Pengumpan RSS

Hasil Ujian Blok 9 2011

1. Agar terlepas dari jerat risiko penyakit degeneratif, seorang penderita obesitas telah berkeputusan untuk menurunkan berat badan secepatnya. Dengan BMI 26 dan tekanan darah 140/80 mm Hg, pendekatan terapi yang boleh diterapkan pada wanita ini ialah …
A. meresepkan serat*,
B. meresepkan orlistat,
C. meresepkan chitosan,
D. meresepkan spirulina dan cuka apel.

2. Obesitas sentral berpeluang menerbitkan risiko lebih tinggi ketimbang obesitas general. Tingginya risiko ini dilatarbelakangi oleh karena aliran darah di daerah perut lebih besar tinimbang daerah tubuh lain; di samping …
A. reseptor kortisol di tempat itu lebih banyak,*
B. reseptor androgen lebih sedikit,
C. reseptor katekolamin lebih banyak,
D. reseptor testosteron lebih sedikit.

3. Seorang penderita obesitas yang tengah menjalani pengobatan gizi medis berkeinginan mencantumkan ikan ke dalam menu makan siang. Ikan yang boleh disantap oleh penderita obes ini ialah …
A. ikan patin sungai*,
B. ikan patin tambak,
C. ikan kembung,
D. ikan tenggiri.

4. Seorang penderita obesitas yang tengah menjalani pengobatan gizi medis berkeinginan mencantumkan sayuran dan buah ke dalam menu makan siang. Sayuran dan buah yang boleh disantap sekehendak oleh penderita obes ini ialah …
A. kacang hijau*,
B. jeruk sitrun,
C. jeruk bali,
D. kacang kedelai.

5. Seorang penderita obesitas yang tengah menjalani pengobatan gizi medis secara tidak sengaja telah menyantap sebuah telur goreng mata sapi di luar ketentuan menu makan siangnya. Agar kalori dalam telur itu tidak berpengaruh menambah energi yang telah terhitung, si penderita obes mesti melakukan kegiatan fisik …
A. berjalan kaki selama 20 menit, atau*
B. bersepeda selama 10 menit, atau
C. bersepeda selama 5 menit, atau
D. berlari kencang selama 1 menit.

6. Prinsip penanganan obesitas berupa pencegahan terhadap pertambahan berat badan, promosi pengurangan berat, serta managemen faktor komorbid. Yang termasuk ke dalam faktor komorbid ialah …
A. osteoartritis*,
B. hiperinsulinemia,
C. kanker,
D. menopause.

7. Prinsip penanganan diabetes mellitus pada hakekatnya berupa upaya mencapai berat badan ideal, mengikuti diet khusus diabetesi, serta berolah-raga secara teratur. Prinsip pemilihan bahan makan dalam penanganan diet, antara lain, ialah pemilihan makanan yang berindeks glisemia paling rendah. Pilih satu makanan di bawah ini yang berindeks glisemia terendah.
A. Kacang tanah*.
B. Buncis.
C. Beras merah
D. Pisang.

8. Diabetes, terutama jika kadar glukosa senilai ≥ 280 mg/dl, telah belangsung lama, akan mengakibatkan glucose toxicity. Pada keadaan ini, biasanya telah banyak zat gizi mengalami defisiensi. Salah satu elemen kelumit (trace element) penting bagi kepekaan reseptor insulin, yang juga berkekurangan ialah …
A. kromium*,
B. seng,
C. manganium,
D. magnesium.

9. Magnesium dan insulin bersifat saling membutuhkan. Tanpa magnesium kelenjar pankreas tidak akan mampu menyukupkan produksi insulin, sementara hiperglisemia berat menyebabkan ginjal tidak mampu meretensi magnesium. Pilihlah satu makanan di bawah ini yang berkandungan magnesium paling tinggi.
A. Katul (bran)*
B. Beras merah.
C. Kentang bakar berkulit.
D. Roti merah.

10. Hipoglisemia kerap menjangkiti para diabetesi pengguna insulin atau antidiabetik oral (ADO) yang bersifat merangsang insulin. Hipoglisemia ringan bisa ditangani dengan pengkonsumsian dengan cepat glukosa sebanyak 20 gram. Makanan, atau minuman, yang mengandung glukosa mudah serap ialah …
A. jus jeruk*,
B. minuman cola
C. jahe manis
D. minuman cola diet

11. Jika pada suatu ketika seorang diabetesi terjerat hipoglisemia, penangan yang seharusnya dilakukan ialah menghentikan kegiatan seketika, di samping pengkonsumsian makanan yang mengandung karbohidrat sebesar 15 gram. Sumber makanan yang mengandung 15 gram karbohidrat ialah …
A. setengah cangkir jus jeruk*,
B. setengah potong roti putih,
C. setengah cangkir nasi,
D. setengah kentang masak lumat.

12. Olahraga bukan hanya sekadar berfaedah menipiskan tumpukan lemak di sekitar perut, tetapi juga berkhasiat memperbaiki kepekaan insulin. Namun demikian, tidak semua diabetesi boleh melakukan olahraga kapan saja. Para diabetesi tidak dianjurkan berolah-raga jika kadar gula darah puasa bernilai di atas …
A. 250 mg/dl*,
B. 260 mg/dl,
C. 270 mg/dl,
D. 280 mg/dl.

13. Seorang wanita telah merasa dirinya obes, karena hasil penghitungan BMI-nya telah mencapai bilangan lebih dari 30. Namun demikian, untuk mendiagnosis dirinya telah mengalami sindrom metabolik, ia juga harus memenuhi kriteria berikut (berdasarkan kriteria NCEP/ATP III): …
A. lingkar perut lebih dari 88 cm*,
B. rasio pinggang-panggul 0,9,
C. kadar HDL kurang adari 40 mg/dl,
D. terperiksa mikroalbuminuria.

14. Dislipidemia tidak jarang ditulis sebagai hiperkolesterolemia, atau hiperlipoproteinemia. Seseorang baru boleh disebut dislipidemia manakala rasio kolesterol total dan kolesterol HDL-nya bernilai …
A. 4,5*
B. 4,7
C. 4,9
D. 5,1

15. Pengobatan gizi medis (PGM) merupakan inti konsep penanganan dislipidemia lewat jalur perubahan gaya hidup. Obat baru boleh digunakan jika pendekatan PGM selama 6 bulan tidak membuahkan hasil. Kontribusi serat yang larut (soluble fiber) di dalam menu hendaknya sebesar …
A. minimal 10 gram sehari,
B. minimal 15 gram sehari,
C. minimal 20 gram sehari,
D. minimal 25 gram sehari*.

16. Penderita dislipidemia dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung serat larut (soluble fiber) setidaknya dalam jumlah minimal. Bahan makanan yang paling banyak mengandung soluble fiber di bawah ini ialah …
A. kacang hijau,
B. kacang tanah*,
C. kacang kering,
D. wortel

17. American Heart Association (AHA) mewajibkan pencantuman dietary fiber sebesar 20-30 gram sehari. Dengan kata lain, asupan serat tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil. Asupan serat dinilai tinggi jika besarannya per kilokalori asupan energi total senilai …
A. lebih atau sama dengan 20 gram/kkal*,
B. berkisar antara 10-19,9 gram/kkal,
C. sama dengan 10 gram/kkal,
D. kurang dari 10 gram/kkal.

18. Seorang penderita DM yang disertai dengan dislipidemia dianjurkan untuk mengkonsumsi lebih banyak serat. Agar tujuan ini tercapai, dia diajari untuk memperbanyak makanan tertentu sembari mempersedikit makanan terentu pula. Jenis makanan yang sebaiknya diperbanyak ialah …
A. permen dari buah kelapa*,
B. permen terbuat dari selai,
C. permen dari jelli,
D. permen keras mengandung madu.

19. Asupan polyunsaturated fatty acid (PUFA) bagi penderita dislipidemia dianjurkan paling banyak 10% kalori total. Asam lemak omega 3 dan 6 termasuk ke dalam PUFA. Bahan makanan berikut yang paling banyak mengandung asam lemak omega 6 ialah …
A. minyak bunga matahari*,
B. biji bunga matahari,
C. minyak jagung,
D. biji jagung.

20. Bagi penderita dislipidemia yang dianjurkan untuk mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol, makanan berikut ini sebaiknya dipilih:
A. Kerang.*
B. Bebek peliharaan.
C. Jerohan.
D. Permen coklat susu.

Posted on

VIGNETTE MODEL TO UROGENITAL SYSTEM
(a real good vignette)

A 20-year-old gravida 1, para 1 female presented to the ED complaining of severe right-sided flank pain that began suddenly four hours prior to arrival. Her pain was sharp and constant, radiating to the right lower abdomen with associated nausea and one episode of vomiting. She denied fevers or chills, dysuria, hematuria, constipation or diarrhea. She was currently on her normal menstrual cycle. She denied recent trauma or any personal or family history of kidney stones. She had not previously experienced similar pain.

Physical Examination
General appearance: The patient was a well-nourished, well-hydrated female in moderate discomfort.
Vital signs
Temperature 36.6◦C, pulse 96 beats/minute, blood pressure 109/79 mmHg, respirations 20 breaths/minute, oxygen saturation 98% on room air
Heent: PERRL, EOMI, oropharynx clear with moist mucous membranes.
Neck: Supple.
Cardiovascular: Regular rate and rhythm without rubs, murmurs or gallops.
Lungs: Clear to auscultation bilaterally.
Abdomen: Soft, nontender, nondistended. No costovertebral angle tenderness.
Pelvic: No discharge or bleeding, normal-sized, nontender uterus, os closed, right adnexal mass palpable with mild tenderness.
Neurologic: Nonfocal. Noncontrast CT of the pelvis from a 20-year-old female with right flank pain.

Laboratories
A clean catch urinalysis demonstrated a large amount of blood but was otherwise normal. Her creatinine was within the normal range. A urine pregnancy test was negative.
A peripheral intravenous line was placed, blood was drawn and sent for laboratory testing.

A noncontrast CT of the abdomen and pelvis was obtained.

Emergency treatment
and morphine sulfate, ketorolac, and ZofranR were administered intravenously for pain and nausea, respectively.

Task: what is your diagnosis

Key teaching points
1. Ovarian torsion is a gynecologic emergency requiring prompt diagnosis and emergency surgical treatment.
2. Torsion is the most common complication of dermoid cysts, occurring in approximately 3.5% of cases.
3. The pain of ovarian torsion is proportional to the degree of circulatory compromise; if tor-sion is complete, the pain is acute and severe, typically accompanied by nausea and vomiting.
4. On physical examination, the most consistent finding in patients with ovarian torsion is a palpable mass.
5. Abnormal flow on color Doppler sonography increases the likelihood of identifying torsi-on, but torsion may occur with incomplete vascular obstruction; therefore, evidence of vascu- lar flow does not rule out torsion with certainty.
6. Treatment of a torsed ovary with a dermoid cyst or other abnormality requires detorsion of the ovary and removal of the cyst if the ovary is viable; a nonviable ovary requires removal.

Dicussion
The diagnosis is right ovarian (adnexal) torsion due to a 6-cm dermoid cyst. The noncontrast CT scan of the abdomen and pelvis demonstrated a 6.8 cm × 5.1 cm heterogenous mass lesion with components of soft tissue, calcium and fat in the right para-midline anterior pelvis, suggestive of a dermoid cyst. The pelvic organs appeared otherwise unremarkable. The gynecology service was consulted, and the patient was taken to the OR. During laparoscopy, a 6-cm dermoid cyst was discovered, causing torsion of the right ovary.
The ovary was detorsed and the dermoid cyst was excised from the ovary. The ovary was viable, and the ovarian bed was subsequently cauterized with excellent hemostasis. The patient recovered uneventfully. Pathology identified the cyst as a mature cystic teratoma.

Ovarian torsion resulting from a dermoid cyst
A dermoid (cystic teratoma) is a benign, cystic lesion containing tissue from all three embryonic layers: endoderm, mesoderm and ectoderm. Ovarian dermoids constitute 10–15% of ovarian tumors. They tend to occur in young women during their reproductive years, although they have been reported in prepubertal and elderly patients.1 Ovarian dermoids present with discomfort, pain or pressure symptoms, or when a complication occurs. Torsion is the most common complication of dermoid cysts, occurring in approximately 3.5% of cases.
Cases of dermoid tumors with ovarian torsion presenting as appendicitis or renal colic have been described. Less than 1% of dermoid cysts are malignant. Although ovarian dermoids can be detected by ultrasound, CT or MRI, CT is the best imaging procedure for identifying cystic teratomas of the ovary.
Torsion of the uterine adnexa is a gynecologic emergency, requiring prompt diagnosis and emergency surgical treatment. It can involve the fallopian tube, the ovary or other adnexal structures. Risk factors for ovarian torsion include ovarian enlargement, adnexal masses (including tumors), pregnancy, ovulation induction, and previous pelvic surgery. The most common risk factor associated with torsion is the presence of a dermoid cyst (32%).5 Torsion may also occur in a normal ovary. Although adnexal torsion is generally viewed as uncommon, studies suggest that adnexal torsion is the fifth most common gynecological emergency, representing 2–3% of acute surgical emergencies.
Ovarian torsion results from partial or complete rotation of the ovarian pedicle on its long axis, potentially compromising venous and lymphatic drainage. If the rotation is partial or intermittent, venous and lymphatic congestion and its associated symptoms may subside quickly.6 If rotation of the ovarian pedicle is complete and prolonged, venous and arterial thrombosis may occur, resulting in adnexal infarction.
The pain is proportional to the degree of circulatory compromise from torsion. If torsion is complete, the pain is acute and severe, typically accompanied by nausea and vomiting. However, spontaneous detorsion may occur and the pain will subside. Adnexal torsion is rarely bilateral and is more common on the right side. It is more common in young women, with the greatest incidence in the 20- to 30-year age group.
Physical findings and characteristics of pain in ovarian torsion are variable. The “classic” history of ovarian torsion is theabrupt onset of colicky pain in a lower quadrant, with radiation to the flank or groin, mimicking renal colic. However, only 44% of patients diagnosed with ovarian torsion in one study had such crampy or colicky pain. Additionally, 51% of patients in the same study had radiation of pain to the flank, back or groin. Fifty-nine percent of patients had abrupt onsetof pain, whereas 43% of patients had prior episodes of this pain. The majority of patients in this study had nausea and vomiting (70%) and lower quadrant pain (90%), but these findings mimic many other causes of abdominal pain and are
not specific to ovarian torsion.
On physical examination, the most consistent finding of ovarian torsion is a palpable mass felt 50–80% of the time during pelvic examination.5 Laboratory tests should include a urine or serum β-hCG to rule out ectopic pregnancy and a urinalysis to evaluate for infection or stone. Studies have demonstrated elevated white blood cell counts in 16–38% of cases of ovarian torsion but this finding is nonspecific.6 In cases of suspected ovarian torsion, immediate ultrasound is the investigation of choice; greater than 93% of patients with torsion
will have abnormal ultrasound findings. Ultrasonographic findings depend on the duration of torsion and the degree of ovarian ischemia; the most common finding is ovarian enlargement. In the early stages of ovarian torsion, the ovar is enlarged with prominent peripheral follicles. With prolonged and complete torsion, infarction may appear as cystic, clotted areas on the ovary. Abnormal flow on color Doppler sonography increases the likelihood of identifying torsion, but torsion may occur with incomplete vascular obstruction; therefore, evidence of vascular flow does not rule out torsion with certainty.
Treatment of a torsed ovary with a dermoid cyst or other abnormality requires detorsion of the ovary and removal of the cyst if the ovary is viable; a nonviable ovary must be removed. The procedure can be done by laparoscopy or laparotomy. In the past, oophorec-tomy was considered the standard of care because of concern that untwisting of the adnexa might precipitate pulmonary embolism from a thrombosed vein. Several studies have shown that in the absence of a grossly necrotic ovary, untwisting of the adnexa can be performed and the ovary salvaged without significant risk of thromboembolism. Conversely, hemor-rhagic infarction or a gangrenous adnexal structure requires surgical removal without attempts at detorsion.

Assessment BLOK 11 angkatan 2006

Salah satu (dari 15 butir) tugas assement BLOK 15, KBK angkatan 2006. Sayang sekali, tugas yang telah dikerjakan mahasiswa tidak pernah sampai ke tangan saya. Lebih celaka lagi, tugas ini ternyata tidak dimasukkan dalam komponen penilaian blok. Mubazir, memang.

Kasus 1
Seorang mahasiswa fakultas kedokteran berusia 23 tahun, berjenis kelamin lelaki, dirujuk oleh Pusat Kesehatan Mahasiswa Inderalaya ke Subbagian Ginjal Bagian Ilmu Penyakit Da-lam RSMH Palembang untuk menjalani uji fungsi ginjal. Si mahasiswa tampak amat lemah, mengeluh anoreksia, mengakui tengah disergap edem periorbital serta pedal, dan juga menje-laskan kalau berat badannya mendadak bertambah.
Riwayat penyakit dahulu: menjalani tonsilektomi dan adenoidektomi di usia 7 tahun; infeksi streptokokus di usia 11 tahun, yang berlanjut sebagai glomerulonefritis; patah tulang lengan di usia 14 tahun.
Riwayat keluarga: tidak ada yang sakit seperti ini (orang tua masih hidup dan sehat walafiat).
Riwayat sosial: jomblo (bujangan), bertempat-tinggal di asrama mahasiswa.

Pemeriksaan
Umum: lelaki berwarna kulit agak putih, berat badan 58 kg, tinggi badan 158 cm, tekanan da-rah 128/85 mmg Hg (lengan kanan dan duduk), frekuensi nadi 72 (reguler), frekuansi napas 15, temperatur 37° C.
Khusus: fundus normal, paru bersih, jantung tidak bersuara gallop atau murmur, ekstremitas terperiksa edema pedal +2, tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan selebihnya.
Laboratoris: lihat tabel

Hasil uji laboratoris

BUN (mg/l) 50
Kreatinin serum (mg/dl) 2,2
Penjernihan kreatinin (ml/mt) 40
Natrium serum (mEq/l) 138
Kalium serum (mEq/l) 4,0
Albumin serum (g/l) 2,0
Kalsium serum (mg/dl) 7,3
Fosfat serum (mg/dl) 6,0
pH urin 6,2
Protein urin 24 jam (g) 7,00
BJ urin 1,004
Volume urin (ml/24 jam) 2000
Hb (g/dl) 9,8
Hct (%) 33

Kesan: seorang lelaki berusia 20 tahun, berberat badan normal, pernah mengalami glomeru-lonefritis poststreptococcus, mengidap sindrom nefrotik dengan insufisiensi ginjal.
Rencana: Diet garam 4-6 gram. Furosemide 60 mg setiap hari. Phosphate binder 3 x 500 mg tablet 3 x sehari bersama makanan. Kembali ke RS setelah 1 minggu untuk pengukuran te-kanan darah (TD), pemeriksaan kadar kalium, dan biopsi ginjal.

Tugas
1. Isilah nilai normal dan interpretasi hasil periksa laboratoris pada tabel di atas.
2. Tulis huruf P pada kolum interpretasi, yang menandakan kalau penyakit ginjal telah meng ganggu keseimbangan protein; dan sertakan penjelasan untuk pilihan itu.
3. Jelaskan apakah rencana di atas berarti pembatasan natrium?

Avatar si Penebar Fitnah

Posted on

Seseorang dengan nama sandi Avatar.dum.dum membongkar “masalah internal” bagian Gizi, yang semestinya milik “orang-orang bagian” itu sendiri, ke Blog ini; menurut saya bukan tanpa tujuan. Orang ini tahu persis apa yang tengah terjadi. Orang ini tahu persis kalau Arisman telah mengirim surat protes ke Dekan (PD I) tentang “pencabutan illegal” dirinya dari keanggotaam Blok 6. Orang ini, sesungguhnya amat mudah ditebak siapa, tampak dengan jelas membela Keputusan Kepala Bagian Gizi (selanjutnya disingkat Kabagiz), namun sekaligus menebar fitnah tentang “kebrutalan” arisman. Agar pembaca tidak susah mencari naskah sang pembela itu, berikut saya “kopikan” tulisannya (di bawah Topik “TENTANG SAYA”): …

By: Avatar.dum.dum on Mei 18, 2008 at 1:23 am

Yanti penanggap terakhir blog ini, sekali lagi adalah Arisman yang narsis dengan nama ARS. Internet FK mogok selama berbulan-bulan, maka Arisman kehilangan pekerjaan. Blog ini pun hilang dari peredaran. Arisman datang ke FK jam 7 pagi, lalu nongkrong di sudut-sudut FK. Jam 8 atau jam 9 dia menghilang. Lalu jam 2 sampai jam 5 ada lagi di FK, mondar-mondar, wara wiri, ngobrol sana ngobrol sini.

Man…man…sudahlah Man!!! Cari gawe yang bermanfaat bae. Mbikin blog boleh-boleh saja, tapi bukan untuk mencaci maki orang lain.

Awak jangan sembarang nuduh. Tuduhan awak sama sekali ngawur!!! Dr Syarif tak pernah satu kata pun nulis di blog ini. Dr Syarif membaca, lalu tertawa, dan introspeksi. Tap, untuk nulid, Dr Syarif tak tergerak sedikit pun.

Omongan seperti yang ditulis “Yanti” ini sudah sering awak omong kan, di depan Anatomi, di pos SATPAM, dan di dapur FK, tempat dimano awak menghabiskan jam-jam kerja sepanjang hari. Dan khalayak mencatat omongan ini. Jadi, kalau awak menuliskannya dengan nama Yanti, maka awak sedikit banyak mendeskriditkan Yuk Yanti Biokimia, seorang dosen yang selalu tenang, tak pernah emosi, baik hari dan pintar. Dan khalayak tetap akan tahu bahwa tulisan itu adalah tulisannya Arisman….

Dr Nazly juga tak ada waktu untuk nulis di blog ini. Dr Nazly tetap baik hati. Beliau tetap berusaha membela Arisman, meski Arisman sering ngomong ngelantur dan menyakiti hati….

Awak Man, ngirim surat ke Dekan, berkecil hati karena awak dicoret dari Blok 6. Awak MAn, tak perlu berkecil hati karena dicoret di blok 6, seharusnya awak introspeksi. Ngapo awak dicoret. Karena di setiap blok dimano awak bergabung, maka disana akan terjadi “kerusuhan”. Assignment nak diborog dewek (karena ada honornya…?), SOCA ngenjuk nilai 0, berteriak-teriak skenario jelek, mengintimidasi pegawai-pegawai UPEP, dak galak ngenjuk soal dll. Itu sebagian kenakalan Dr ARisman di dalam blog, yang tentu saja memperkeruh suasana kerja di dalam blog. Wajar saja kalau Dr Nazly “mengistirahatkan” awak dari blog 6. Awak nulis surat ke Dekan, kecewa, mundur. Semua orang bertepuk tangan. Ini kesempatan untuk mengeliminir Dr Arisman dari kegiatan mengajar di FK. Tapi, Dr Nazly tetap berusaha membela Anda, beliau tetap berencana menempatkan Anda di blog-blog berikutnya.

Tak seharusnya Anda mencela Dr Nazly dan Dr Syarif terus menerus. Beliau berdua tetap berniat baik untuk kebaikan Anda dan kebaikan semua.

Man, tayangkan tulisan ini ya….

Biar khalayak ramai membacanya, termasuk mahasiswa yang sekarang semakin intensif meniru Anda, dengan ke kampus memakai sandal dan berkaos oblong.

Sekali lagi, Dr Syarif dan Dr Nazly tidak ada “hard-feeling” dengan awak Man. Beliau berdua baik baik saja. Dan semua orang salut dengan sikap mereka.

DR. Enaldi bukan Sukarno, bukan Hatta, bukan Syahrir. DR Enaldi ya DR Enaldi, yang cerdas dan berwibawa. Semasa hidupnya dia pernah berkata supaya dipanggil “Pak” atau “Dok” saja, tak usah di panggil “Prof”. Dan, beliau juga pernah menyatakan keberatan dipanggil Bung oleh mahasiswa.

“Apa saya ini sama dengan Bung Mamat, yang jual obat di bawah Ampera itu?” begitu kata Dr Enaldi.

TANNGAPAN:
Orang ini jelas dekat dengan Nazly dan Syarif, jika tidak bisa dikatakan memang kedua orang itulah sang Avatar. Simak saja tulisannya: dia menyapa arisman dengan sebutan awak, yang berarti kalau dia itu berusia lebih tua (atau paling tidak sebaya) dengan arisman. Namun demikian, dia masih berusaha menyarukan identitasnya dengan jalan menyebut “Yanti” (yang diposisikannya sebagai dokter Yanti di Bagian Biokimia) dengan sapaan “ayuk”. Dengan menulis seperti ini dia berharap kalau orang (pembaca) akan menebak dia berasal dari kalangan muda di UPEP. Sayang sekali, dia tidak pandai mengendalikan tulisannya. Inilah dampak buruk dari ketidakpandaian membahasakan pikiran (hebatnya orang ini, dan juga komunitasnya yang berbahasa tidak lebih baik dari dirinya, selalu mengklaim diri amat pandari menulis skenario: baca SEKENARIO, alias skenario sekenanya).

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 857 pengikut lainnya.