Scenario 8: Minamata in the river of Durga
An eight-cases of babies with congenital anomaly in Kecamatan Sungai Durga during the last three month trigger a suspicious thought going to PT Amalgam. Although the factory already has license to operate, PT Amalgam disposes a colourfull liquid waste product directly to the river. A large number of the inhabitant belief if this waste product contain mercury. They judge if mercury is the cause of that congenital anomaly since no such a case was happened before. They want to sue the factory.
Assigment: Plan a research proposal to asses the association between mercury contamination and congenital anomaly.
Membaca cerita Anda saya jadi teringat cerita kakak kelas saya yang baru lulus jadi dokter.
Komentar oleh Bagus — Agustus 20, 2007 @ 3:15 pm
kata-kata pada skenario bagus buanget, tapi kriteria bagus pada skenario gak jelas, jadi gimana kita mau menilai skenario itu bagus ya…
sebaiknya rizki aja yang jadi pimpinan, saya dukung anda jadi super hero, sebab kalo upep memimpin bisa bahaya masss…. hancurkan…
tapi kamu tampak sombong deh…
Komentar oleh rere_layo — September 6, 2007 @ 9:10 am
Ini skenario yg anda bangga-bangga kan? Mhs yg sdh belajar Metodologi Riset segera bisa menebak jawaban, begitu membaca skenario ini. Padahal skenario yg baik hanya berupa “isyarat” yg bisa ditebak tapi mungkin salah. Ada Clue, tapi, ada something tricky. Anda pelatihan pembuatan skenario dimana? Mc Master, Maastricht, New Castle?
Jangan sok pinter, Anda cuma lulusan Program S2 yg akreditasinya C, itu pun diluar bidang keahlian Anda
Komentar oleh Sony — September 6, 2007 @ 2:11 pm
Tak terlalu bagus. Bisa ditebak. Kalau cuma begitu, kalimat2nya terlalu panjang. Mungkin ini skenario untuk FKIP Bhs Indonesia? Skenario ini bisa disederhanakan: “Terangkan langkah2 penelitian cross sectional”. Sintesis mhs pasti sama persis, dengan kalau mengugunakan Sungai Durga, eigh babies dll itu.
Dan anda merasa inilah skenario paling benar.
Komentar oleh Arismonyet — September 7, 2007 @ 6:30 am
sepertinya ArisMonyet adalah fans berat Anda.
hati-hati, fans berat biasanya memiliki gangguan kejiwaan dan punya obsesi yang aneh…
hiiiiy……!!!
Komentar oleh TeHaPe^_^ — September 9, 2007 @ 10:44 pm
Komentar buat tulisan soni.
Saya tersinggung atas komentar anda tentand
“anda cuma lulusan Program S2 yg akreditasinya C” karena saya juga lulusan program studi yang sama. Perlu anda juga ketahui bahwa di UPEP itu ada Hilda , Sadakataa yang juga lulusan program yang sama. Masih untung ARS dan saya lulus test masuk langsung. Sadakata baru bisa lulus setelah dua kali tes. Bayangkan, untuk program yang terakreditasi C saja dia susah payah. Itu pun dia tidak lulus tes toefl, dan harus mengikuti ujian dengan dokter Rahman Toyo, bukan test toefl ulang, sebab pasti tidaklulus lagi. kalau dia akhirnya masuk, karena kebetulan orang pasca sarjana kasihan karena dia staf pengajar. yang tidak lulus toefl termasuk Hilda, ya orang Upep juga. Lebih parah lagi, ketua anda, Heri, untuk program terakreditasi C saja sampai DO (drop out) dan terpaksa mendaftar ulang lagi (alagi-lagi karena sia staf pengajar) untuk menyelesaikan studinya. Jadi anda ini menghina sejawat sendiri. Dan anda sendiri mengapa masih mau ngajar di program yang hina itu? Karena duit kan? Anda belajarlah berhati-hati, ini internet dan dapat diakses oleh siapa saja dan dimana saja.
Saya kira saya kenal anda, dari bahasanaya. Anda pernah menjadi mahasiswa saya adulu, dan anda termasuk biasa-biasa saja. Dan perlu anda renuangkan, kalau anda itu staf pengjar di sini, dan program yang anda hina itu adalah program institusi ini, tempat anda mencari duit. Sebelum menjadi dosen dana menjadi personil UPEP anda kana tidak punya mobil dan laptop. Mobil dan laptop itu anda beli setelah sekian lama berada di UPEP. jadi kalau ada orang yang berpikiran gila wajar. Ass. jadilah muslim yang baik. Jangan cuma pandai berceramah.
Komentar oleh SYT — September 10, 2007 @ 3:22 am
booom…tutuuuuuut booom
Saling cela, saling leceh, padahal sama-sama wae… weeeeek
To rizki……bleduuum…kweeek…ouk
To SYT …. ouw…ouch…ouch
To Arismonyet …. eee siapa yang monyet….
To … saya, semoga tetap selamat amin…
Komentar oleh boom — September 18, 2007 @ 2:36 pm
hmm…
Mr. Sony,
Kalau sebuah skenario yang baik mesti mengandung isyarat dan hanya clue, sepertinya ujian SOCA tidak usah saja dilaksanakan ya…
karena mahawiswa tampaknya hanya mempertaruhkan keberuntungan yang mereka miliki saat ujian soca, dan mungkin hanya sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan analisis luar biasa seperti Shinichi Kudo, Sherlock Holmes, dan Hercule Poirot yang benar2 mengerjakan ujian SOCA dalam waktu 30 menit, itu pun dihitung sejak mereka mulai masuk ruangan, mengundi soal, dan mengambil kertas ujian…
Komentar oleh Nightmare — Oktober 11, 2007 @ 7:38 am
Makmano mahasiswanyo nak pinter setelah jadi dokter, Dekannyo bae Profesor yang bukan DOKTOR, yang aku tahu waktu jadi residen begonyo minta ampun, AI bae dak tau kalu ado pistol shoot nyo?
Gawenyo keliling-keliling ke Alumni minta sumbanan untuk Skill-Lab! apo dak malu katonyo sudah KBK.
Sekarang banak “Dosen” yang dak lulus TOEFL pacak lulus S2 lokal, maaf Dik Soni dan ReRe kalu cuma S2 bae dak lulus TOEFL, mahasiswanyo nak dibawa kemano?(Maaf sekali lagi Saya lulusan S2 dari PT berpredikat 250 terbaik didunia saja tidak berani menjustufikasi seperti itu, dan Saya juga mengajar di salah satu PT Terkemuka tersebut)Celakonyo lagi Dekan tu cak badak, muko tembok, gembar-gembor akreditasi A. Apo pacak akreditasi A dicapai oleh dio dewekan?
Nauzubillah Minzalik ada pemimpin cak itu
Komentar oleh Funny-Junkies-Pukimak — Oktober 29, 2007 @ 2:00 pm
Untuk sdr Soni yang terhormat,
saya sependapat dgn Nightmare. Kalau kriteria skenario SOCA seperti yang anda sebutkan, kasihan sekali mahasiswa KBK. Mereka bukan detektif atau dukun. Apalagi waktu yang disediakan cuma 30 menit. Itupun sudah termasuk menulis dari klarifikasi sampai sintesis masalah. Terus terang saya salah satu mahasiswa KBK yang mengerti benar bagaimana 30 menit itu.
Menjernihkan maksud Rizkiadi tentang skenario di atas (yang menurut anda mudah ditebak), bahwa yang dituju dari skenario hanya 1 jawaban. Ada skenario SOCA yang menurut metodologi riset bisa dikerjakan lebih dari 1 jenis penelitian. Sedangkan pada check list examiner hanya mencakup 1 jenis penelitian (menurut pengakuan salah 1 dosen). Singkatnya, ya untung-untungan. Kalau tidak, pada check list dimasukkan juga penelitian2 lain yang notabenenya juga merupakan jawaban yang benar.
Sekaligus ingin mencurahkan uneg-uneg (mudah-mudahan dibaca para pejabat FK),
“Kenapa kami tidak difasilitasi MODUL yang setahu saya merupakan salah satu ‘perangkat’ KBK?”
(sekedar info, teman – teman saya di PTN-PTN lain yg sudah KBK dibekali modul)
Jika alasannya uang IWM sebesar 20juta (kelas reguler) yang belum dilunasi yang sering diutarakan PD II, maaf, saya sudah LUNAS.
Kalau memang PTN kita ini tidak siap dg program KBK, kenapa harus ngotot?Jangan asal jalan, tapi mutu belakangan seperti yang Rizkiadi bilang.
Untuk Rizkiadi, saya tidak mau memuji atau membela anda, karena saya tahu pasti anda ‘teriritasi’ dengan penjilat. Tapi jujur, keeksistensian anda sedikit banyak menginspirasi saya. Terlepas dari cemooh dan caci maki yg ditujukan pada anda, menurut saya anda hanya satu dari banyak orang yang berani mengungkapkan aspirasinya. Dan berpendapat itu MANUSIAWI bukan? Kasarnya “kalo emang gue yg salah, ngapain lu pake sewot?”
Terus lanjutin blog ini, dok. Banzai!!!
Komentar oleh bakamono — November 2, 2007 @ 6:25 am
SOCA = unfairness = my own experience .
HIKS !
kta temen saya di PT brlambang gajah bergading retak :
” apaan tuh SOCA ? mendingan loe minum asoka aja dahh “
Komentar oleh FK : Fakultas Kekacauan ? — Januari 13, 2009 @ 11:52 am
Mohon bimbing
saya lg ada tUgas
dr dosen
buat sekenario
tetapi dari ayat2 al_quran gtU,,
saya tU gak punya
ide bgt kL mslah
buat sekenario
dmohon bgt yg lbh berpengalaman
ba9i2 ilmu kepada saya
thankZzZ before
Komentar oleh Fani s. — Maret 11, 2009 @ 3:21 pm