapi, pasti orang lain itu juga punya logika dan rasa kebenaran.

    Komentar oleh Arismonyet — September 6, 2007 @ 10:45 pm

  3. Sebuah PTN top pernah melakukan penelitian gizi besar-besaran di Jawa Tengah. Mereka mengukur antropometri dengan alat-alat yang sederhana, tidak memakai alat canggih seperti yang anda katakan itu. Konsultan asing yg mereka sewa, tdk keberatan dengan metoda pengukuran yang dilakuka. Makalah hasil penelitian mereka dipublikasikan di jurnak internasional bergengsi. Benar atau tidak benar banyak hal yang mempengaruhinya, tidak kepada alat cangih semata….

    Komentar oleh Arismonyet — September 7, 2007 @ 1:39 am

  4. jangan menerapkan KBK klo acuan, target, serta prosedur nya ngga jelas, sama seperti operasi tanpa prosedur, tapi bukan pasien yg mati, malah ratusan bahkan ribuan mahasiswa akan tdk jelas mutu nya.
    yang saya tau, adik saya blok 1 di FK UGM sdh bisa menerapkan bandaging, pemeriksaan fisik, dan mengerti dasar patologi anatomi (radang dan penyembuhan, dsb..)serta dasar fisiologi.
    sedangkan kita??? masih saja RIBUT..
    Dekan kita mmg salah memilih anggota2 UPEP.. ;(

    Komentar oleh putri kecil — Oktober 30, 2007 @ 7:02 am

  5. Saya setuju dengan putri kecil, orang UPEP itu udah waham, merasa udah pada tahu semuanya. Jangan-jangan megalomania, karena niru dekannya.
    Mereka nggak bisa ngitung kedepannya, jangan-jangan kita uda masuk jurang? Mahasiswa sekarang harus berbuat sesuatu sebelum segala sesuatunya goes wrong gitu?

    Komentar oleh Umar Bakri — November 8, 2007 @ 5:47 am

  6. aii
    skill lab tadi, nk gilo rasonyo
    giilooo, omiigoottt !
    wasting time nyn dk sii ?
    dk guno nyn, cknyo gawe2 ck itu bso d rmah
    alat dk ado, la nyumbang mahal2
    beeuuhh

    si jenggotan tuo itu marah2 pulo
    dasar SARA !

    si gendut kacomato
    nk masuk dk jadi, takutt kali dy
    lucu nyn ngeliatnyo tadi, ck nk msuk, ck idk
    masuk2 dok, idak idak..
    jgn masuk yang idak-idak..
    hahhahahahaha

    to ARS
    doai ee dok
    aku nk pindah b dri FK ni
    ITB bgus cknyo, cpet dpt duit
    FK cknyo nk PPDS ceto saro
    soalnyo bkn anak asmuni–eh, alumni!–siih
    mending ketemu joko dripada zarkasih

    cyau

    Komentar oleh bdk 08 — April 30, 2009 @ 3:22 pm


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.