Nutrient’s Weblog

Agustus 27, 2007

Skill-lab 1

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 1:06 am

Seminggu sebelum blok 6 dimulai, sehabis ujian soca blok 5, kami berkumpul di ruangan UPEP: saya, dr. Hasrul Han, dr. Yanti Rosita, dan dr. Irfanudin Kami mendiskusikan perlu tidaknya dilaksanakan skill-lab. Skill-lab ialah salah satu kegiatan pembelajaran sistem KBK untuk melatih psikomotor (kalau tak salah). Seusai mengikuti kegiatan ini peserta didik diharapkan mampu mengerjakan sendiri apa yang dipraktekkan.

Namanya saja skill-lab, dan bermakna perlatihan psikomotor, maka penyelenggaraannya pun mesti dijalankan dengan serius dan benar. Niatnya mesti bernuansa ideal, meskipun pelaksanaannya dihadapkan dengan berbagai kendala.

Kebijakan UPEP (menurut Irfanudin, salah satu “tokoh sentral” dalam organisasi UPEP) skill-lab bukan kebijakan mereka, melainkan memang begitulah yang disurat dalam sistem KBK. Jadi, jika pada angkatan pertama KBK ini skill-lab akan diberlakukan, bukan karena kesiapan, melainkan pemenuhan prosedur administrasi. Konkritnya: seandainya skill-lab tidak diterapkan berarti salah satu titik mata rantai pelaksanaan KBK Blok 6 tidak terlaksana. Dan itu artinya UPEP, dalam hal ini Blok 6, gagal mengemban amanat yang “diundangkan” dalam sistem KBK.

Saya tidak sepakat memberlakukan skill-lab semata karena pertimbangan biaya-manfaat, “cost-benefit analysis”. Menurut saya, skill-lab tentang pemeriksaan status gizi ini butuh dukungan alat yang berharga mahal, karena . Saya tidak berpikiran kalau Fakultas tidak mempunyai uang untuk membeli alat, tetapi alat antropometer dengan tingkat kesalahan amat rendah tidak tersedia di toko alat-alat kesehatan di Palembang. Saya ceritakan kepada mereka betapa susahnya saya mencari sebagian perkakas antropometer merek seca yang pernah saya gunakan untuk penelitian obesitas sekitar 10 tahun silam. Alat-alat itu harus dipesan, dan pesanan baru terlayani (belum tentu terkirim) lebih dari 2 bulan. Andaikan saja alat-alat itu bisa tiba di sini dalam satu bulan, hitunganya tetap saja terlambat, karena skill-lab periode pertama (mahasiswa kelas non-reguler) dijadwalkan berlangsung tak sampai satu bulan lagi. Selain itu, apa mungkin institusi ini mau (atau mampu) membeli sekitar lima belasan set alat sekaligus dalam satu tahun anggaran.

Atas dasar ini rapat, saya dan mereka, sepakat untuk tidak melaksanakan skill-lab pada angkatan ini (saja); sementara waktu yang mestinya dialokasikan untuk praktikum itu dialihkan sebagai kuliah “weight management”. Artinya, tema (atau lebih tepat disebut judul) kegiatan tetap skill-lab, namun isinya bukan praktikum, melainkan kuliah.

Namun demikian, pada suatu hari saya “dikejutkan” oleh surat undangan untuk membuat penuntun praktikum skill-lab, yang ditanda-tangani oleh dr. Hasrul Han sebagai ketua Blok. Lho, ini maksudnya apa, skill-lab kan belum akan dilaksanakan pada Blok 6 angkatan ini. Lantas buat apa tergesa-gesa menyusun penuntun praktikum?

Penasaran, saya mencoba mengkonfirmasikan informasi ini (kalau tidak salah ingat) kepada Irfanudin. Jawabannya: “Keputusan rapat begitu, kak”. Lho, rapat apa, kapan, dan siapa saja yang hadir. Namun demikian, mengapa harus ada rapat lagi? Bukankan kami bertiga tempo hari sudah rapat. Bukankah keputusan untuk menunda skill-lab juga hasil rapat. Bukankah mereka sudah tahu jika suatu putusan rapat hendak diubah, perubahan itu mesti diupayakan melalui rapat pula; yang tentu saja harus menghadirkan personil yang hadir pada waktu rapat itu dilangsungkan.

Skill-lab 2

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 12:59 am

Pada hari yang dijanjikan (dijadwalkan), kekhawatiran saya akan ketiadaan (kelengkapan) alat pun terbukti. Pada pagi itu, di atas meja di ruangan kelas tempat skill-lab hendak dilaksanakan, telah digeletakkan dua buah meteran pengukur panjang dan sebuah timbangan injak (biasanya digunakan dalam kamar mandi). Kertas bertulisan harga barang masih tertempel di kedua meteran: masing-masing Rp. 2900,- dan Rp. 2000,- (lihat foto di bawah), sementara timbangan injak kalau tidak salah ingat bernilai rupiah dua puluh sembilan ribu sekian. Dan satu lagi alat (saya tahu itu ada ketika skill-lab telah setengah jalan) pengukur ketebalan kulit “digital”. Instrumen yang terakhir ini Cuma ada satu.

Sebelum praktikum dimulai, semua calon peserta (termasuk dosen pembimbing) dikuliahi di ruang kelas besar (saya tidak tahu dan memang tidak mau tahu siapa pemberi “kuliah itu”). Maksudnya, agar tujuan praktikum bisa dimengerti oleh semua peserta, di samping menyatukan visi semua pembimbing (karena pembimbing dipilih dari berbagai Bagian). Semua pembimbing praktikum berkumpul di kelas itu, kecuali saya. Keenganan hadir bukan karena merasa lebih pintar, bukan pula karena upaya penyatuan visi itu tidak berguna; tetapi saya hanya berusaha mencoba menghindari kelompok mahkluk yang merasa “paling pintar” itu (di belakang saya, justru mereka yang menghembuskan predikat “merasa paling pintar” dan “paling benar” itu ke diri saya): bukan seluruh dosen yang tengah berkumpul itu tentu saja, melainkan hanya sebagian oknum UPEP dan oknum personil Blok.

Jika hadir di kelas, saya hakul yakin kalau mereka akan mendaulat saya untuk juga memberi, atau sekadar menambah, keterangan (memang diniatkan untuk menyempurnakan keterangan, atau sekadar basa-basi), sebab pemeriksaan status gizi itu mata kuliah saya. Saya tidak bersedia memberi, atau sekadar menambahkan, penjelasan apa pun karena saya tidak setuju dengan pemberlakuan skill-lab itu. Inilah salah satu sebab mengapa saya tidak mau hadir pada skill-lab di kelas non-reguler. Jika kemudian saya akhirnya mau juga datang jauh-jauh ke Inderalaya (mengendarai mobil sendiri, bukan ikutan mobil kantor) semata tersentak oleh kesadaran kalau saya ini anggota Blok 6, dan berkewajiban hadir pada setiap kegiatan. Pagi ini saya sekaligus akan membuktikan bahwa pendapat saya tidak salah (meski tidak boleh serta merta dikatakan benar) dan keputusan para “petinggi” Blok (yang disokong oleh UPEP) keliru.

Sudah lebih dari pukul sembilan pagi ketika akhirnya para mahasiswa kelompok saya genap di dalam ruangan. Saya baru selesai menjelaskan perbedaan antara skill-lab dan peragaan, ketika tiga-empat (saya lupa persisnya) mahasiswa nyelonong masuk sembari berkata hampir serentak: “Kami dari kelompok satu disuruh gabung di kelompok ini”.

“Lha, mengapa begitu? Pembimbingnya tidak ada?”

“Bukan, pembimbing kami ditugaskan ngider, berkeliling ke setiap kelompok”.

“Mau apa dia jalan-jalan begitu? Memang tidak ada kerjaan, apa? Dia kan diberi honorarium tambahan …”.

“Dokter SHP akan mengenalkan alat ukur ketebalan kulit digital…”.

“Mengenalkan kepada saya?”.

“Bukan, kepada kami semua”.

“O, begitu. Jadi kalau dokter SHP ke sini saya keluar, begitu …,” saya pura-pura bego.

Karena tidak ada tanggapan, saya segera memulai skill-lab dengan menyuruh dua orang mengerjakan apa yang diamanatkan dalam penuntun praktikum (tampak dibuat sekenanya: hanya berupa “diktat” kumpulan fotokopi –berkualitas buruk– gambar sketsa pengukuran lingkar kepala, lingkar lengan, tinggi serta berat badan, dan ada beberapa lagi namun ‘tuntunan’ itu terlanjur telah saya buang).

Pengukuran lingkar lengan dan kepala berhasil dipraktekkan oleh hampir separuh peserta ketika SHP tiba-tiba terdengar memutar handel pintu. Setelah senyum sedikit (sebetulnya dia tidak tampak tersenyum) dia tidak membuang waktu memperkenal alat digital pengukur tebal kulit lengan itu. Seselesai menerangkan bagaimana mempergunakan alat itu, SHP segera menyuruh dua mahasiswa untuk saling mengukur ketebalan kulit mereka secara bergantian (klik Kbk.mov). Hanya dua mahasiswa saja yang diberi kesempatan ber-skill-lab karena alat yang tersedia cuma satu sementara mahasiswa yang mengikuti skill-lab pada hari itu berjumlah lebih dari 120 orang.

Sehabis itu, saya mengusulkan praktek pengukuran lingkar pinggang dan pinggul, dua parameter antropometrik yang sedang “ngetrend” untuk menilai derajad obesitas, sekaligus menengarai kemungkinan faktor risiko. Untuk pengukuran yang akurat, pinggang dan panggul probandus mestinya terbebas dari penutup. Sayang sekali, tidak ada mahasiswa (baik wanita maupun lelaki) bersedia memamerkan pinggang dan panggul mereka, dan materi ini dipraktekkan seadanya: objek berpakaian lengkap sehingga pemeriksaan tak bisa dilakukan dengan tepat (apalagi meteran yang tersedia tidak memenuhi persyaratan). Saya, tentu saja dalam kapasitas sebagai pembimbing, kembali memberikan kuliah singkat (sesuatu yang sejatinya telah diberikan di kelas) sekaligus memperagakan cara mengukur dan memperkirakan nilai yang mendekati (nilai sebenarnya tentu saja tidak bisa diperoleh dengan alat “serba dua ribuan” ini) … Ah, ini sama saja dengan saya melakukan peragaaan di ruang kuliah…

Begitulah, menjelang pukul 11.00 WIB acara itu usai, dan media skill-lab ini tak mampu membuktikan diri sebagai wahana perlatihan psikomotor. Dugaan saya terbukti kalau kegiatan ini akan mubazir. Betapa tidak, berapa rupiah yang terhabiskan untuk membayar honor lebih dari 13 orang dosen pembimbing (Rp. 170.000,- per orang), dan sekian orang pegawai administrasi (saya tidak tahu berapa mereka dibayar), di samping ongkos jalan l20-an mahasiswa dari Palembang ke Inderalaya (ongkos bis pergi-pulang seorang Rp. 8.000,-); belum terhitung biaya sarapan (karena mereka harus pergi pagi-pagi benar, mungkin tidak sempat makan) serta makan siang. Sementara skill (kalau boleh dikatakan skill, karena menurut amatan saya tidak ada keahlian yang bisa ditanamkan melalui media pelatihan seperti itu) yang dirancang (atau dipaksakan?) oleh para pengambil keputusan.

Salah Orang Salah Tempat

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 12:38 am

Ketika saya mengkritik kekeliruan pada Blok terdahulu (1, 3, dan 5), orang-orang merespons dengan enteng: “Kedepan kita akan perbaiki. Biasa memang, namanya saja program baru”. Tapi saya tidak melihat “perbaikan” itu pada Blok selanjutnya. Yang terjadi (setidaknya menurut pengamatan saya) malah sebaliknya: semakin jelek dan tidak karuan. Sewaktu saya mengkritik skenario blok 1, jawaban orang UPEP (termasuk PD 1), ya begitu itu. Di blok selanjutnya, yaitu blok 3 dan 5 (saya mencantumkan Blok-Blok yang saya diikutkan), segendang sepenarian.

Ketika Blok 6 tengah dipersiapkan, ketika salah seorang dosen wakil suatu Bagian mengusulkan sejawatnya yang lain untuk memberikan materi kuliah pada Blok itu, karena topik bahasan bukan bidang keahliannya, saya sempat menyodorkan ide: “Jika sudah begini kejadiannya, dosen anggota Blok tidak bisa dengan mudah diganti karena sudah di”SK”kan oleh Dekan, dan karena mengubah SK butuh waktu, saya mengusulkan agar kita yang duduk sebagai anggota blok hendaknya dianggap sebagai administrator saja, jika materi kuliah ternyata bukan keahlian kita, atau bukan kuliah kita di kelas konvensional, maka materi tersebut kita berikan saja ke sejawat yang memang ahlinya, atau (seperti talah saya katakan tadi) yang menguliahkannya di kelas konvensional; terlebih bila dosen yang bersangkutan telah mempunyai materi tertulis. Dengan demikian, tidak akan terjadi salah urus dalam kuliah.

Dan semua orang yang hadir pada rapat sore itu setuju. Saya lontarkan ide ini bukan karena ada sejawat dosen yang mengeluh kalau materi dalam Blok 6 sesungguhnya di luar bidang keahliannya; melainkan karena saya tidak melihat ada waktu lain untuk mengutarakan ide itu. Kebetulan sekali, memang, ada orang UPEP (tiap Blok memang ada UPEP: jika bukan dosen, ya tutor, atau keduanya) yang kebetulan berada sebagai anggota Blok. Saya tambahkan lagi: “tetapi usul ini bukan saya tujukan bukan hanya diberlakukan pada Blok 6, tetapi juga Blok-Blok selanjutnya.” Dan IBM, anggota UPEP, berucap: “Itu gagasan yang sangat bagus. Kita sangat setuju. Saya akan diteruskan ide ini ke rapat internal UPEP”.

Suka cita saya bukan karena merasa ide saya telah dinilai bagus, akan dibicarakan secara internal, dan berharap diterima untuk kemudian diterapkan pada Blok setelah Blok 6 ini usai. Kegembiraaan saya membuncah karena niat (ide) saya agar penempatan dosen berdasarkan kompetensi bisa segera terwujud. Tetapi yang terjadi tidak demikian: pada Blok 7 ketidakkompetenan itu tercetak jelas. Saya melihat jadwal kuliah mahasiswa (saya memang tidak mempunyai akses untuk melihat pola dan jadwal kerja Blok-Blok yang saya tidak diikutkan). Dua orang sejawat saya tidak tertulis memberi materi kuliah bidang keahliannya. Pakar Ilmu Gizi kok memberi materi “Patogenesis of Infection”, dan “…”. Memangnya tidak ada porsi Ilmu Gizi pada Blok 7 ini (Blok 7 mengulas topik Infeksi dan immunologi)? Jika tidak ada, seperti usulan saya pada rapat Blok 6, ya tidak usah memberi kuliah (jadi tutor saja bila tidak berani mundur dari keanggotaan Blok).

Namun begitu, saya tidak sepakat jika dikatakan Ilmu Gizi tak punya peran dalam pembelajaran Blok ini. Dalan kuliah konvensiaonal ada topik kuliah Keracunan Makanan, Allergi Makanan, dan banyak lagi. Jika topik konvensional ini tak bisa disisipkan ke dalan Blok, mengapa tidak membuat kajian (tentu saja dalam bentuk tulisan) semisal “Nutritional approach to overcome infection” atau “Nutritional role as an immunomodulator”. Masih banyak lagi topik yang dapat ditalikan (atau dikaitkan) dengan ketercetusan. Saya katakan tadi keracunan makanan, lewat jalur toxicoinfection: jadi bisa diselipkan dalam Blok infeksi kan?! Tapi sebagian sejawat berusul menempatkan topik ini dalam Blok Kegawatdaruratan Medik, karena efek emergency racun yang hendak dikedepankan. Lalu bahgaimana dengan allergi makanan, yang dalam kuliah konvensional disatukan dalam topik “keracunana makanan”? Kedua sejawat tadi memang tidak memegang kuliah itu (tetapi saya tidak mengatakan mereka berdua tidak mengerti) pada kelas konvensional.

Kalau kejadiannya sudah begini, siapa yang mesti disalahkan? Saya tak pernah mempertanyakan ini kepada siapapun (karena saya telah tahu jawababnya: memang begitulah sistem KBK, topik tertentu tidak perlu lagi dikuliahkan seperti kuliah konvensional. Kita yang dosen ini bertugas memberi gambaran topik, dan mahasiswa lah sepenuhnya berkewajiban mencari bahan untuk melengkapi kuliah itu), kecuali pada diri sendiri, dan ditulis dalam Blog (bukan Blok) ini. Yang jelas, menurut saya, inilah contoh “salah orang salah tempat”.

Skenario Mrs. Nyentrik

Diarsipkan di bawah: Renungan — rizkiadi @ 12:18 am

Scenario 4 (blok 6)

Mrs. Nyentrik

· Mrs. Nyentrik, 35 years old, weight: 70 kg, height 160cm, wants rapidly slim down so her husband always love her.

· She did 3 recipes from her friend. First, she had a strict diet. Second, she did 1 hours high intensity exercise. Third, she also consumed a glass of slimming ingredients twice a day.

· In 2 month, she urinated more than usual and her body weight decreased around 12 kg, she got 2 times common cold in 3 weeks. If she relieves from that cold, she still feels weak, quiver, and easily offended. She also feel that her menstrual cycle desultory.

Instruction:

· Explain what happen with Mrs Nyentrik.

· Give your good advice to Mrs Nyentrik.

Skenario ini saya salin sesuai aslinya, sama seperti yang tercetak dan didistribusikan kepada mahasiswa ketika turotial Blok 6 diselenggarakan. Jika anda lihat tinggi badan (ditulis dalam Bahasa Inggeris: height) tercetak bersambung dengan ‘cm’, tanpa spasi, itu juga bukan diakibatkan oleh keteledoran saya menekan space bar, melainkan memang aslinya demikian. Saya sengaja tidak menekan tombol space bar agar pembaca ikut menrasakan kalau persiapan skenario ini memang amburadul sejak konsep hingga pengetikan.

Kekeliruan (barangkali kurang sopan jika ditulis ‘kesalahan’) tak akan terjadi kalau pembuat skenario (dan juga anggota Blok yang mengikuti rapat pembahasan skenario) paham bagaimana sebuah skenario seharusnya ditulis, sudah bisa terlihat hanya dalam sekali pandang: mana ada skenario ditulis dengan poin bintik hitam (bentuk lain dari pemberian nomor) seperti di atas. Di samping itu, kalimat tugas pun mengambang, tidak jelas. Pertanyaan (saya Indonesiakan) ‘Apa yang terjadi pada nyonya Nyentrik?’ jelas tak perlu diskusi panjang: cukup dijawab dengan satu kalimat ‘Dia bingung’. Tidak salahkan? Kalau saya tanyakan pada pembuat skenario jelas dia (sembari marah barangkali) menjawab: ‘Itu bukan jawaban ilmiah’. Seandainya saya katakan bahwa kalimat pertanyaannya tidak mengarah, dia pasti menjawab: “Begitulah sistem KBK. Segalanya mesti dibiarkan mengambang. Jika ditulis jelas terarah, mahasiswa jadi tidak belajar, dong …”.

Instruksi kedua: “Give your good advice to Mrs Nyentrik”, memunculkan pertanyaan “advice tentang apa?” Ini kesalahan yang amat kasat mata: kalimat perintah harus singkat dan jelas, serta tidak bisa diinterpretasikan ganda. Lain kalau pertanyaan itu dibahasakan begini: “ .. advice on how to reduce body weight ….”.

Jika dikaji sedikit mendalam (sesungguhnya tidak usah dikaji mendalam pun sudah tampak), paling tidak ada 3 masalah dalam skenario itu. Pertama, kecemasan tidak dicintai suami (tersurat dalam kalimat pertama). Kedua, berdiet dengan cara salah. Ketiga, kebingungan akan gejala penyerta akibat pengkonsumsian obat. Sesungguhnya, bukan tiga masalah itu saja, menurut saya, yang bisa disimpulkan sebagai masalah. Namun demikian, secara keseluruhan sekenario ini membingungkan. Alur ceriteranya sumir, dan kalimat perintahnya (instruction) tidak mengarah.

Saya tak tahu persis (meskipun dapat memperkirakan orangnya) siapa yang menulis skenario ini, sebab ketika rapat pembahasan dilangsungkan saya tidak hadir. Ketidakhadiran saya sebetulnya memang disengaja, karena saya telah yakin (berdasarkan pengalaman sebagai tutor di Blok 1, 3, dan 5) kehadiran saya dalam rapat tak akan membuat skenario jadi (lebih) bagus. Bukan lantaran saya tidak mampu menulis, melainkan karena tak kan ada orang yang mau mendengarkan usul saya (sekali lagi dari pengalaman Blok sebelumnya).

Tapi, sudahkah, saya memang tak berniat melacak siapa pembuat (penulis) skenario ini. Saya hanya akan membicarakan isi, karena siapapun pembuatnya, jika sistem yang diterapkan sama seperti Blok sebelumnya, maka mutu skenario itu tidak akan lebih baik (jika tak boleh dikatakan lebih jelek).

Kembali ke Mrs. Nyentrik. Jika memang benar masalah weight management hendak dikedepankan (saya yakin memang inilah maksud di pembuat skenario: dia pernah beberapa kali mengutarakan topik ini kepada saya –entah serius dan bernniat minta pendapat, atau sekadar nyeletuk), maka data tertulis amat sangat kurang. Kesalahan (eh, kekurangan) pertama: derajad kegiatan fisik Miss. Nyentrik tidak tertulis. Kedua, strict diet itu apa? Ketiga, high intensity exercise. Keempat, slimming ingredients. Kelima, urinated more than usual. Itu saja dulu.

Pertama, derajad kegiatan fisik. Ini data penting yang wajib ditampilkan, karena bagaimana mungkin menakar diet seseorang (lebih tepat lagi: menata berat badan) tanpa tahu persis kegiatan fisik harian yang bersangkutan. Masih ada data yang sama pentingnya dengan derajad kegiatan fisik, yaitu keterangan tentang asupan pangan, yang tidak tertulis (tersirat pun tidak) dalam skenario. Dari sini saya berkesimpulan, bahwa penulis skenario ini bukan sekadar tidak memiliki ilmunya tetapi juga belum mempunyai kepiawaian membahasakan isi pikiran.

Kedua, pernyataan tentang strict diet. Pernyataan ini tidak boleh digantung begitu saja. Jika di-indonesiakan, strict diet bermakna bahwa pasien diberi resep untuk berdiet ketat, tetapi kata “ketat” terhubunga dengan penyelenggaraan, bukan materi diet. Namun demikian, pernyataan diet ketat itu harus dilanjutkan dengan besaran diet: berapa kilokalori sehari; berapa gram protein, lemak, dan karbohidrat yang boleh disantap oleh si peserta diet.

Ketiga, high intensity exercise, juga tidak baik ditulis begitu saja tanpa keterangan.

Keempat, slimming ingredients. Terus juga tidak mengerti apa maksud dua kata ini, tetapi saya boleh mengira-ngira: mungkin zat pelangsing. Semacam slimming tea, barangkali, meskipun setiap pembaca boleh mengartikannya obat (farmakologi) dan herbal yang berkhasiat sebagai penurun berat badan. Jika pengandaian aya benar, alangkah lebarnya permasalah yang dijejalkan ke dalam kepala makhluk yang belum genap satu setengah tahun menjadi mahasiswa fakultas kedokteran itu. Obat-obat penurun berat badan baru akan dikuliahkan pada Blok 9.

Kelima, urinated more than usual. Penggalan kalimat ini juga keliru. Peserta diskusi (masih untung skenario ini diedarkan untuk tutorial. Jika terlanjur diajukan buat ujian soca …?) pasti bertanya-tanya “apa yang dimaksud dengan tidak biasa?”, dan yang dimaksud “usual” itu yang bagaimana? Kritis saya tidak main-main, karena kencing yang berlebihan (jika benar itu maksud kata more than usual) berdampak pada keadaan hidrasi, serta kemungkinan kekurangan mineral yang dihanyutkan oleh air seni yang berlebihan itu. Namun demikian, harus diklarifikasi lagi: berapa besaran volume urin yang terkategori usual dan more than usual? Si pembuat, dan anggota rapat yang memberi izin edar skenario (lebih baik dikatakan sekenario, karena dibuat sekenanya) ini jelas tidak mafhum apa dan bagaimana sebuah skenario (baik untuk tutorial atau pun soca) seharusnya dibahasakan. Lha, jadi apa fungsi orang UPEP, yang konon sudah beberapa kali mengikuti workshop metode penulisan skenario di bebera Perguruan Tinggi ternama.

Lebih aneh sekali, memang, mengapa skenario demikian dipaksakan beredar dalam arena tutorial, karena materi “Pemeriksaan status gizi” dan “Prediksi besaran kebutuhan akan zat gizi” belum dikuliahkan. Ketua Blok 6 mempunyai pembenaran atas kesalahan ini. Katanya: “Memang begitulah sistem KBK. Mahasiswa diberi stimulasi melalui skenario seperti ini. Mereka ditekan sedemikian rupa untuk mencari jawaban sendiri atas masalah yang tengah dihadapi. Dengan demikian mahasiswa terpaksa belajar sendiri, namun jelas tidak mungkin tuntas. Nah, untuk menuntaskan itulah kuliah diperlukan.”

Saya tidak tahu apakah yang dikatakan ketua Blok 6 ini (HHH) benar atau ngibul. Namun demikian, selama 2 hari mengikuti perlatihan tutor (dengan TOT-nya ialah para Petinggi UPEP) hampir setahun silam saya tidak pernah mendengar ketentuan seperti itu keluar dari mulut personil UPEP. Dia pasti asal menjawab. Bukankan skenario tutorial dibuat untuk memperdalam pengetahuan peserta didik atas suatu materi dalam suatu Blok yang tidak mungkin dikuliahkan begitu mendalam?!

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.